Kisah-Kisah Mencengangkan Para Ulama Menuntut Ilmu [Bag. 3]

Mengorbankan Harta yang Tidak sedikit

Pununtut ilmu agama harus siap jauh dari dunia dan ketenarannya, hidup sederhana dan bisa jadi mereka adalah orang yang miskin karena mengorbankan harta mereka.

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,

ﻻ ﻳﺒﻠﻎ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻣﺎ ﻳﺮﻳﺪ ﺣﺘﻰ‎ ‎ﻳﻀﺮﺑﻪ ﺍﻟﻔﻘﺮ ﻭﻳﺆﺛﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺷﺊ

“Seseorang tidak akan mencapai ilmu ini sesuai dengan apa yang diharapkan sehingga ia menjadi fakir dan berpengaruh kepada semuanya.” [1]

Yang cukup terkenal adalah kisah ulama menuntut ilmu sampai-sampai harus menjual atap rumah mereka. Ibnu Al-Qasim berkata,

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ: ﺃﻓﻀﻰ ﺑﻤﺎﻟﻚ ﻃﻠﺐ‎ ‎ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻧﻘﺾ ﺳﻘﻒ ﺑﻴﺘﻪ ﻓﺒﺎﻉ‎ ‎ﺧﺸﺒﻪ، ﺛﻢ ﻣﺎﻟﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ

“Mencari ilmu juga menyebabkan Imam Malik membongkar atap rumahnya dan menjual kayunya. Kemudian setelah itu dunia berdatangan kepadanya.” [2]

Al-Khatib al-Baghdadi membawakan riwayat,

ﺃﻧﻔﻖ ﺍﺑﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﻋﻠﻰ ﺇﺧﻮﺍﻧﻪ ﺃﺭﺑﻊ ﻣﺎﺋﺔ‎ ‎ﺃﻟﻒ ﺩﻳﻨﺎﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ، ﺣﺘﻰ ﺍﻟﺘﺠﺄ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ‎ ‎ﺑﺎﻉ ﺳﻘﻒ ﺑﻴﺘﻪ

“Ibnu Aisyah membelanjakan harta untuk saudara-saudaranya sebanyak empat ratus dinar, hingga ia menjual atap rumahnya.” [3]

Muhammad bin Salam berkata,

ﺃﻧﻔﻘﺖ ﻓﻲ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺃﻟﻔﺎ،‏‎ ‎ﻭﺃﻧﻔﻘﺖ ﻓﻲ ﻧﺸﺮﻩ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺃﻟﻔﺎ، ﻭﻟﻴﺖ ﻣﺎ‎ ‎ﺃﻧﻔﻘﺖ ﻓﻲ ﻃﻠﺒﻪ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻧﺸﺮﻩ

“Aku ketika menuntut ilmu menghabiskan 40.000 dan untuk menyebarkannya 40.000, sekiranya kuhabiskan ketika mencarinya, kuhabiskan ketika menyebarkannya.” [4]

Dan sebuah kisah nyata terkenal di mana ibu dari Rabi’ah Ar-ra’yi guru Imam Malik menghabiskan 30.000 dinar untuk pendidikan anaknya. Tatkala suaminya pulang dan menagih harta yang dititip terjadi perbincangan,

ﻓﻘﺎﻟﺖ ﺃﻣﻪ: ﺃﻳﻤﺎ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻴﻚ ﺛﻼﺛﻮﻥ ﺃﻟﻒ‎ ‎ﺩﻳﻨﺎﺭ، ﺃَﻭْ ﻫﺬﺍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻫﻮ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺎﻩ،‏‎ ‎ﻗَﺎﻝَ: ﻻ ﻭَﺍﻟﻠﻪ ﺇِﻻ ﻫﺬﺍ، ﻗﺎﻟﺖ: ﻓﺈﻧﻲ ﻗﺪ‎ ‎ﺃﻧﻔﻘﺖ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻛﻠﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻗَﺎﻝَ: ﻓﻮﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ‎ ‎ﺿﻴﻌﺘﻪ

“Ibu Rabi’ah berkata kepada suaminya, “Mana yang engkau sukai antara 30.000 dinar atau kedudukan yang dia (anakmu) peroleh?” Suaminya berkata, “Demi Allah aku lebih suka yang ini (kedudukan ilmu anaknya).” Ibu Rabi’ah berkata, “Saya telah menghabiskan seluruh harta tersebut untuk mendapatkan seperti sekarang ini.” Suaminya berkata, “Demi Allah, engkau tidak menyia-nyiakannya.” [5]

Bangkrut (tidak punya harta lagi) karena Menuntut Ilmu

Para ulama mencurahkan segalanya begitu juga harta mereka, sampai-sampai ada ungkapan dari beberapa orang ulama salah satunya yaitu Syu’bah, beliau berkata,

ﻣَﻦْ ﻃَﻠَﺐَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚَ ﺃَﻓْﻠَﺲَ

“Barangsiapa yang menuntut ilmu hadist/belajar agama maka akan bangkrut.” [6]

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

ﻟَﺎ ﻳَﺼْﻠُﺢُ ﻃَﻠَﺐُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﺇِﻟَﺎ ﻟِﻤُﻔْﻠِﺲ

“Tidak layak bagi orang yang menuntut ilmu kecuali orang yang siap miskin/bangkrut.” [7]

Ibnu Sa’ad berkata, aku mendengar Musa bin Dawud berkata,

ﺃﻓﻠﺲ ﺍﻟﻬﻴﺜﻢ ﺑﻦ ﺟﻤﻴﻞ ﻓﻲ ﻃﻠﺐ‎ ‎ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﺮﺗﻴﻦ

“Al-Haitsam bin Jamil bangkrut dua kali ketika mencari hadits.” [8]

Ibnu ‘Adi berkata mengisahkan tentang Yahya Ibnu Ma’in,

ﻛﺎﻥ ﻣﻌﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺧﺮﺍﺝ ﺍﻟﺮﻱ، ﻓﻤﺎﺕ،‏‎ ‎ﻓﺨﻠﻒ ﻟﻴﺤﻴﻰ ﺍﺑﻨﻪ ﺃﻟﻒ ﺃﻟﻒ ﺩﺭﻫﻢ،‏‎ ‎ﻓﺄﻧﻔﻘﻪ ﻛﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺣﺘﻰ ﻟﻢ ﻳﺒﻖ ﻟﻪ‎ ‎ﻧﻌﻞ ﻳﻠﺒﺴﻪ.

“Ma’in (ayah Yahya Ibnu Ma’in) terkena radang tenggorokan, kemudian meninggal, ia mewariskan untuk Yahya Ibnu Ma’in sebanyak 1.000.000 dirham, maka ia habiskan seluruhnya untuk mencari hadits sampai-sampai tidak ada yang tersisa kecuali sandal yang ia pakai.” [9]

Abdurrahman bin Abu Zur’ah berkata, saya mendengar ayahku berkata,

ﺑﻘﻴﺖ ﺑﺎﻟﺒﺼﺮﺓ ﻓﻲ ﺳﻨﺔ ﺃﺭﺑﻊ ﻋﺸﺮﺓ‎ ‎ﻭﻣﺎﺋﺘﻴﻦ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ ﺃﺷﻬﺮ ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻲ‎ ‎ﺃﻥ ﺃﻗﻴﻢ ﺳﻨﺔ ﻓﺎﻧﻘﻄﻊ ﻧﻔﻘﺘﻲ ﻓﺠﻌﻠﺖ‎ ‎ﺃﺑﻴﻊ ﺛﻴﺎﺏ ﺑﺪﻧﻲ ﺷﻴﺌﺎ ﺑﻌﺪ ﺷﻲﺀ ﺣﺘﻰ‎ ‎ﺑﻘﻴﺖ ﺑﻼ ﻧﻔﻘﺔ

“Aku menetap di Bashrah pada tahun 214 Hijriyah. Sebenarnya aku ingin menetap di sana selama setahun. Namun perbekalanku telah habis dan terpaksa aku menjual bajuku helai demi helai, sampai akhirnya aku tidak punya apa-apa lagi.” [10]

BERSAMBUNG INSYAALLAH…

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] Al-Majmu’ 1/35, Imam An-Nawawi, Syamilah.

[2] Tartibul Madarik 1/31, Syamilah.

[3] Tarikh Baghdadi 12/17, Darul Gharbil Islami, Beirut, cet. I, 1422 H, syamilah.

[4] idem.

[5] Tarikh Baghdad 9/414, Darul Gharbil Islami, Beirut, cet. I, 1420 H, Syamilah.

[6] Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi I/410 no. 597, Darul Ibnu Jauzi, cet. I, 1414 H, syamilah.

[7] Al-Jami’ liakhlaqir rawi, 1/104 no. 71, Maktabah Ma’arif, Riyadh, Syamilah.

[8] Rihlah fi thalabil hadits hal. 205, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet. I, 1395 H, Syamilah.

[9] Siyar A’lam An-Nubala 21/85, Muassasah Risalah, syamilah.

[10]Tarikh Baghdad 2/74-75, Syamilah.

Sumber: http://muslimafiyah.com/kisah-kisah-mencengangkan-para-ulama-menuntut-ilmu-bagian-ketiga.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 26/06/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: