Bacaan Tasyahud Setelah Nabi Wafat: “Assalaamu’alaika” atau “Assalaamu’alannabiy”?

Pada asalnya bacaan tasyahud dalam shalat yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermacam-macam sehingga hal ini memberikan kelapangan kepada umat beliau untuk memilih di antara bacaan-bacaan tersebut. Meski begitu mungkin yang kita hafal hanya satu atau beberapa saja. Salah satunya adalah tasyahud yang diriwayatkan shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dan ini juga yang paling banyak dibaca kaum muslimin.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajariku tasyahud, dalam telapak tanganku berada di antara dua telapak tangan beliau, sebagaimana beliau mengajariku surat al-Qur’an.” (HR. Al-Bukhari no. 6262 dan Muslim no. 899)

Adapun bacaannya adalah sebagai berikut,

ATTAHIYAATULLILLAAHI WASH SHALAWAATU WATH THAYYIBAAT, ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH, ASSALAAMU ‘ALAINA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN. ASYHADU ALAA ILAAHA ILLALLAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASALUUH.

“Semua salam/keselamatan milik Allah, demikian pula shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala). Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih [1]. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 831 dan Muslim no. 895)

Ini adalah bacaan tasyahud yang paling shahih di antara bacaan-bacaan yang ada menurut para ulama.

Nah pembahasan kita pada artikel kali ini ialah pada kalimat tasyahud yang tercetak tebal di atas, yakni kalimat: ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU.

Sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan dengan,

ASSALAAMU ‘ALANNABIYYI

menggantikan,

ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU

Di antara yang meriwayatkan demikian adalah Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih al-Bukhari (no. 6265) dan selainnya, dengan jalur selain jalur riwayat di atas.

Beliau berkata, “Kami mengatakan saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup,

ASSALAAMU ‘ALAIKA

“Keselamatan atasmu….”

Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, kami mengatakan,

ASSALAAMU ‘ALANNABIYYU

“Keselamatan atas Nabi….”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Menurut tambahan riwayat ini, zahirnya para sahabat mengucapkan,

ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU

dengan huruf kaf yang menunjukkan kata ganti orang kedua (yang diajak bicara) ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah meninggal, mereka menyebutkan dengan lafadz ghaib (kata ganti orang ketiga yang tidak hadir). Mereka mengatakan,

ASSALAAMU ‘ALLANNABIYYU.

(lihat Fathul Bari, 11/48)

Al-Imam al-Albani rahimahullah mengatakan, “Dalam hal ini masalahnya lapang. Sebab, lafadz mana pun yang diucapkan oleh seorang yang shalat, asalkan itu tsabit/pasti dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia telah menepati sunnah.” (al-Ashl, 3/891)

Pendapat Ibnu Utsaimin dalam Masalah Ini

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, “Menurut saya, ini adalah ijtihad Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, ijtihad ini tidak benar dari tiga sisi:

1. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu hadits ini dan tidak mengaitkannya dengan menyatakan, “Selama aku masih hidup (ucapkan begini…).” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam justru memerintahkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu untuk mengajari manusia lafadz seperti ini.

2. Orang yang mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalat tidaklah sama dengan orang yang mengucapkan salam dalam keadaan berhadapan/bertemu, yang saling bertemu ini tidak terjadi lagi setelah wafat beliau (karena itu lafadznya perlu diganti).

Akan tetapi, orang yang mengucapkan salam kepada beliau di dalam shalat hanyalah sebagai bentuk doa, bukan salam karena mengajak bicara.

3. Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengajari tasyahud kepada manusia dalam posisi beliau sebagai khalifah di atas mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafadz,

ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU

Hal ini disaksikan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan dalam keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat. Namun, tidak ada seorang pun yang mengingkari lafadz yang diajarkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu. Di samping itu, tidak diragukan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu lebih berilmu dan lebih faqih daripada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Jika di antara kalian ada muhaddatsun [2], dia adalah Umar.”

(Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarh Bulughil Maram, 3/394)

Dalam fatwa al-Lajnah ad-Daimah dinyatakan, “Yang benar, seorang yang shalat mengucapkan dalam tasyahudnya,

ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH

Sebab, inilah yang tsabit dalam hadits-hadits. Adapun riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam masalah tasyahud, jika memang haditsnya shahih, hal itu merupakan ijtihad dari pelakunya yang tidak bisa dipertentangkan dengan hadits-hadits yang tsabit. Seandainya hukumnya berbeda antara semasa hidup Rasulullah dan sepeninggal beliau, niscaya beliau akan menerangkannya kepada mereka.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 7/10-11)

Footnote:
[1] FAIDAH: Apabila doa ini dibaca, semua hamba yang shalih, baik yang di langit maupun di bumi memperolehnya. Demikian kabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

“Jika kalian mengucapkannya, terliputilah seluruh hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 831 dan Muslim no. 895)

[2] Muhaddatsun adalah orang-orang yang diberi ilham, yaitu seorang yang terbetik di hatinya sesuatu lalu dia memberitakannya sebagai firasat. (An-Nihayah fi Gharibil hadits, hal. 189)

Referensi: Majalah Asy Syariah no. 94/VIII/1434 H/2013, dalam artikel “Bacaan-Bacaan Tasyahud” oleh al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari, hal. 68-70.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 15/11/2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Asalam,.
    Jadi kesimpulanya mas fadhl ihsan lebih baik qt membaca yg mana pasa saat tasyahud..
    Apaka asalamu alaika atau asalamu’alannabyy..
    Saya sendri pada setiap sholat membaca asalamu’alannabyy dst..

  2. Assalamu’alaikum warahmatullah
    Syaikh al albani didalam buku “shifatu shalati ‘n-nabi saw” menyebutkan penggantian assalamu’alaika… dst dengan assalamu’alannabiyy…dst nya “mauquf” dari nabi saw. Dikuatkan oleh a’isyah yg mengajarkan tasyahud dlm shalat yakni assalamu’alannabiyy….dst . Diriwayatkan oleh as-siraj didalam musnadnya(jilid 9/1/2 dan al mukhlish di dlm al-fawa’I’d (jilid 11/54/1) dgn dua sanad shahih dari a’isyah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: