Hukum Berjabat Tangan dengan Mantan Mertua

Pertanyaan: Assalammualaikum ustadz.. Saya ingin bertanya;
* Bolehkah seorang janda berjabat tangan dengan bekas ayah mertuanya?
* Bolehkah seorang wanita berjabat tangan dengan suami dari bibinya dan saudara iparnya?
* Bolehkah berjabat tangan dengan anak laki-laki yang berusia di bawah 17 tahun?

Mohon penjelasannya ya ustadz. Jazaakumullahu khayran.. (Dari: Ibu Ayu)

Jawab:

Wa alaikumus salam
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Di surat an-Nisa Allah merinci siapa saja wanita yang haram dinikahi, alias mahram,

ﺣُﺮِّﻣَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﻬَﺎﺗُﻜُﻢْ ﻭَﺑَﻨَﺎﺗُﻜُﻢْ …‏‎ ‎ﻭَﺃُﻣَّﻬَﺎﺕُ ﻧِﺴَﺎﺋِﻜُﻢْ … ﻭَﺣَﻠَﺎﺋِﻞُ ﺃَﺑْﻨَﺎﺋِﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ‏‎ ‎ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﻠَﺎﺑِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻥْ ﺗَﺠْﻤَﻌُﻮﺍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﺄُﺧْﺘَﻴْﻦِ

Diharamkan bagi kalian untuk menikahi ibu kalian, putri kalian…., ibu dari istri kalian…., wanita yang menjadi istri dari anak keturunan kalian, dan janganlah kalian menggabungkan dua saudara. (QS. An-Nisa: 23)

Dalam ayat di atas, Allah menyebutkan hubungan mahram antara menantu dan mertua,

1. Ibu dari istri kalian: Ibu mertua. Ini jika yang bersangkutan sebagai suami. Jika yang bersangkutan sebagai istri, yang menjadi mahramnya adalah bapak mertua.

2. Wanita yang menjadi istri dari anak keturunan kalian: menantu perempuan. Jika dibalik, suami bagi anak keturunan kalian: menantu laki-laki. Karena hubungannya mahram, maka antara menantu dan mertua tidak boleh saling menikah selamanya. Meskipun pasangan suami istri itu sudah berpisah, baik melalui perceraian atau meninggal dunia. Karena status hubungan mahram, tidak bisa diubah, dihilangkan atau dicabut. Sekali menjadi mahram, selamanya akan menjadi mahram.

Syarat Mahram Antara Menantu dan Mertua

Jika si Putra dan si Putri melangsungkan akad nikah, kemudian terjadi perceraian atau salah satu meninggal sebelum terjadi hubungan badan, apakah mereka menjadi mahram bagi mertuanya?

Dalam hal ini ada dua pendapat ulama,

Pertama, mereka bisa menjadi mahram hanya dengan akad nikah, meskipun belum terjadi hubungan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

ﺇﻥ ﻣﻦ ﺗﺰﻭﺝ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺛﻢ ﻃﻠﻘﻬﺎ ﻗﺒﻞ‎ ‎ﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﺑﻬﺎ ﺃﻭ ﻣﺎﺗﺖ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺘﺰﻭﺝ‎ ‎ﺃﻣﻬﺎ ﻋﻨﺪ ﻋﺎﻣﺔ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ

”Orang yang menikahi wanita, kemudian dia menceraikannya sebelum hubungan badan dengannya atau istrinya meninggal, maka orang ini tidak boleh menikahi ibu mertuanya, menurut mayoritas ulama.” (Badai as-Shanai, 2/258)

Kedua, mereka baru bisa menjadi mahram dengan mertuanya, hingga terjadi hubungan badan setelah akad.

ﻭﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﺩﺍﻭﺩ ﺍﻷﺻﻔﻬﺎﻧﻲ ﻭﻣﺤﻤﺪ‎ ‎ﺑﻦ ﺷﺠﺎﻉ ﺍﻟﺒﻠﺨﻲ ﻭﺑﺸﺮ ﺍﻟﻤﺮﻳﺴﻲ : ﺇﻥ‎ ‎ﺃﻡ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﻻ ﺗﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﺑﻨﻔﺲ‎ ‎ﺍﻟﻌﻘﺪ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﺑﺒﻨﺘﻬﺎ

“Imam Malik, Daud al-Asfahani, Muhammad bin Syuja’ al-Bulkhi, dan Bisyr al-Marisi berpendapat, bahwa ibu mertua tidak bisa menjadi mahram dengan anak menantunya, hanya dengan sebab akad, selama dia belum berhubungan badan dengan putrinya.” (Badai as-Shanai, 2/258)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/hukum-berjabat-tangan-dengan-bekas-ayah-mertua/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 10/08/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: