Kisah-Kisah Mencengangkan Para Ulama Menuntut Ilmu [Bag. 4 – Habis]

Belajar kepada Banyak Guru

Kita selayaknya tidak mencukupkan diri dengan satu guru saja, karena ilmu itu sangat luas, sampai-sampai ulama berkata, salah satunya adalah Hammad bin Zaid rahimahullah berkata,

ﺇﻧﻚ ﻻ ﺗﻌﺮﻑ ﺧﻄﺄ ﻣﻌﻠﻤﻚ ﺣﺘﻰ ﺗﺠﺎﻟﺲ‎ ‎ﻏﻴﺮﻩ

“Sesungguhnya engkau tidak mengetahui kesalahan gurumu sampai engkau berguru dengan yang lain.” [1]

Dari Abdurrahman bin Abi Abdillah bin Mandah berkata,

ﻭﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﻲ ﻳﻘﻮﻝ: ﻛﺘﺒﺖ ﻋﻦ ﺃﻟﻒ‎ ‎ﻭﺳﺒﻌﻤﺎﺋﺔ. ﻗﺎﻝ ﺟﻌﻔﺮ ﺍﻟﻤﺴﺘﻐﻔﺮﻱ: ﻣﺎ‎ ‎ﺭﺃﻳﺖ ﺃﺣﺪًﺍ ﺃﺣﻔﻆ ﻣﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ‎ ‎ﻣﻨﺪﻩ، ﺳﺄﻟﺘﻪ ﻳﻮﻣًﺎ: ﻛﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﺳﻤﺎﻋﺎﺕ‎ ‎ﺍﻟﺸﻴﺦ؟ ﻗﺎﻝ: ﺗﻜﻮﻥ ﺧﻤﺴﺔ ﺁﻻﻑ ﻣﻦّ.‏‎ ‎ﻗﻠﺖ: ﺍﻟﻤﻦّ ﻳﺠﻲﺀ ﻋﺸﺮﺓ ﺃﺟﺰﺍﺀ ﻛﺒﺎﺭ.

“Saya mendengar ayahku berkata, “Saya menulis/belajar dari 1.700 guru.” Ja’far Al-Mustaghfiri berkata, “Saya tidak melihat seorangpun yang lebih hapal dari Abu Abdillah bin Mandah, saya bertanya kepadanya suatu hari, “Berapa yang anda pelajari dari para syaikh?” Beliau berkata, “Lima ribu mann.” Azd-Dzahabi berkata, “Satu mann sama dengan 10 juz besar.” [2]

Ibnu An-Najjar berkata,

ﺳﻤﻌﺖ ﻣﻦ ﻳﺬﻛﺮ ﺃﻥ ﻋﺪﺩ ﺷﻴﻮﺧﻪ ﺳﺒﻌﺔ‎ ‎ﺁﻻﻑ ﺷﻴﺦ ﻭﻫﺬﺍ ﺷﻲﺀ ﻟﻢ ﻳﺒﻠﻐﻪ ﺃﺣﺪ،‏‎ ‎ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻠﻴﺢ ﺍﻟﺘﺼﺎﻧﻴﻒ ﻛﺜﻴﺮ ﺍﻟﻨﺸﻮﺍﺭ‎ ‎ﻭﺍﻷﻧﺎﺷﻴﺪ ﻟﻄﻴﻒ ﺍﻟﻤﺰﺍﺡ ﻇﺮﻳﻔًﺎ ﺣﺎﻓﻈًﺎ‎ ‎ﻭﺍﺳﻊ ﺍﻟﺮﺣﻠﺔ ﺛﻘﺔ ﺻﺪﻭﻗًﺎ ﺩﻳﻨًﺎ ﺳﻤﻊ ﻣﻨﻪ‎ ‎ﻣﺸﺎﻳﺨﻪ ﻭﺃﻗﺮﺍﻧﻪ ﻭﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﻨﻪ ﺟﻤﺎﻋﺔ

“Saya mendengar ada yang mengatakan bahwa gurunya 7.000 syaikh dan tidak ada yang seperti ini. Karangannya sangat menarik dan tersebar/dia juga menulis syair ringan dan menghibur, seorang hafidz, sering berpetualang (menuntut ilmu), terpercaya dan jujur. Para guru dan orang yang sezaman dengannya belajar dari beliau dan begitu pula sejumlah perawi.” [3]

Ibnu As-Sa’iy berkata tentang Ibnu An-Najjar,

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺴﺎﻋﻲ: ﺍﺷﺘﻤﻠﺖ ﻣﺸﻴﺨﺘﻪ‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺁﻻﻑ ﺷﻴﺦ ﻭﺃﺭﺑﻊ ﻣﺎﺋﺔ ﺍﻣﺮﺃﺓ

“Para guru Ibnu An-Najjar mencapai 3.000 syaikh dan 400 guru wanita.” [4]

Belajar dengan Waktu yang Lama

Imam Syafi’i rahimahullahu, berkata,

ﺃَﺧِﻲ ﻟَﻦْ ﺗَﻨَﺎﻝَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺇﻟَّﺎ ﺑِﺴِﺘَّﺔٍ ﺳَﺄُﻧْﺒِﻴﻚَ ﻋَﻦْ‏‎ ‎ﺗَﻔْﺼِﻴﻠِﻬَﺎ ﺑِﺒَﻴَﺎﻥِ‏‎ ‎ﺫَﻛَﺎﺀٌ ﻭَﺣِﺮْﺹٌ ﻭَﺍﺟْﺘِﻬَﺎﺩٌﻭَﺑُﻠْﻐَﺔٌ ﻭَﺻُﺤْﺒَﺔُ‏‎ ‎ﺃُﺳْﺘَﺎﺫٍ ﻭَﻃُﻮﻝُ ﺯَﻣَﺎﻥِ

Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara. Akan aku kabarkan padamu perinciannya dengan jelas: Kecerdasan, kemauan keras, semangat, bekal cukup, bimbingan ustadz, dan waktu yang lama. (Diwan Syafi’i)

Ibnul Mubarak pernah di tanya,

: ﻗﻴﻞ ﻻﺑﻦ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻙ، ﺇﻟﻰ ﻣﺘﻰ ﺗﻄﻠﺐ‎ ‎ﺍﻟﻌﻠﻢ؟ ﻗﺎﻝ: »ﺣﺘﻰ ﺍﻟﻤﻤﺎﺕ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ

“Sampai kapan engkau menuntut ilmu? Beliau berkata, “Sampai mati insya Allah.” [5]

Abu ‘Amr Ibnul ‘Ala’ pernah ditanya,

ﺳﺄﻟﺖ ﺃﺑﺎ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﺍﻟﻌﻼﺀ ﺣﺘﻰ ﻣﺘﻰ‎ ‎ﻳﺤﺴﻦ ﺑﺎﻟﻤﺮﺀ ﺃﻥ ﻳﺘﻌﻠﻢ؟ ﻓﻘﺎﻝ: »ﻣﺎ ﺩﺍﻡ‎ ‎ﺗﺤﺴﻦ ﺑﻪ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ «

“Sampai kapan seseorang tekun menuntut ilmu? Beliau menjawab, “Selama ia masih hidup.” [6]

Kemudian kisah Abu Zur’ah yang masih bergelut dengan ilmu sampai ketika dekat dengan kematian sakratul maut. Abu Ja’far Muhammad bin Ali As-Saawi menceritakan,

ﺣَﻀَﺮْﺕُ ﺃَﺑَﺎ ﺯُﺭْﻋَﺔَ ﺑِﻤَﺎﺷَﻬْﺮَﺍﻥِ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻓِﻲ‎ ‎ﺍﻟﺴَّﻮْﻕِ، ﻭَﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺃَﺑُﻮ ﺣَﺎﺗِﻢٍ، ﻭَﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ‏‎ ‎ﻣُﺴْﻠِﻢِ ﺑْﻦِ ﻭَﺍﺭَﺓَ، ﻭَﺍﻟْﻤُﻨْﺬِﺭُ ﺑْﻦُ ﺷَﺎﺫَﺍﻥَ،‏‎ ‎ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻓَﺬَﻛَﺮُﻭﺍ ﻗَﻮْﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ‏‎ ‎ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: »ﻟَﻘِّﻨُﻮﺍ ﻣَﻮْﺗَﺎﻛُﻢْ ﻟَﺎ‎ ‎ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ « , ﻓَﺎﺳْﺘَﺤْﻴُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺯُﺭْﻋَﺔَ،‏‎ ‎ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ: ﺗَﻌَﺎﻟَﻮْﺍ ﻧَﺬْﻛُﺮُ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚُ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ‎ ‎ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﻭَﺍﺭَﺓَ: ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺍﻟﻀَّﺤَّﺎﻙُ ﺑْﻦُ‏‎ ‎ﻣَﺨْﻠَﺪٍ ﺃَﺑُﻮ ﻋَﺎﺻِﻢٍ ﻗَﺎﻝَ: ﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺤَﻤِﻴﺪِ ﺑْﻦُ‏‎ ‎ﺟَﻌْﻔَﺮٍ , ﻋَﻦْ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺠَﺎﻭِﺯْ ﻭَﺍﻟْﺒَﺎﻗُﻮﻥَ‏‎ ‎ﺳَﻜَﺘُﻮﺍ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺯُﺭْﻋَﺔَ ﻭَﻫُﻮَ ﻓِﻲ‎ ‎ﺍﻟﺴَّﻮْﻕِ:، ﺛﻨﺎ ﺑُﻨْﺪَﺍﺭٌ، ﻗَﺎﻝَ: ﺛﻨﺎ ﺃَﺑُﻮ ﻋَﺎﺻِﻢٍ،‏‎ ‎ﻗَﺎﻝَ: ﺛﻨﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺤَﻤِﻴﺪِ ﺑْﻦُ ﺟَﻌْﻔَﺮٍ , ﻋَﻦْ‏‎ ‎ﺻَﺎﻟِﺢِ ﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻲ ﻋَﺮِﻳﺐٍ , ﻋَﻦْ ﻛَﺜِﻴﺮِ ﺑْﻦِ ﻣُﺮَّﺓَ‏‎ ‎ﺍﻟْﺤَﻀْﺮَﻣِﻲِّ، ﻋَﻦْ ﻣُﻌَﺎﺫِ ﺑْﻦِ ﺟَﺒَﻞٍ، ﻗَﺎﻝَ:‏‎ ‎ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ:‏‎ ‎‏»ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﺁﺧِﺮُ ﻛَﻠَﺎﻣِﻪِ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺩَﺧَﻞَ‏‎ ‎ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ « ﻭَﻣَﺎﺕَ ﺭَﺣِﻤَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ

“Saya mendatangi Abu Zur’ah yang sedang dalam keadaan sakaratul maut, ada bersamanya Abu Hatim, Muhammad bin Muslim bin Warah, Al-Mundzir bin Syadzan dan sekelompok ulama lainnya. Kemudian mereka membicarakan hadits,

ﻟَﻘِّﻨُﻮﺍ ﻣَﻮْﺗَﺎﻛُﻢْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ

“Talqinkanlah kepada orang yang sedang menghadapi kematian di antara kalian kalimat ‘laa ilaaha illallahu’.”

Kemudian mereka merasa malu terhadap Abu Zur’ah. Lalu mereka berkata, “Mari kita bicarakan hadits ini.” Abdullah bin Warah berkata, “Kami dapatkan hadits ini dari Adh-Dhahak bin Mukhlad Abu Ashim, dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih, namun dia tidak bisa meneruskan perawi selanjutnya. Sedangkan ulama yang lain terdiam.

Maka berkata Abu Zur’ah dan beliau dalam keadaan sakaratul maut, “Kami mendapati riwayat ini dari Bundaar dari Abu Ashim dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih bin Abi ‘Ariib dari Kutsair bin Murrah Al-Hadhrami dari Mu’adz bin Jabal berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻟَﻘِّﻨُﻮﺍ ﻣَﻮْﺗَﺎﻛُﻢْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ

“Talqinkanlah kepada orang yang sedang menghadapi kematian di antara kalian kalimat ‘laa ilaaha illallahu’.” Kemudian beliau rahimahullahu meninggal dunia. [7]

Penutup

Dan masih sangat banyak kisah para ulama yang mencengangkan dan seakan-akan adalah dongeng, akan tetapi inilah kenyataannya. Kisah lainnya semisal:

– Ibnu Thahir al-Maqdisy yang dua kali kencing darah dalam menuntut ilmu hadits, sekali di Baghdad dan sekali di Mekkah.

– Al-Imam anNawawy setiap hari membaca 12 jenis ilmu yang berbeda.

– Ibnul Jahm membaca kitab jika beliau mengantuk, pada saat yang bukan semestinya. Sehingga beliau bisa segar kembali.

– Majduddin Ibn Taimiyyah (Kakek Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah) jika akan masuk kamar mandi berkata kepada orang yang ada di sekitarnya: Bacalah kitab ini dengan suara keras agar aku bisa mendengarnya di kamar mandi.

– Al-Hasan al-Lu’lu-i selama 40 tahun tidaklah tidur kecuali kitab berada di atas dadanya.

– Al-Hafidz al-Khathib tidaklah berjalan kecuali bersamanya kitab yang dibaca, demikian juga Abu Nu’aim al Asbahaany (penulis kitab Hilyatul Awliyaa’).

– Al-Hafidz Abul ‘Alaa al-Hamadzaaniy menjual rumahnya seharga 60 dinar untuk membeli kitab-kitab Ibnul Jawaaliiqy.

– Ibnul Jauzy sepanjang hidupnya telah membaca lebih dari 20.000 jilid kitab.

– Al-Khothib al-Baghdadi membaca Shahih al-Bukhari dalam 3 majelis (3 malam), setiap malam mulai ba’da Maghrib hingga Subuh (jeda sholat).

– Al-Hafidz Zainuddin al-Iraqy membaca Musnad Ahmad dalam 30 majelis (pertemuan).

– Al-‘Izz bin Abdissalaam membaca kitab Nihaayatul Mathlab 40 jilid dalam tiga hari (Rabu, Kamis, dan Jumat) di masjid.

– Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany rata-rata menghabiskan waktu selama 12 jam sehari untuk membaca buku-buku hadits di perpustakaan.

– Gholib bin Abdirrahman bin Gholib al-Muhaariby telah membaca Shahih al-Bukhari sebanyak 700 kali.

– Ismail bin Zaid dalam semalam menulis 90 kertas dengan tulisan yang rapi.

– Ahmad bin Abdid Da-im al-Maqdisiy telah menulis/menyalin lebih dari 2000 jilid kitab-kitab. Jika senggang, dalam sehari bisa menyelesaikan salinan 9 buku. Jika sibuk dalam sehari menyalin 2 buku.

– Ibnu Thahir berkata: saya menyalin Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Sunan Abi Dawud 7 kali dengan upah, dan Sunan Ibn Majah 10 kali.

– Ibnul Jauzy dalam setahun rata-rata menyalin 50-60 jilid buku.

Semoga kita bisa sedikit meneladani mereka rahimahumullah. Amin.

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi I/414 no. 607, Darul Ibnu Jauzi, cet. I, 1414 H, syamilah.

[2] Tadzkiratul Huffaz 3/159, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet. I, 1419 H, Syamilah.

[3] Tadzkiratul Huffaz 4/75, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet. I, 1419 H, Syamilah.

[4] Siyar A’lam An-Nubala 16/356, Muassasah Risalah, syamilah.

[5] Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi no. 586, Darul Ibnu Jauzi, cet. I, 1414 H, syamilah.

[6] Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi no. 587, Darul Ibnu Jauzi, cet. I, 1414 H, syamilah.

[7] Ma’rifah ‘ulum Al-Hadits hal. 76, Dar Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet. II, 1397 H, Asy-Syamilah.

Sumber: http://muslimafiyah.com/kisah-kisah-mencengangkan-para-ulama-menuntut-ilmu-bagian-keempat-habis.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 28/06/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: