Menunda Khitan Sampai Besar dan Hukum Acara Syukuran Khitan

Kebiasaan di Indonesia seperti ini, yaitu melakukan khitan anak-anak mereka saat berumur seusia anak SD bahkan ada juga yang SMP. Sedangkan jika kita lihat hadits-hadits dan petunjuk Islam bahwasanya usia khitan adalah ketika bayi berumur 7 hari atau ketika masih kecil sekali. Dan bagaimana juga hukum acara walimah khitan yang sering dilakukan di masyarakat kita?

Waktu Disyariatkannya Khitan

Waktu untuk berkhitan memang masih diperselisihkan ulama, ada pendapat yang mengatakan hari kelahiran, hari ketujuh atau ketika berusia tujuh tahun. Adapun yang lebih tepat adalah boleh kapan saja asalkan tidak melebihi usia baligh.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,

ﻭَﺍﺧْﺘُﻠِﻒَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻮَﻗْﺖِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﺸْﺮَﻉُ ﻓِﻴﻪِ‏‎ ‎ﺍﻟْﺨِﺘَﺎﻥُ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤَﺎﻭَﺭْﺩِﻱُّ ﻟَﻪُ ﻭَﻗْﺘَﺎﻥِ ﻭَﻗْﺖُ‏‎ ‎ﻭُﺟُﻮﺏٍ ﻭَﻭَﻗْﺖُ ﺍﺳْﺘِﺤْﺒَﺎﺏٍ ﻓَﻮَﻗْﺖُ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺏِ‏‎ ‎ﺍﻟْﺒُﻠُﻮﻍُ ﻭَﻭَﻗْﺖُ ﺍﻟِﺎﺳْﺘِﺤْﺒَﺎﺏِ ﻗَﺒْﻠَﻪُ

“Diperselisihkan waktu disyariatkannya khitan. Al-Mawardi berkata, “Khitan itu mempunyai dua waktu, waktu wajib dan waktu mustahab (sunnah). Waktu wajib adalah ketika usia baligh, sedangkan waktu mustahab adalah sebelum baligh.” [1]

Syaikh Abdullah Al-Jibrin rahimahullah berkata,

ﻭﺍﺧﺘﺎﺭ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ،‏‎ ‎ﻭﻗﻴﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ، ﻓﺈﻥ ﺃﺧﺮ ﻓﻔﻲ‎ ‎ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ، ﻓﺈﻥ ﺃﺧﺮ ﻓﺈﻟﻰ ﺳﺒﻊ‎ ‎ﺳﻨﻴﻦ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺴﻦ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺆﻣﺮ ﻓﻴﻪ‎ ‎ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ، ﻓﺈﻥ ﻣﻦ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺼﻼﺓ‎ ‎ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ، ﻭﻻ ﺗﺘﻢ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﺨﺘﺎﻥ

“Sebagian memilih dilakukan khitan ketika hari lahir, ada juga pendapat ketika berusia tujuh hari dan jika ingin ditunda maka pada hari ke-40 dan jika masih ingin ditunda lagi maka saat berusia tujuh tahun yaitu umur diperintahkan agar melaksanakan shalat karena salah satu syarat shalat adalah thaharah (suci). Dan hal ini tidak sempurna kecuali dengan berkhitan.” [2]

Boleh Menunda Khitan Tetapi Lebih Baik Menyegerakan

Dalil boleh menunda adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ ﻗﺎﻝ: ﺳﺌﻞ ﺍﺑﻦ‎ ‎ﻋﺒﺎﺱ: ﻣﺜﻞ ﻣﻦ ﺃﻧﺖ ﺣﻴﻦ ﻗﺒﺾ ﺍﻟﻨﺒﻲ‎ ‎ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ؟ ﻗﺎﻝ: ﺃﻧﺎ ﻳﻮﻣﺌﺬ‎ ‎ﻣﺨﺘﻮﻥ، ﻗﺎﻝ: ﻭﻛﺎﻧﻮﺍ ﻻ ﻳﺨﺘﻨﻮﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ‎ ‎ﺣﺘﻰ ﻳﺪﺭﻙ

Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, Ibnu Abbas pernah ditanya, “Seperti apa dirimu ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat?” Ia menjawab, “Aku pada waktu itu telah dikhitan. Dan mereka (para shahabat) tidaklah mengkhitan seseorang hingga ia baligh.” [3]

Akan tetapi lebih baik menyegerakannya karena lebih segera menunaikan amal. Allah Ta’ala berfirman,

ﻓَﺎﺳْﺘَﺒِﻘُﻮﺍْ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.” (Al-Baqarah: 148)

ﻭَﺳَﺎﺭِﻋُﻮﺍْ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓٍ ﻣِّﻦ ﺭَّﺑِّﻜُﻢْ ﻭَﺟَﻨَّﺔٍ‏‎ ‎ﻋَﺮْﺿُﻬَﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕُ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽُ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ‏‎ ‎ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-Imran: 133)

Syaikh Abdullah Al-Jibrin rahimahullah berkata,

ﺍﻷﻓﻀﻞ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻐﺮ ﻓﻔﻴﻪ ﻣﺼﻠﺤﺔ‎ ‎ﻭﻫﻲ ﺃﻥ ﺍﻟﺠﻠﺪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻳﻐﻠﻆ‎ ‎ﻭﻳﺨﺸﻦ، ﻓﻠﺬﻟﻚ ﺟﻮﺯﻭﺍ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﻗﺒﻞ‎ ‎ﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻟﺮﻗﺔ ﺍﻟﺠﻠﺪﺓ ﻭﺳﻬﻮﻟﺔ ﻗﻄﻌﻬﺎ،‏‎ ‎ﻭﻷﻧﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻐﺮ ﻻ ﺣﻜﻢ ﻟﻌﻮﺭﺗﻪ، ﻓﻴﺠﻮﺯ‎ ‎ﻛﺸﻔﻬﺎ ﻭﻟﻤﺴﻬﺎ ﻟﻤﺼﻠﺤﺔ، ﺛﻢ ﺇﻥ ﺫﻟﻚ‎ ‎ﺃﻳﻀﺎ ﺃﺳﻬﻞ ﻟﻌﻼﺟﻪ ﻭﻣﺪﺍﻭﺍﺓ ﺍﻟﺠﺮﺡ‎ ‎ﻭﺑﺮﺋﻪ ﺳﺮﻳﻌﺎ… ﻓﻴﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺆﺧﺮ ﻋﻦ‎ ‎ﻭﻗﺖ ﺍﻻﺳﺘﺤﺒﺎﺏ، ﺃﻣﺎ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﻓﻬﻮ‎ ‎ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﻭﺍﻟﺘﻜﻠﻴﻒ ﻓﻴﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻟﻢ‎ ‎ﻳﺨﺘﻦ ﺃﻥ ﻳﺒﺎﺩﺭ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﻣﺎ ﻟﻢ‎ ‎ﻳﺨﻒ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ

“Yang afdhal (lebih baik) khitan dilakukan ketika kecil karena ada mashlahat yaitu (jika dilakukan saat besar) kulit (pembungkus penis) setelah usia tamyis (sekitar 7 tahun) akan mengeras dan menebal. Oleh karena itu khitan dilakukan sebelum tamyis karena masih lunaknya kulit dan mudah untuk dipotong. Dan juga karena ketika kecil belum ada hukum aurat, maka boleh membuka dan menyentuhnya untuk kemashlahatan. Kemudian juga lebih mudah diobati dan luka lebih cepat sembuh.

Disunnahkan agar tidak mengakhirkan khitan dari waktu yang dianjurkan, adapun (batasan) waktu wajib adalah usia baligh dan taklif (wajib menjalani beban ibadah). Maka wajib bagi yang belum berkhitan agar bersegera sebelum mencapai usia baligh selama tidak ada yang dikhawatirkan pada dirinya.” [4]

Dan wajib sesegera mungkin khitan jika telah mencapai usia baligh karena itu adalah waktu wajib. Bahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkhitan ketika berusia 80 tahun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺧْﺘَﺘَﻦَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢُ ﺧَﻠِﻴْﻞُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑَﻌْﺪَ ﻣﺎَ‏‎ ‎ﺃَﺗَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺛَﻤَﺎﻧُﻮْﻥَ ﺳَﻨَﺔً

“Ibrahim Khalilur Rahman berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun.” [5]

Boleh Melakukan Walimah (syukuran) Khitan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

ﻭﺃﻣﺎ ” ﻭﻟﻴﻤﺔ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ” ﻓﻬﻲ ﺟﺎﺋﺰﺓ: ﻣﻦ‎ ‎ﺷﺎﺀ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻭﻣﻦ ﺷﺎﺀ ﺗﺮﻛﻬﺎ

Adapun walimah (syukuran) khitan, maka hukumnya mubah (diperbolehkan). Barangsiapa yang menginginkan maka boleh ia melakukannya dan boleh juga meninggalkannya.” [6]

Syaikh Abdullah Al-Jibrin rahimahullah berkata,

ﺃﻣﺎ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﻮﻟﻴﻤﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ‎ ‎ﺑﻬﺎ ﻭﻫﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻻﺋﻢ ﺍﻟﻘﺪﻳﻤﺔ ﻗﺒﻞ‎ ‎ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﺗﺴﻤﻰ ﺍﻹﻋﺬﺍﺭ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ‎ ‎ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺯﻣﻨﺔ ﻗﺪ ﺗﻐﺎﻓﻠﻮﺍ ﻋﻨﻬﺎ،‏‎ ‎ﻓﻠﻴﺴﺖ ﺳﻨﺔ ﻣﺆﻛﺪﺓ ﻛﺎﻟﻌﻘﻴﻘﺔ، ﻭﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﺃﻋﻠﻢ.

“Adapun acara walimah (syukuran) maka tidak mengapa, hal tersebut adalah termasuk acara walimah di zaman dahulu sebelum Islam yang dinamakan i’dzaar, walaupun manusia di zaman sekarang telah melupakannya. Acara walimah tersebut bukan sunnah yang ditekankan sebagaimana aqiqah.” [7]

Dan walimah khitan termasuk dalam keumuman agar kita menghadiri acara walimah jika diundang. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇﺫﺍ ﺩﻋﺎ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺃﺧﺎﻩ ﻓﻠﻴﺠﺐ، ﻋﺮﺳﺎ ﻛﺎﻥ‎ ‎ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻩ.

“Apabila salah seorang di antara kalian mengundang (walimah) saudaranya, hendaklah ia memenuhinya, baik undangan pernikahan atau yang semisalnya.” [8]

Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu masjid, 2 Shafar 1434 H.

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] FathulBari 10/342, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, Syamilah.

[2] Sumber: http://ibn-jebreen.com/?t=books&cat=1&book=49&toc=2188&page=2024&subid=735

[3] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (11/90-Al-Fath), Imam Ahmad (1/264-287-357).

[4] Sumber: http://ibn-jebreen.com/?t=books&cat=1&book=49&toc=2188&page=2024&subid=735

[5] Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (6298-Al-Fath), Imam Muslim (2370), dan Imam Ahmad (2/322-418) dan lafadz hadits ini ada pada beliau.

[6] Majmu’ Al-Fatawa 32/206, Majma’ Malik Fadh, 1416 H, syamilah.

[7] Sumber: http://ibn-jebreen.com/?t=books&cat=1&book=49&toc=2188&page=2024&subid=735.

[8] HR. Abu Dawud no. 3738.

Sumber: http://muslimafiyah.com/menunda-khitan-sampai-besar-dan-hukum-acara-syukuran-khitan.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 15/09/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: