Hukum I’tikaf Hanya Pada Malam Ganjil Saja

Beberapa orang tidak bisa i’tikaf penuh selama 10 hari terakhir atau 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Baik karena berbagai kesibukan yang memang tidak bisa ditinggal misalnya petugas medis, petugas keamanan dan petugas komunikasi. Sehingga mereka ketika memilih jadwal, lebih memfokuskan pada malam ganjil saja. Yang kemungkinan lailatul qadar turun pada malam ganjil tersebut sebagaimana hadits dari A’isyah radhiallahu ‘anha berkata,

“Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda,

ﺗﺤﺮﻭﺍ )ﻭ ﻓﻲ ﺭﻭﻳﺔ: ﺍﻟﺘﻤﺴﻮﺍ ( ﻟﻴﻠﺔ ﻟﻘﺪﺭ‎ ‎ﻓﻲ )ﺍﻟﻮﺗﺮ ﻣﻦ ( ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻣﻦ‎ ‎ﺭﻣﻀﺎﻥ

“Carilah malam lailatul qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” [1]

Malam tersebut bisa jadi malam ganjil atau malam genap

Dalam hadits dinyatakan bahwa agar kita mencari di malam ganjil. Akan tetapi bisa jadi itu jika dihitung dari awal bulan. Sedangkan ada hadits yang menyatakan bahwa kita mencarinya di sisa akhir bulan Ramadahan. Artinya kita menghitung dari belakang. Dan bulan Ramadhan bisa 30 hari dan bisa 29 hari sehingga jika kita menghitung mundur maka bisa berubah-ubah. Jadi bisa jadi malam ke-27 dalam malam ganjil jika bulan Ramadhan 30 hari dan bisa jadi malam genap jika bulan Ramadhan 29 hari.

Hitungan mundur didasarkan pada hadits berikut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻟِﺘَﺎﺳِﻌَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ ﻟِﺴَﺎﺑِﻌَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ ﻟِﺨَﺎﻣِﺴَﺔٍ‏‎ ‎ﺗَﺒْﻘَﻰ ﻟِﺜَﺎﻟِﺜَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ

“Lailatul qadar ada pada sembilan hari yang tersisa, bisa jadi ada pada tujuh hari yang tersisa, bisa jadi pula pada lima hari yang tersisa, bisa juga pada tiga hari yang tersisa.“ [2]

Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

ﻓﺎﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺗﺴﻌﺎ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻓﺄﻭﻝ‎ ‎ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻻﻭﺍﺧﺮ ﺑﻼ ﺷﻚ ﻟﻴﻠﺔ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﻣﻨﻪ،‏‎ ‎ﻓﻬﻰ ﺇﻣﺎ ﻟﻴﻠﺔ ﻋﺸﺮﻳﻦ، ﻭﺇﻣﺎ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﺛﻨﻴﻦ‎ ‎ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ، ﻭﺇﻣﺎ ﻟﻴﻠﺔ ﺃﺭﺑﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ، ﻭﺍﻣﺎ‎ ‎ﻟﻴﻠﺔ ﺳﺖ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ، ﻭﺍﻣﺎ ﻟﻴﻠﺔ ﺛﻤﺎﻥ‎ ‎ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ، ﻻﻥ ﻫﺬﻩ ﻫﻲ ﺍﻻﻭﺗﺎﺭ ﻣﻦ‎ ‎ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻻﻭﺍﺧﺮ، ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺛﻼﺛﻴﻦ‎ ‎ﻓﺄﻭﻝ ﺍﻟﺸﻌﺮ ﺍﻻﻭﺍﺧﺮ ﺑﻼ ﺷﻚ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﺣﺪﻯ‎ ‎ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ، ﻓﻬﻰ ﺇﻣﺎ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﺣﺪﻯ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ،‏‎ ‎ﻭﺍﻣﺎ ﻟﻴﻠﺔ ﺛﻼﺙ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ، ﻭﺍﻣﺎ ﻟﻴﻠﺔ‎ ‎ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ، ﻭﺍﻣﺎ ﻟﻴﻠﺔ ﺳﺒﻊ‎ ‎ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ، ﻭﺍﻣﺎ ﻟﻴﻠﺔ ﺗﺴﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ، ﻻﻥ‎ ‎ﻫﺬﻩ ﻫﻲ ﺃﻭﺗﺎﺭ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺑﻼﺷﻚ

“Apabilla Bulan Ramadhan itu ada 29 hari, maka tidak diragukan lagi bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-20. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-20, atau ke-22, atau ke-24, atau ke-26, atau ke-28. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.

Apabila bulan Ramadhan itu 30 hari, maka tidak diragukan lagi bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-21. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-21, atau ke-23, atau ke-25, atau ke-27, atau ke-29. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.” [3]

Boleh jika memang ada kesibukan yang tidak bisa ditinggal

Pertanyaan:

ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻲ ﺃﻥ ﺃﻋﺘﻜﻒ ﺍﻟﻠﻴﺎﻟﻲ ﺍﻟﻔﺮﺩﻳﺔ‎ ‎ﻣﻦ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻷﻧﻨﻲ ﻻ ﺃﺳﺘﻄﻴﻊ‎ ‎ﺍﻋﺘﻜﺎﻑ ﺍﻟﻌﺸﺮﺓ ﻛﺎﻣﻠﺔ ﺑﺴﺒﺐ ﺃﻧﻲ‎ ‎ﻣﺘﺰﻭﺝ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﻭﺯﻭﺟﺘﻲ ﺗﺒﻘﻰ ﻟﻮﺣﺪﻫﺎ ﻓﻲ‎ ‎ﺑﻴﺘﻲ

Apakah boleh jika saya i’tikaf pada hari ganjil bulan Ramadhan karena saya tidak bisa i’tikaf sempurna 10 malam terakhir. Saya baru saja menikah dan istri saya tinggal sendiri di rumah.

ﺍﻷﻓﻀﻞ ﺃﻥ ﻳﻌﺘﻜﻒ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺍﻟﻌﺸﺮ‎ ‎ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻛﻠﻬﺎ ، ﺍﻗﺘﺪﺍﺀ ﺑﺎﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ … ﻭﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻤﻜﻨﻪ ﺍﻋﺘﻜﺎﻑ‎ ‎ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻛﻠﻬﺎ ، ﻭﺍﻗﺘﺼﺮ ﻋﻠﻰ‎ ‎ﺑﻌﺾ ﺃﻳﺎﻣﻬﺎ ﺃﻭ ﻟﻴﺎﻟﻴﻬﺎ ﻓﻼ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ،‏‎ ‎ﻭﻗﺪ ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺃﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ‎ ‎ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻧﺬﺭ ﺃﻥ ﻳﻌﺘﻜﻒ ﻟﻴﻠﺔ ﻓﻲ‎ ‎ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ، ﻓﺄﻣﺮﻩ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﺎﻟﻮﻓﺎﺀ ﺑﻨﺬﺭﻩ ﻓﻔﻴﻪ ﺩﻟﻴﻞ‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺻﺤﺔ ﺍﻋﺘﻜﺎﻑ ﻟﻴﻠﺔ

Jawaban:

Yang lebih afdhal i’tikaf pada 10 malam terakhir seluruhnya karena meneladani Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak mungkin i’tikaf pada 10 malam terakhir dan membatasi pada beberapa hari saja maka tidak mengapa.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu bernazdar untuk beri’tikaf semalam di Masjid Haram. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar ia menunaikan nadzarnya. Maka ini adalah dalil bolehnya i’tikaf hanya semalam saja. [4]

Dan pendapat terkuat bahwa tidak ada batasan lama waktu i’tikaf, baik sebentar saja atau lama. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

ﻭﺍﻻﻋﺘﻜﺎﻑ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻜﺚ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ‎ ‎ﻟﻄﺎﻋﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻤﺪﺓ‎ ‎ﻛﺜﻴﺮﺓ ﺃﻭ ﻗﻠﻴﻠﺔ؛ ﻷﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻓﻴﻤﺎ‎ ‎ﺃﻋﻠﻢ ﻣﺎ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺤﺪﻳﺪ ﻻ ﺑﻴﻮﻡ ﻭﻻ‎ ‎ﺑﻴﻮﻣﻴﻦ ﻭﻻ ﺑﻤﺎ ﻫﻮ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ

I’tikaf adalah tinggal di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala, baik itu lama maupun sebentar saja. Karena tidak ada –yang saya tahu- dalil yang membatasinya baik sehari atau dua hari atau lebih dari itu. [5]

Demikian semoga bermanfaat.

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] HR. Bukhari IV/220, Muslim no. 1169.

[2] HR. Bukhari.

[3] Muhalla 4/457, Darul Fikr, Beirut, syamilah.

[4] Sual wal jawab syaikh Muhammad Al-Munajjid, sumber: http://islamqa.info/ar/93998

[5] Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/639

Sumber: http://muslimafiyah.com/hanya-ingin-itikaf-pada-malam-ganjil-10-malam-terakhir-saja.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 26/07/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: