Cara Puasa di Tempat yang Siangnya 21 Jam atau 6 Bulan

Bagi kita yang tinggal di Indonesia, puasa kita jalani selama 13-14 jam. Akan tetapi ada negara yang siangnya 21 jam, misalnya negara-negara di Eropa bahkan ada juga yang siangnya 6 bulan yaitu di daerah kutub. Bagaimana menjalankan puasa di daerah seperti ini?

Puasa di Daerah yang Siangnya 21 Jam

Mereka tetap berpuasa selama 21 jam yaitu semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari sebagaimana dalil dari Al-Quran dan hadits bahwa puasa itu mulai sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﻛُﻠُﻮﺍْ ﻭَﺍﺷْﺮَﺑُﻮﺍْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺨَﻴْﻂُ‏‎ ‎ﺍﻷَﺑْﻴَﺾُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻴْﻂِ ﺍﻷَﺳْﻮَﺩِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al- Baqarah: 187)

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,

ﺇﺫﺍ ﺃﻗﺒﻞ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻣﻦ ﻫﻬﻨﺎ، ﻭﺃﺩﺑﺮ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻣﻦ‎ ‎ﻫﻬﻨﺎ، ﻭﻏﺮﺑﺖ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻓﻘﺪ ﺃﻓﻄﺮ‎ ‎ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ

“Jika telah datang malam dari sini kemudian siang telah berlalu dan matahari sudah tenggelam, maka (ini waktu) orang berpuasa berbuka.” [1]

Apakah berat puasa 21 jam? Insya Allah tidak, masyarakat di Eropa dan begitu juga orang Indonesia yang sedang belajar atau sedang safar ke sana tidak merasakan beratnya puasa. Dengan fokus ke aktifitas sehari-hari insya Allah tidak akan memberatkan. Allah Ta’ala berfirman,

ﻻَ ﻳُﻜَﻠِّﻒُ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺇِﻻَّ ﻭُﺳْﻌَﻬَﺎ

“Allah tidak membebani satu jiwa kecuali sesuai kemampuannya.” (Al-Baqarah: 286)

Allah Ta’ala juga berfirman,

ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺝٍ

“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj: 78)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

ﻣﻦ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﻟﻴﻞ ﻭﻧﻬﺎﺭ ﻓﻲ ﻇﺮﻑ ﺃﺭﺑﻊ‎ ‎ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺳﺎﻋﺔ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﺼﻮﻣﻮﻥ ﻧﻬﺎﺭﻩ‎ ‎ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﻗﺼﻴﺮﺍ ﺃﻭ ﻃﻮﻳﻼ ﻭﻳﻜﻔﻴﻬﻢ‎ ‎ﺫﻟﻚ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻗﺼﻴﺮﺍ.

“Barangsiapa yang di tempat mereka jarak siang dan malam sepanjang 21 jam maka mereka berpuasa sepanjang siang. Baik pendek maupun panjang. Hal ini mencukupi mereka (mereka mampu). Alhamdulillah jika waktu siangnya pendek.” [2]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan hal ini,

ﻓﻬﺬﻩ ﺍﻟﻨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺗﺪﻝ‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻣﺎﺩﺍﻡ ﻫﻨﺎﻙ ﻟﻴﻞ ﻭﻧﻬﺎﺭ ﻓﺎﻟﻮﺍﺟﺐ‎ ‎ﺍﻹﻣﺴﺎﻙ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻃﺎﻝ ﺃﻡ ﻗﺼﺮ،

“Inilah dalil dari Al-Quran dan Sunnah yang menunjukkan bahwa selama masih ada perputaran siang dan malam maka wajib menahan diri (dari pembatal puasa) pada siang hari baik panjang maupun pendek.“ [3]

Jika Siang Sepanjang 6 Bulan

Pada daerah kutub bisa jadi siang terus atau malam terus. Maka cara berpuasanya adalah dengan memperkirakan waktu siang dan malam, dan memperkirakan waktu-waktu shalat. Dan ada ulama yang berpendapat bahwa panjang siang dan malam serta waktu shalat adalah berpatokan dengan waktu di Mekah dan Madinah yaitu tempat di mana syariat di turunkan.

Terdapat hadits ketika Dajjal turun dekat hari kiamat. Bahwa nantinya satu hari seperti setahun, datu hari bisa seperti sebulan. Maka cara shalat di waktu itu adalah dengan memperkirakannya. Para Sahabat radhiallahu ‘anhum bertanya mengenai hal ini,

ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻟَﺒْﺜُﻪُ ﻓِﻰ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﻗَﺎﻝَ »‏‎ ‎ﺃَﺭْﺑَﻌُﻮﻥَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻳَﻮْﻡٌ ﻛَﺴَﻨَﺔٍ ﻭَﻳَﻮْﻡٌ ﻛَﺸَﻬْﺮٍ ﻭَﻳَﻮْﻡٌ‏‎ ‎ﻛَﺠُﻤُﻌَﺔٍ ﻭَﺳَﺎﺋِﺮُ ﺃَﻳَّﺎﻣِﻪِ ﻛَﺄَﻳَّﺎﻣِﻜُﻢْ «. ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻳَﺎ‎ ‎ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺬَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡُ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻛَﺴَﻨَﺔٍ‏‎ ‎ﺃَﺗَﻜْﻔِﻴﻨَﺎ ﻓِﻴﻪِ ﺻَﻼَﺓُ ﻳَﻮْﻡٍ ﻗَﺎﻝَ » ﻻَ ﺍﻗْﺪُﺭُﻭﺍ ﻟَﻪُ‏‎ ‎ﻗَﺪْﺭَﻩُ

“Wahai Rasulullah, berapa lama Dajjal berada di muka bumi?” Beliau bersabda, “Selama empat puluh hari, di mana satu harinya seperti setahun, satu harinya lagi seperti sebulan, satu harinya lagi seperti satu Jum’at (satu minggu), satu hari lagi seperti hari-hari yang kalian rasakan.” Mereka pun bertanya kembali pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, jika satu hari bisa sama seperti setahun, apakah kami cukup shalat satu hari saja?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab. “Tidak. Namun kalian harus memperkirakan (waktunya).” [4]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ﻣﺎ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻣﻜﺎﻥ ﻻ ﻳﺘﻌﺎﻗﺐ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻠﻴﻞ‎ ‎ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻓﻲ ﺧﻼﻝ ﺃﺭﺑﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺳﺎﻋﺔ،‏‎ ‎ﻣﺜﻞ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻬﺎﺭﻩ ﻳﻮﻣﻴﻦ، ﺃﻭ ﺛﻼﺛﺔ، ﺃﻭ‎ ‎ﺃﻛﺜﺮ، ﻭﻟﻴﻠﻪ ﻛﺬﻟﻚ ﻓﻬﻨﺎ ﻳﻘﺪﺭ ﻟﻪ ﻗﺪﺭﻩ

“Adapun pada tempat yang tidak ada pergantian siang dan malam selama 24 jam. Misalnya siangnya sepanjang dua, tiga hari atau lebih. Demikian juga malamnya. Maka pada kondisi ini diperkirakan waktunya.” [5]

Demikian semoga bermanfaat.

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] Muttafaqun ‘alaih.

[2] Majmu’ fatawa bin Baz, sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/535

[3] Majmu’ Fatawa wa rasail 19/314, syamilah.

[4] HR. Muslim no. 2837.

[5] Majmu’ Fatawa wa rasail 19/314, syamilah.

Sumber: http://muslimafiyah.com/cara-puasa-di-tempat-yang-siangnya-21-jam-dan-siangnya-6-bulan.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 15/07/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: