Hukum Wanita Berprofesi Pedagang

Pertanyaan: Apa hukum seorang wanita berprofesi sebagai pedagang, entah dia melakukan hal itu pada kondisi safar atau pada kondisi mukim?

Jawab:

Hukum asalnya adalah boleh mencari nafkah atau melakukan perdagangan bagi laki-laki maupun wanita, baik dalam kondisi safar maupun mukim; dengan dalil keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)

Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya: “Pekerjaan apakah yang paling utama?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab:

“Usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan tangannya sendiri, dan setiap jual beli yang mabrur (tidak mengandung unsur penipuan dan khianat).” [1]

Dan di awal-awal Islam dahulu, kaum wanita melakukan jual beli dengan penuh etika kesopanan dan memelihara diri agar tidak menampakkan perhiasannya, namun jika perdgangan yang dilakukan wanita tersebut sampai membuatnya menyingkap perhiasannya sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala larang, seperti menyingkap wajah, atau safar yang dilakukan wanita tersebut tidak disertai mahramnya, atau ia sampai berikhtilath dengan kaum laki-laki yang bukan mahramnya serta dikhawatirkan terjadi fitnah, maka tidak boleh bagi wanita tadi melakukan perdagangan tersebut, bahkan wajib untuk melarangnya; karena wanita yang mengerjakan jual beli semacam itu hukumnya haram, sedangkan tujuan perdagangan yang dilakukannya tadi statusnya mubah.

Wa billahit tawfiq, wa sallama ‘ala Nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.

Fatawa Lajnah Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiah wal Ifta’ no. 2761

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz

Wakil Ketua: Abdurrazaaq ‘Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayaan, Abdullah bin Qa’ud

Footnote:
[1] Dikeluarkan oleh Ahmad (3/466, 4/141), Al-Hakim (2/10), Ath-Thabrani di dalam Al-Kabir (4/277) no. 1144, (22/197, 198) no. 519, 520, dan di dalam Al-Awsath (2/332, 8/47), no. 2140, 7918 cet. Daarul Haramain, Al-Bazaar di dalam Kasyful Astaar (2/83) no. 1257, 1258, Al-Baihaqi 5/263.

Sumber: Majalah Bisnis Muslim edisi 03/Tahun II, hal. 35.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 10/01/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: