Ini Alasan Mengapa Kredit Motor/Mobil Termasuk Riba

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

Tanya: Apakah proses jual beli motor secara kredit sebagaimana yang ada pada zaman sekarang ini termasuk dalam praktik ribawi? (085730xxxxxx)

Jawab:

Akad jual beli motor/mobil dengan cara kredit yang ada pada zaman sekarang adalah riba, dari dua sisi:

1. Ada syarat denda pada akad bagi yang menunggak.
Tidak bisa dikatakan boleh dengan alasan dia akan membayarnya tanpa menunggak sehingga tidak terkena denda. Sebab, hal itu adalah akad riba dari asalnya walaupun dengan niat akan melunasinya tanpa denda. Lagi pula, siapa yang bisa memastikan peminjam tidak akan menunggak?

2. Angsuran dibayarkan ke lembaga pembiayaan (leasing) yang menalangi setiap motor/mobil yang dicicil nasabah, bukan ke dealer (penjual).

Hal itu karena motor/mobil yang dikreditkan oleh dealer telah dibayar tunai oleh lembaga pembiayaan tersebut. Artinya, pembeli sebenarnya diutangi secara tidak langsung oleh lembaga pembiayaan tersebut agar bisa membeli motor/mobil yang diinginkan. Lalu pembeli membayar utang itu kepadanya dengan nilai lebih besar (harga cicil). Ini adalah rekayasa riba yang dikenal dengan istilah ‘inah model tiga pihak.

Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah Asy Syariah no. 94/VIII/1434 H/2013, hal. 41-42.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 11/11/2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum, ana pernah baca dulu di majalah annashiah, ana dapat tarik pemahaman bahwa perkara kredit motor itu lebih tepatnya disebut Al-Ijar Al-Muntahi bit tamlik (penyewaan yang berakhir dengan kepemilikan)… tidak tepat pula jika dikatakan sewa beli, lebih tepat disebut kesepakatan sewa hibah jika telah mencapai periode tertentu maka pihak penjual selaku pemilik barang setuju untuk melepas kepemilikannnya berpindah kepemilikan untuk si penyewa.
    Pada Masalah perjanjian akad pihak pemilik dengan penyewa, maka dari awal mula pihak dealer sudah menjelaskan bahwa nanti kita akan disurvai dulu untuk mengetahui layak/tidak kita dikabulkan permohonan ini, pihak dealer tidak ikut campur. dari pihak leasing mereka cukup ketat tidak sembarangan dan tidak mau asal laku. apalagi dengan ketentuan DP yang besar saat ini hanya orang yang memang benar mampu yang mereka pilih. Masalah akad persetujuan setelah disurvai kita minta di dealer di depan motor yang kita pilih mereka juga tidak masalah. Yang ana pahami unsur riba kredit itu adalah masalah denda jika terjadi keterlambatan pembayaran, itu masuk ke riba mudha’afah (melipatgandakan uang).

    Ada dua pendapat dikalangan para ulama tentang hukum jual beli secara taqsith (kredit) :
    Pendapat Pertama : Bolehnya jual beli secara taqsith. Ini adalah pendapat Jumhur Ulama (kebanyakan ulama) dari kalangan shohabat, tabi’in dan para Imam Ahli Ijtihad -termasuk didalamnya para pengikut fiqh empat madzhab-. Bahkan sebahagian ulama menukil kesepakatan para ulama tentang bolehnya hal ini. Jadi yang ana pahami adalah Al-Ijar Al-Muntahi bit tamlik (penyewaan yang berakhir dengan kepemilikan) dalam kredit motor itu terlarang karena adanya kesepakatan diawal bahwa jika telat bayar akan didenda, yang mana denda inilah yang riba, wallahu a’lam

  2. Udah, ke fif syariah aja… InsyaAllah ga riba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: