Kisah-Kisah Mencengangkan Para Ulama Menuntut Ilmu [Bag. 2]

Bersusah Payah dan Berletih-letih Menuntut Ilmu

Para ulama sering menyebutkan hal ini salah satunya adalah Yahya bin Abi Katsir rahimahullah, beliau berkata,

ﻭﻻ ﻳﺴﺘﻄﺎﻉ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺮﺍﺣﺔ ﺍﻟﺠﺴﺪ

“Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh).” [1]

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

ﻻ ﻳﻄﻠﺐ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﻳﻄﻠﺒﻪ ﺑﺎﻟﺘﻤﻠﻞ‎ ‎ﻭﻏﻨﻰ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻓﻴﻔﻠﺢ، ﻭﻟﻜﻦ ﻣﻦ ﻃﻠﺒﻪ‎ ‎ﺑﺬﻟﺔ ﺍﻟﻨﻔﺲ، ﻭﺿﻴﻖ ﺍﻟﻌﻴﺶ، ﻭﺧﺪﻣﺔ‎ ‎ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﺃﻓﻠﺢ

“Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanya kemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.” [2]

Abu ‘Amr bin Ash-Shalah menceritakan biografi Imam Muslim rahimahullah, beliau berkata,

ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻟﻤَﻮْﺗﻪ ﺳَﺒَﺐ ﻏَﺮِﻳﺐ ﻧَﺸﺄ ﻋَﻦ ﻏﻤﺮﺓ‎ ‎ﻓﻜﺮﻳﺔ ﻋﻠﻤﻴﺔ

“Tentang sebab wafatnya (imam muslim) adalah suatu yang aneh, timbul karena kepedihan/kesusahan hidup dalam ilmu.” [3]

Yahya Abu zakaria berkata,

ﻭﺫﻛﺮ ﻟﻲ ﻋﻤﻲ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ: ﻗﻔﻠﺖ ﻣﻦ‎ ‎ﺧﺮﺍﺳﺎﻥ ﻭﻣﻌﻲ ﻋﺸﺮﻭﻥ ﻭﻗﺮﺍ ﻣﻦ‎ ‎ﺍﻟﻜﺘﺐ، ﻓﻨﺰﻟﺖ ﻋﻨﺪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺒﺌﺮ -ﻳﻌﻨﻲ: ﺑﺌﺮ‎ ‎ﻣﺠﻨﺔ- ﻓﻨﺰﻟﺖ ﻋﻨﺪﻩ ﺍﻗﺘﺪﺍﺀ ﺑﺎﻟﻮﺍﻟﺪ

“Pamanku Ubaidillah bercerita kepadaku, “Aku kembali dari Khurasan dan bersamaku ada 20 beban berat yang berisikan buku-buku. Aku singgah di sebuah sumur –yaitu sumur Majannah- aku lakukan karena mencontoh ayahku.” [4]

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

ﻣﺎ ﺃﻓﻠﺢ ﻓﻰ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺇﻻ ﻣﻦ ﻃﻠﺒﻪ ﻓﻰ‎ ‎ﺍﻟﻘﻠﺔ، ﻭﻟﻘﺪ ﻛﻨﺖ ﺃﻃﻠﺐ ﺍﻟﻘﺮﻃﺎﺱ‎ ‎ﻓﻴﻌﺴﺮ ﻋﻠﻰَّ. ﻭﻗﺎﻝ: ﻻ ﻳﻄﻠﺐ ﺃﺣﺪ ﻫﺬﺍ‎ ‎ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﻤﻠﻚ ﻭﻋﺰ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻓﻴﻔﻠﺢ

“Tidak akan beruntung orang yang menuntut ilmu, kecuali orang yang menuntutnya dalam keadaan serba kekurangan. Aku dahulu mencari sehelai kertaspun sangat sulit. Tidak mungkin seseorang menuntut ilmu dengan keadaan serba ada dan harga diri yang tinggi kemudian ia beruntung.” [5]

Maka bandingkanlah dengan upaya kita menuntut ilmu sekarang?

Menahan Lapar

Abdurrahman bin Abu Zur’ah berkata, saya mendengar ayahku berkata,

ﺑﻘﻴﺖ ﺑﺎﻟﺒﺼﺮﺓ ﻓﻲ ﺳﻨﺔ ﺃﺭﺑﻊ ﻋﺸﺮﺓ‎ ‎ﻭﻣﺎﺋﺘﻴﻦ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ ﺃﺷﻬﺮ ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻲ‎ ‎ﺃﻥ ﺃﻗﻴﻢ ﺳﻨﺔ ﻓﺎﻧﻘﻄﻊ ﻧﻔﻘﺘﻲ ﻓﺠﻌﻠﺖ‎ ‎ﺃﺑﻴﻊ ﺛﻴﺎﺏ ﺑﺪﻧﻲ ﺷﻴﺌﺎ ﺑﻌﺪ ﺷﻲﺀ ﺣﺘﻰ‎ ‎ﺑﻘﻴﺖ ﺑﻼ ﻧﻔﻘﺔ ﻭﻣﻀﻴﺖ ﺃﻃﻮﻑ ﻣﻊ‎ ‎ﺻﺪﻳﻖ ﻟﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺸﻴﺨﺔ ﻭﺃﺳﻤﻊ ﻣﻨﻬﻢ‎ ‎ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺴﺎﺀ ﻓﺎﻧﺼﺮﻑ ﺭﻓﻴﻘﻲ ﻭﺭﺟﻌﺖ‎ ‎ﺇﻟﻰ ﺑﻴﺖ ﺧﺎﻝ ﻓﺠﻌﻠﺖ ﺃﺷﺮﺏ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻣﻦ‎ ‎ﺍﻟﺠﻮﻉ ﺛﻢ ﺃﺻﺒﺤﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﺪ ﻭﻏﺪﺍ ﻋﻠﻲ‎ ‎ﺭﻓﻴﻘﻲ ﻓﺠﻌﻠﺖ ﺃﻃﻮﻑ ﻣﻌﻪ ﻓﻲ ﺳﻤﺎﻉ‎ ‎ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﻉ ﺷﺪﻳﺪ ﻓﺎﻧﺼﺮﻑ ﻋﻨﻲ‎ ‎ﻭﺍﻧﺼﺮﻓﺖ ﺟﺎﺋﻌﺎ ﻓﻠﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﺪ ﻏﺪﺍ‎ ‎ﻋﻠﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﺮ ﺑﻨﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺸﺎﻳﺦ ﻗﻠﺖ ﺃﻧﺎ‎ ‎ﺿﻌﻴﻒ ﻻ ﻳﻤﻜﻨﻨﻲ ﻗﺎﻝ ﻣﺎ ﺿﻌﻔﻚ ﻗﻠﺖ‎ ‎ﻻ ﺃﻛﺘﻤﻚ ﺃﻣﺮﻱ ﻗﺪ ﻣﻀﻰ ﻳﻮﻣﺎﻥ ﻣﺎ‎ ‎ﻃﻌﻤﺖ ﻓﻴﻬﻤﺎ

“Aku menetap di Bashrah pada tahun 214 Hijriyah. Sebenarnya aku ingin menetap di sana selama setahun. Namun perbekalanku telah habis dan terpaksa aku menjual bajuku helai demi helai, sampai akhirnya aku tidak punya apa-apa lagi. Tapi aku terus pergi bersama teman-temanku kepada para syaikh dan aku belajar kepada mereka hingga sore hari. Ketika teman-temanku telah pulang, aku pulang ke rumahku dengan tangan hampa dan cuma minum air untuk mengurangi rasa laparku. Keesokan harinya teman-temanku datang dan aku pergi belajar bersama mereka untuk mendengar hadits dengan menahan rasa lapar yang sangat. Keesokan harinya lagi
mereka datang lagi dan mengajakku pergi. Aku berkata, “Aku sangat lemah dan tidak bisa pergi.” Merek berkata, “Apa yang membuatmu lemah?” Aku berkata, “Tidak mungkin aku sembunyikan dari kalian, aku belum makan apa-apa sejak dua hari yang lalu.” [6]

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah berkata,

ﻭﻛﻨﺖ ﺃﻗﺘﺎﺕ ﺑﺨﺮﻧﻮﺏ ﺍﻟﺸﻮﻙ، ﻭﻗﻤﺎﻣﺔ‎ ‎ﺍﻟﺒﻘﻞ، ﻭﻭﺭﻕ ﺍﻟﺨﺲ ﻣﻦ ﺟﺎﻧﺐ ﺍﻟﻨﻬﺮ‎ ‎ﻭﺍﻟﺸﻂ، ﻭﺑﻠﻐﺖ ﺍﻟﻀﺎﺋﻘﺔ ﻓﻲ ﻏﻼﺀ ﻧﺰﻝ‎ ‎ﺑﺒﻐﺪﺍﺩ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺑﻘﻴﺖ ﺃﻳﺎﻣﺎ ﻟﻢ ﺁﻛﻞ ﻓﻴﻬﺎ‎ ‎ﻃﻌﺎﻣﺎ، ﺑﻞ ﻛﻨﺖ ﺃﺗﺘﺒﻊ ﺍﻟﻤﻨﺒﻮﺫﺍﺕ ﺃﻃﻌﻤﻬﺎ،‏‎ ‎ﻓﺨﺮﺟﺖ ﻳﻮﻣﺎ ﻣﻦ ﺷﺪﺓ ﺍﻟﺠﻮﻉ ﺇﻟﻰ‎ ‎ﺍﻟﺸﻂ ﻟﻌﻠﻲ ﺃﺟﺪ ﻭﺭﻕ ﺍﻟﺨﺲ ﺃﻭ ﺍﻟﺒﻘﻞ،‏‎ ‎ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻓﺄﺗﻘﻮﺕ ﺑﻪ. ﻓﻤﺎ ﺫﻫﺒﺖ ﺇﻟﻰ‎ ‎ﻣﻮﺿﻊ ﺇﻻ ﻭﻏﻴﺮﻱ ﻗﺪ ﺳﺒﻘﻨﻲ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﺇﻥ‎ ‎ﻭﺟﺪﺕ ﺃﺟﺪ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀﻳﺘﺰﺍﺣﻤﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ‎ ‎ﻓﺄﺗﺮﻛﻪ ﺣﺒﺎ

“Aku memunguti selada, sisa-sisa sayuran dan daun carob dari tepi kali dan sungai. Kesulitan yang menimpaku karena melambungnya harga yang terjadi di Baghdad membuatku tidak makan selama berhari-hari. Aku hanya bisa memunguti sisa-sisa makanan yang terbuang untuk kumakan.

Suatu hari, karena saking laparnya, aku pergi ke sungai dengan harapan mendapatkan daun carob, sayuran, atau selainnya yang bisa kumakan. Tidaklah aku mendatangi suatu tempat melainkan ada orang lain yang telah mendahuluinya. Ketika aku mendapatkannya, maka aku melihat orang-orang miskin itu memperebutkannya. Maka, aku pun membiarkannya, karena mereka lebih membutuhkan.” [7]

Ibrahim bin Ya’qub berkata,

ﻛﺎﻥ ﺃَﺣْﻤَﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﻌﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ‎ ‎ﻓﺴﻬﺎ ﻳﻮﻣﺎ ﻓِﻲ ﺻﻼﺗﻪ ﻓﺴﺄﻟﻪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ‎ ‎ﻓﺄﺧﺒﺮﻩ ﺃﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻄﻌﻢ ﺷﻴﺌًﺎ ﻣﻨﺬ ﺛﻼﺙ

“Imam Ahmad bin Hambal shalat bersama Abdurrazzaq. Suatu hari ia lupa dalam shalatnya. Maka Abdurrazzaq bertanya mengapa ia bisa lupa. Dia (Imam Ahmad) memberitahu bahwa ia belum makan apa-apa sejak tiga hari yang lalu.” [8]

Sufyan bin ‘uyainah berkata,

ﺟَﺎﻉَ ﺳُﻔْﻴَﺎﻥُ ﺍﻟﺜَّﻮْﺭِﻱُّ ﺟُﻮﻋًﺎ ﺷَﺪِﻳﺪًﺍ ﻣَﻜَﺚَ‏‎ ‎ﺛَﻠَﺎﺛَﺔَ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﻛُﻞُ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻓَﻤَﺮَّ ﺑِﺪَﺍﺭٍ ﻓِﻴﻬَﺎ‎ ‎ﻋُﺮْﺱٌ ﻓَﺪَﻋَﺘْﻪُ ﻧَﻔْﺴُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﺪْﺧُﻞَ‏‎ ‎ﻓَﻌَﺼَﻤَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﻣَﻀَﻰ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﻨْﺰِﻝِ ﺍﺑْﻨَﺘِﻪِ‏‎ ‎ﻓَﺄَﺗَﺘْﻪُ ﺑِﻘُﺮْﺹٍ ﻓَﺄَﻛَﻠَﻪُ ﻭَﺷَﺮِﺏَ ﻣَﺎﺀً ﻓَﺘَﺠَﺸَّﻰ

“Sufyan Ats-Tsauri pernah merasa sangat lapar. Sudah tiga hari ia tidak makan apapun. Ketika melewati sebuah rumah yang ada pesta di dalamnya. Dia terdorong ingin datang ke sana namun Allah menjaganya (karena haram hukumnya datang jika tidak diundang –pent), akhirnya ia menuju ke rumah putrinya. Putrinya menyuguhkan roti yang bulat pipih, kemudian ia memakannya dan meminum air hingga bersendahawa.” [9]

BERSAMBUNG INSYAALLAH…

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi I/348 no. 553, Darul Ibnu Jauzi, cet. I, 1414 H, syamilah.

[2] Tadribur Rawi 2/584, Darut Thayyibah, Syamilah.

[3] Shiyanah Shahih Muslim hal. 62, Darul Gharbil Islamiy, Beirut, cet. II, 1408 H, Syamilah.

[4] Siyar A’lam An-Nubala 12/503 Darul Hadits, koiro, 1427 H, syamilah.

[5] Tahdzib Al-Asma’ wa Al-Lughat hal. 54, Darul Kutub ‘Ilmiyah, Beirut, Syamilah.

[6]

[7] Dzail Thabaqat Hanabilah 2/203-204, Maktabah Abikan, Riyadh, 1425 H, Syamilah.

[8] Thabaqat Al-Hanabilah hal. 99, Darul Ma’rifah, Beirut, Syamilah.

[9] Hilyatul Aulia’ 6/373, Darul Kitab Al-‘Arabiy, Beirut, Syamilah.

Sumber: http://muslimafiyah.com/kisah-kisah-mencengangkan-para-ulama-menuntut-ilmu-bagian-kedua.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 24/06/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: