Sedang Berhubungan Suami-Istri, Kemudian Terdengar Adzan Subuh Ramadhan

Pertanyaan:

ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ: ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﺃﺫﻥ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﻓﻤﺎ‎ ‎ﺍﻟﺤﻜﻢ

“Ketika sedang berjima’ kemudian dikumandangkan adzan subuh, bagaimana hukumnya?

Jawab:

ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ: ﺇﺫﺍ ﺃﺫﻥ ﺍﻟﻤﺆﺫﻥ ﻭﻫﻮ ﻳﺠﺎﻣﻊ‎ ‎ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻨﺰﻉ ﻓﻴﻘﻮﻡ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ‎ ‎ﻭﻻ ﺷﻲﺀ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ، ﻭﻣﻦ‎ ‎ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻣﻦ ﻳﻘﻮﻝ: ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺰﻉ ﺟﻤﺎﻉ،‏‎ ‎ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻳﺘﺮﺟﺢ ﺧﻼﻑ ﻫﺬﺍ، ﻓﻨﻘﻮﻝ: ﺇﺫﺍ‎ ‎ﻗﺎﻡ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻓﻴﺘﻢ ﺻﻮﻣﻪ ﻭﻳﻐﺘﺴﻞ ﻭﻻ‎ ‎ﺷﻲﺀ ﻋﻠﻴﻪ، ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺍﺳﺘﻤﺮ ﻳﺠﺎﻣﻊ‎ ‎ﻭﺍﻟﻤﺆﺫﻥ ﻳﺆﺫﻥ ﻭﻫﻮ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻗﺪ‎ ‎ﺩﺧﻞ ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﺍﺳﺘﻤﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﺣﺘﻰ‎ ‎ﻓﺮﻍ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺇﺫﺍ‎ ‎ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻄﺎﻭﻋﺔ ﺭﺍﺿﻴﺔ، ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ‎ ‎ﺗﺪﻓﻌﻪ ﻟﻤﺎ ﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﻨﺪﺍﺀ ﻭﻫﻮ ﻳﺄﺑﻰ ﺇﻟﻰ‎ ‎ﺃﻥ ﻳﺘﻢ ﺟﻤﺎﻋﻪ ﻓﻼ ﺷﻲﺀ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ‎ ‎ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻄﺎﻭﻋﺔ ﺭﺍﺿﻴﺔ ﻓﻌﻠﻴﻬﺎ ﻛﺬﻟﻚ‎ ‎ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ

“Jika muadzin mengumandangkan adzan subuh dan ia sedang melakukan jima’, maka wajib baginya mencabut (menghentikan) kemudian menjauhi istrinya dan tidak mengapa baginya menurut pendapat yang shahih. Ada ulama yang berpendapat bahwa mencabut terhitung jima’, akan tetapi yang rajih adalah kebalikan pendapat ini. Kita katakan: jika ia menjauhi istrinya kemudian menyempurnakan puasanya dan mandi junub maka tidak mengapa (puasanya sah).

Adapun jika ia melanjutkan jima’nya ketika adzan berkumandang dan ia tahu bahwa telah masuk waktu subuh akan tetapi ia tetap melanjutkan jima’nya sampai selsai maka wajib baginya membayar kafarah. Demikian juga istrinya jika setuju dan ridha untuk melanjutkan. Adapun jika ia menolaknya tatkala ia mendengar adzan dan ia enggan untuk melanjutkan jima’ maka tidak mengapa baginya. Adapun jika ia setuju dan ridha maka wajib baginya membayar kafarah. [1]

Catatan:
Ada pendapat yang mengatakan bahwa puasanya batal meskipun ia segera mencabutnya. Mengenai hal ini Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata,

ﻭﺍﻟﻨﺰﻉ ﺟﻤﺎﻉ «: ﺃﻱ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﺠﺎﻣﻊ‎ ‎ﺯﻭﺟﺘﻪ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ، ﺛﻢ ﺃﺫﻥ ﻣﺆﺫﻥ،‏‎ ‎ﻭﻫﻮ ﻣﻤﻦ ﻳﺆﺫﻥ ﻋﻠﻰ ﻃﻠﻮﻉ ﺍﻟﻔﺠﺮ،‏‎ ‎ﻓﻨﺰﻉ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﻝ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ‎ ‎ﻳﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ‎ ‎ﻭﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ، ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﻏﺮﺍﺋﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ؛‎ ‎ﻓﻜﻴﻒ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻔﺎﺭُّ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻛﺎﻟﻮﺍﻗﻊ‎ ‎ﻓﻴﻪ؟!! ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺮﺍﺟﺢ ﺃﻧﻪ‎ ‎ﻟﻴﺲ ﺟﻤﺎﻋﺎً ﺑﻞ ﺗﻮﺑﺔ، ﻭﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻔﺴﺪ‎ ‎ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻭﻟﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻔﺎﺭﺓ

“Adapun pendapat ‘mencabut terhitung jima’, yaitu jika seorang laki-laki menyetubuhi istrinya pada akhir malam, kemudian adzan subuh berkumandang, kemudian ia mencabutnya seketika maka statusnya ia telah melakukan jima’, maka wajib mengqadha dan membayar kafarah. Maka ini merupakan pendapat yang aneh, bagaimana mungkin seseorang yang menghindari sama dengan orang yang melakukan?

Oleh karena itu pendapat yang rajih hal ini bukan terhitung jima’ akan tetapi taubat. Maka tidak merusak puasanya dan tidak wajib baginya kafarah.” [2]

Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata,

ﻟﻮ ﻃﻠﻊ ﺍﻟﻔﺠﺮ , ﻭﻫﻮ ﻣﺠﺎﻣﻊ ﻓَﻨَﺰَﻉَ ﻓﻲ‎ ‎ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺻﺢَّ ﺻﻮﻣُﻪ

“Jika telah terbit fajar (masuk waktu subuh] sedang ia dalam keadaan berjima’ kemudian ia langsung mencabutnya seketika. Maka puasanya sah.” [3]

Ada yang berpendapat bahwa melanjutkan berhubungan badan ketika terdengar adzan boleh karena diqiyaskan dengan bolehnya melanjutkan minum ketika terdengar adzan sebagaimana di hadits. Maka ini adalah qiyas yang kurang tepat. Karena berbeda antara minum dan berjima’.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

ﺇﺫﺍ ﻃﻠﻊ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﻭﻫﻮ ﻳﺠﺎﻣﻊ ﻓﺎﺳﺘﺪﺍﻡ‎ ‎ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ؛ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ، ﻭﺑﻪ‎ ‎ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚٌ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲُّ

“Jika terbit fajar ketika ia sedang berjima’ kemudian ia melanjutkan jima’. Maka wajib baginya qadha’ dan membayar kafarah. Demikian pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i.” [4]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

ﺃﻣَّﺎ ﺇﺫﺍ ﻃﻠﻊ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﻭﻫﻮ ﻣﺠﺎﻣﻊ ﻓﻌَﻠِﻢَ‏‎ ‎ﻃﻠﻮﻋَﻪُ, ﺛﻢ ﻣﻜﺚ ﻣﺴﺘﺪﻳﻤًﺎ ﻟِﻠﺠﻤﺎﻉ،‏‎ ‎ﻓﻴﺒﻄﻞ ﺻﻮﻣُﻪ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ, ﻧﺺَّ ﻋﻠﻴْﻪ‎ ‎ﻭﺗﺎﺑَﻌَﻪُ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ, ﻭﻻ ﻳُﻌﻠﻢ ﻓﻴﻪ ﺧِﻼﻑٌ‏‎ ‎ﻟِﻠْﻌُﻠﻤﺎﺀ، ﻭﺗﻠﺰﻣﻪ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﻋﻠﻰ‎ ‎ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ.”

“Jika terbit fajar ketika ia sedang berjima’ dan ia mengetahui terbitnya. Kemudian ia melanjutkan jima’ maka puasanya batal tanpa ada khilaf. Hal ini ditegaskan oleh ulama syafi’iyah. Tidak diketahui adanya khilaf di antara ulama. Wajib baginya membayar kafarah.” [5]

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] Sumber: http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=193006

[2] Asy-Syarhul Mumti’ 3/61, Jundul Afkar, Iskandariyah.

[3] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab 6/316, Darul fikr, Beirut, Syamilah.

[4] Al-Mughni 3/65, Darul Fikr, Beirut, cet. I, 1405 H, Syamilah.

[5] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab 6/309, Darul fikr, Beirut, Syamilah.

Sumber: http://muslimafiyah.com/sedang-berhubungan-suami-istri-kemudian-terdengar-adzan-subuh-ramadhan.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 11/07/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: