Mengapa Kita Dilarang Meminta Diruqyah Orang Lain?

Pertanyaan :
Mengapa orang yang meminta diruqyah oleh orang lain tidak termasuk dari 70.000 orang yang masuk surga tanpa dihisab ? Apakah salah untuk meminta seseorang untuk melakukan ruqyah untuk kita ? Saya punya masalah yang benar-benar membuat saya menderita dan tidak nyaman, tetapi saya tidak merasa saya memiliki kesabaran atau keterampilan untuk melakukan ruqyah terhadap diri sendiri, telah kucoba melakukan ruqyah, namun karena efek penyakit ini, akhirnya membuatku kesulitan melakukan ruqyah, lalu berhenti di tengah jalan. Lantas bagaimana solusinya ?

Jawaban :
Pertanyaan ini telah banyak ditanyakan kepada assatidz dan ulama. Kebanyakan dari para penanya adalah mereka yang takut tidak termasuk dari golongan orang – orang yang masuk surga tanpa hisab dan azab. Lantas bagaimanakah sebenarnya hukum dalam masalah ini, apakah diperbolehkan meminta diruqyah, makruh, atau haram..?? Mari kita simak pembahasannya…


Dari Hushain bin Abdurrahman berkata: “Ketika saya berada di dekat Sa’id bin Jubair, dia berkata: “Siapakah diantara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?” Saya menjawab: “Saya.” Kemudian saya berkata: “Adapun saya ketika itu tidak dalam keadaan sholat, tetapi terkena sengatan kalajengking.” Lalu ia bertanya: “Lalu apa yang anda kerjakan?” Saya menjawab: “Saya minta diruqyah, ” Ia bertanya lagi: “Apa yang mendorong anda melakukan hal tersebut?”Jawabku: “Sebuah hadits yang dituturkan Asy-Sya’bi kepada kami.” Ia bertanya lagi: “Apakah hadits yang dituturkan oleh Asy-Sya’bi kepada anda?” Saya katakan: “Dia menuturkan hadits dari Buraidah bin Hushaib: ‘Tidak ada ruqyah kecuali karena ‘ain atau terkena sengatan.'”

“Sa’id pun berkata: “Alangkah baiknya orang yang beramal sesuai dengan nash yang telah didengarnya, akan tetapi Ibnu Abbas radhiyallâhu’anhu menuturkan kepada kami hadits dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, Beliau bersabda: ‘Saya telah diperlihatkan beberapa umat oleh Allâh, lalu saya melihat seorang Nabi bersama beberapa orang, seorang Nabi bersama seorang dan dua orang dan seorang Nabi sendiri, tidak seorangpun menyertainya. Tiba-tiba ditampakkan kepada saya sekelompok orang yang sangat banyak. Lalu saya mengira mereka itu umatku, tetapi disampaikan kepada saya: “Itu adalah Musa dan kaumnya”. Lalu tiba-tiba saya melihat lagi sejumlah besar orang, dan disampaikan kepada saya: “Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang, mereka akan masuk surga tanpa hisab dan adzab.”.’Kemudian Beliau bangkit dan masuk rumah. Orang-orang pun saling berbicara satu dengan yang lainnya, ‘Siapakah gerangan mereka itu?’ Ada diantara mereka yang mengatakan: ‘Mungkin saja mereka itu sahabat Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.’ Ada lagi yang mengatakan: ‘Mungkin saja mereka orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam dan tidak pernah berbuat syirik terhadap Allâh.’ dan menyebutkan yang lainnya. Ketika Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam keluar, mereka memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Beliau bersabda: ‘Mereka itu adalah orang yang tidak pernah minta diruqyah, tidak meminta di kay ( menyembuhkan luka atau perdarahan dengan ditempelkan besi panas pada lukanya) dan tidak pernah melakukan tathayyur ( menyandarkan nasib pada pertanda – pertanda) serta mereka bertawakkal kepada Rabb mereka. ‘Lalu Ukasyah bin Mihshon berdiri dan berkata: “Mohonkanlah kepada Allâh, mudah-mudahan saya termasuk golongan mereka!’ Beliau menjawab: ‘Engkau termasuk mereka’, Kemudian berdirilah seorang yang lain dan berkata:’Mohonlah kepada Allâh, mudah-mudahan saya termasuk golongan mereka!’ Beliau menjawab:’Kamu sudah didahului Ukasyah.’.”

Dari Hadist di atas diketahui bahwa adalah lebih baik tidak meminta diruqyah pada orang lain karena akan mengurangi sifat tawakkal mereka pada Allah, sebagaimana dalam hadist di atas”….. serta mereka bertawakkal kepada Rabb mereka.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Dan yang dimaksud sifat golongan yang termasuk 70 ribu itu adalah tidak meruqyah karena kesempurnaan tawakkal mereka kepada Allâh dan tidak meminta kepada selain mereka untuk meruqyahnya serta tidak pula minta di kay.”

Perbedaan mendasar antara peruqyah dengan yang diruqyah adalah orang yang meminta diruqyah hatinya sedikit berpaling dari sifat tawakkal pada Allah, sedangkan peruqyah adalah mereka yang berbuat kebaikan.

Sebagaimana Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam pernah ditanya tentang ruqyah, lalu beliau menjawab:

“Barangsiapa diantara kalian mampu memberi manfaat kepada saudaranya, maka berilah padanya manfaat” dan bersabda: “Boleh menggunakan ruqyah selama tidak terjadi kesyirikan padanya.”

Syekh Ibnu Baz pernah berkomentar terhadap hadist pertama di atas, beliau berkata :

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak meminta diruqyah adalah lebih baik , juga tidak menggunakan kay juga adalah lebih baik , tetapi ketika ada kebutuhan untuk itu , tidak ada yang salah dengan meminta ruqyah atau menggunakan kay , karena Nabi Shallalahu` alaihi wassallam menyuruh ‘Aisyah untuk meminta diruqyah terhadap penyakit yang menimpa dirinya , dan Rasulullah juga memerintahkan ibu dari anak-anak Ja’far bin Abi Thalib rhadiallahu`anhu , Asma ‘ binti Umays ‘ rhadiallahu `anha , untuk mencari ruqyah bagi mereka . Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada yang salah dengan meminta diruqyah ketika ada kebutuhan untuk itu .

Hal ini juga senada dengan hadist Rasullullah bahwa, “Boleh menggunakan ruqyah selama tidak terjadi kesyirikan padanya.”

Jadi, dalam masalah yang dikemukakan oleh penanya di atas, maka alangkah baiknya dia tetap berusaha untuk mengobati penyakitnya dengan sebab – sebab kesembuhan yang telah disyariatkan, seandainya ia bisa melakukan ruqyah mandiri, maka itu lebih baik, namun, jika ia tidak mampu dan mengharuskan dia meminta diruqyah, maka tidak ada cela baginya , sebagaimana dijelaskan dalam shahihain dari Abu Hurairah radhiAllâhu’anhu secara marfu’.

”Tidaklah Allâh menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan obat untuknya, mengetahui obat itu orang yang mengetahuinya dan tidak tahu obat itu bagi orang yang tidak mengetahuinya.”

Dari Usamah bin Syarik dia berkata: Suatu ketika saya di sisi Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam , datanglah orang Badui dan mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami saling mengobati?”

Beliau menjawab: “Ya, wahai hamba-hamba Allâh saling mengobatilah, sesungguhnya Ta’ala tidaklah menimpakan sesuatu kecuali Dia telah meletakkan obat baginya, kecuali satu penyakit saja, yaitu pikun.” [HR. Ahmad]

Dan, nasihat bagi kita semua, adalah sangat banyak jalan yang dapat ditempuh untuk masuk surga, mulai dari berbakti pada orang tua, bersedekah, sholat, puasa, ataupun zakat, bukankah Rasulullah pernah bersabda tentang orang yang masuk surga hanya karena mengambil ranting di jalan dengan niat agar ranting itu tidak mengganggu perjalanan kaum muslimin..??? Renungkanlah…!!!!

Sumber: http://quranic-healing.blogspot.com/2013/10/sebuah-kontroversi-hati-bolehkah.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 16/01/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Apakah mendengarkan ayat2 ruqyah dr kaset ruqyah itu termasuk memintakan diruqyah?.

  2. Bismillah,
    Bertaqwalah kepada Allah dan hapuslah tulisanmu. Engkau layak bertanya pada hatimu “Apa yang engkau harapkan dari tulisanmu”.

    [ Semoga bermanfaat ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: