Tuntunan Syariat Bagi Tukang Rias

Berhias dan mempercantik diri merupakan fitrah kaum wanita. Bahkan pada beberapa keadaan akan membuahkan pahala, seperti berhiasnya seorang istri untuk suaminya. Namun terkadang seorang wanita tidak bisa berdandan sendiri, terkhusus pada saat-saat spesial yang dia butuh berhias dengan prima, seperti di hari pernikahannya, saat akan dipertemukan dengan mempelai pasangannya. Saat itu tidak apa-apa si wanita dibantu oleh wanita lain yang mendandaninya. Inilah pekerjaan yang biasa digeluti oleh tukang rias.

Lantas, apa hukumnya wanita bekerja sebagai tukang rias?

Selama tidak ada pelanggaran syariat, tidak ada larangan untuk mengerjakan suatu pekerjaan karena hukum asal sesuatu itu halal atau mubah.

Ada beberapa atsar yang menunjukkan bahwa pekerjaan tukang rias telah dilakukan oleh wanita terdahulu.

– Aminah bintu Affan radhiyallahu ‘anha, saudari Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, adalah seorang penata rambut. (al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, 8/5)

– Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anha, merias Shafiyah bintu Huyai radhiyallahu ‘anha untuk dipertemukan dengan suaminya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyisiri rambutnya dan mewangikannya. (Sirah Ibni Katsir, 3/401)

Dua atsar di atas menunjukkan:

1. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan pekerjaan merias dilakukan wanita.

2. Pekerjaan merias ini telah ada di masa salaf tanpa ada pengingkaran.

Namun, ada ketentuan khusus yang perlu diperhatikan oleh wanita yang bekerja di bidang ini, selain syarat-syarat syar’i di saat dia keluar rumahnya. Ketentuan yang dimaksud adalah berikut ini:

1. Dia tidak boleh mencabut rambut alis wanita yang diriasnya, tidak boleh menyambung rambut, dan tidak pula mengikir gigi wanita yang diriasnya.

Sebab, ada hadits yang disampaikan oleh Alqamah yang artinya,

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melaknat perempuan yang mentato dan minta ditato, perempuan yang mencabut rambut pada wajahnya (alisnya), perempuan yang minta dicabut rambut pada wajahnya (alisnya) dan perempuan yang mengikir giginya agar terlihat bagus, perempuan-perempuan yang mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika ucapan ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini sampai kepada Ummu Ya’qub, seorang perempuan dari bani Asad yang biasa membaca al-Qur’an, ia mendatangi ‘Abdullah seraya berkata, “Sampai kepadaku berita tentangmu yang melaknat para perempuan yang mentato dan minta di tato, perempuan yang mencabut rambut wajah/alis, perempuan yang minta dicabut rambut wajah/alisnya dan perempuan yang mengikir giginya agar terlihat bagus, perempuan-perempuan yang mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

‘Abdullah menjawab, “Mengapa aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal ini ada dalam Kitabullah?!”

“Demi Allah, aku telah membaca lembaran-lembaran al-Qur’an, namun aku tidak mendapatkan laknat yang engkau sebutkan,” kata Ummu Ya’qub.

‘Abdullah menimpali, “Demi Allah, apabila engkau membacanya, niscaya engkau akan mendapatkannya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

‘Apa yang dibawa oleh Rasulullah untuk kalian, ambillah; dan apa yang beliau larang, tinggalkanlah!’ (HR. Al-Bukhari dan Muslim).”

2. Tidak boleh melihat aurat wanita yang diriasnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, demikian pula wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain.” (HR. Muslim)

3. Saat merias, tidak boleh menggunakan kosmetik yang tidak diperkenankan oleh syariat.

Misalnya, kosmetik yang terbuat dari bahan yang haram atau yang bermudarat bagi kulit. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidak boleh memudaratkan (orang lain) dan tidak boleh saling memudaratkan.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan shahih dalam ash-Shahihah no. 205, al-Irwa’ no. 896)

4. Tidak boleh menceritakan kecantikan atau ciri-ciri wanita yang diriasnya kepada suaminya atau laki-laki lain yang bukan mahram dari wanita yang diriasnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu menyebutkan sifat-sifat wanita lain tersebut kepada suaminya seakan-akan suaminya melihat si wanita.” (HR. Al-Bukhari)

5. Dia tidak boleh merias dengan gaya riasan, tata busana, dan tatanan rambut khas wanita kafir atau fasik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang perbuatan meniru/menyerupai orang-orang kafir dalam sabda beliau,

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” (HR. Ahmad dll, dinyatakan hasan sanadnya dalam Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 203)

6. Sebelum dia menyetujui merias seorang wanita, yang mungkin menjadi pengantin, hendaklah dia memastikan bahwa riasan itu nanti hanya dilihat oleh suami si pengantin wanita, sesama wanita, atau lelaki mahramnya.

Apabila si pengantin nanti dipajang hingga bisa ditonton oleh lelaki ajnabi (asing), si tukang rias tidak boleh menerima permintaan untuk merias pengantin tersebut. Sebab, jika demikian, dia telah ta’awun atau bekerja sama dan tolong-menolong dalam dosa dan maksiat, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan,

“Janganlah kalian tolong-menolong dalam perkara dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Demikianlah beberapa tuntunan syariat yang harus diperhatikan oleh mereka yang bekerja sebagai tukang rias. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi: Majalah Asy Syariah no. 95/VIII/1434 H/2013, dalam artikel “Masih Tentang Wanita Bekerja” oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah, hal. 88-91.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 29/11/2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: