Shalat dengan Darah di Baju, Apakah Sah?

Ada yang bertanya jika punya luka walaupun kecil kemudian menempel sedikit di baju, bagaimana kita shalat? Apakah darah yang menempel najis? Begitu pula tenaga medis yang sering terkena cipratan atau beberapa tetes darah ketika bertugas? Apakah harus segera ganti baju?

Pembahasan darah, apakah najis atau tidak diperselisihkan oleh ulama:

Pendapat yang Menyatakan Darah adalah Najis

Pendapat ini berdasarkan ayat,

ﻗُﻞْ ﻻ ﺃَﺟِﺪُ ﻓِﻲ ﻣَﺎ ﺃُﻭﺣِﻲَ ﺇِﻟَﻲَّ ﻣُﺤَﺮَّﻣًﺎ‎ ‎ﻋَﻠَﻰ ﻃَﺎﻋِﻢٍ ﻳَﻄْﻌَﻤُﻪُ ﺇِﻻ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻣَﻴْﺘَﺔً ﺃَﻭْ‏‎ ‎ﺩَﻣًﺎ ﻣَﺴْﻔُﻮﺣًﺎ ﺃَﻭْ ﻟَﺤْﻢَ ﺧِﻨْﺰِﻳﺮٍ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺭِﺟْﺲٌ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor.” (Al An’am: 145)

Bahkan Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan ijma’ bahwa darah adalah najis. Beliau berkata,

ﺍﻟﺪﻻﺋﻞ ﻋﻠﻰ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﺪﻡ ﻣﺘﻈﺎﻫﺮﺓ ، ﻭﻻ‎ ‎ﺃﻋﻠﻢ ﻓﻴﻪ ﺧﻼﻓﺎ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ

“Dalil-dalil mengenai kenajisan darah jelas, aku tidak mengetahui adanya khilaf salah satupun di antara kaum muslimin.” [1]

Imam Ahmad rahimahullah ditanya mengenai darah,

ﻟﺪﻡ ﻭﺍﻟﻘﻴﺢ ﻋﻨﺪﻙ ﺳﻮﺍﺀ ؟

“Apakah darah dan muntahan sama menurutmu?”

ﻓﻘﺎﻝ : ﺍﻟﺪﻡ ﻟﻢ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻴﻪ ،‏‎ ‎ﻭﺍﻟﻘﻴﺢ ﻗﺪ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻴﻪ

Beliau menjawab: “Darah tidak diperselisihkan oleh manusia (kenajisannya), adapun muntahan maka diperselisihkan.” [2]

Begitu juga Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya mengenai orang yang shalat dengan baju yang ada darahnya,

ﻣﻦ ﻋﻠﻰ ﻟﺒﺎﺳﻪ ﺑﻘُﻊ ﺩﻡ ﻫﻞ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﻬﺎ‎ ‎ﺃﻡ ﻳﻨﺘﻈﺮ ﺣﺘﻰ ﻳﺤﻀﺮ ﻟﻪ ﻟﺒﺎﺱ ﻧﻈﻴﻒ ؟

Orang yang ada sedikit darah di bajunya, apakah ini shalat dengan baju tersebut atau ia menunggu (misalnya keadaaan dokter setelah operasi) sampai ada baju yang bersih baginya?

ﺝ : ﻳﺼﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺣﺎﻟﻪ ، ﻓﻼ ﻳﺪﻉ‎ ‎ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺣﺘﻰ ﻳﺨﺮﺝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ؛ ﺑﻞ ﻳﺼﻠﻲ‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺣﺎﻟﻪ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻤﻜﻨﻪ ﻏﺴﻠﻬﺎ‎ ‎ﻭﻻ ﺇﺑﺪﺍﻟﻬﺎ ﺑﺜﻴﺎﺏ ﻃﺎﻫﺮﺓ ﻗﺒﻞ ﺧﺮﻭﺝ‎ ‎ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ } : ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﺎ‎ ‎ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ { ] ﺍﻟﺘﻐﺎﺑﻦ 16 : [‏‎ ‎ﻭﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﻐﺴﻞ ﻣﺎ ﺑﻪ‎ ‎ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻡ ﺃﻭ ﻳﺒﺪﻝ ﺛﻮﺑﻪ ﺍﻟﻨﺠﺲ ﺑﺜﻮﺏ ﺁﺧﺮ‎ ‎ﻃﺎﻫﺮ ﺇﺫﺍ ﺍﺳﺘﻄﺎﻉ ﺫﻟﻚ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ‎ ‎ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺣﺎﻟﻪ ، ﻭﻻ ﺇﻋﺎﺩﺓ ﻋﻠﻴﻪ‎ ‎ﻟﻶﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﻳﻤﺔ ، ﻭﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ‎ ‎ﻭﺳﻠﻢ : » ﻣﺎ ﻧﻬﻴﺘﻜﻢ ﻋﻨﻪ ﻓﺎﺟﺘﻨﺒﻮﻩ ﻭﻣﺎ‎ ‎ﺃﻣﺮﺗﻜﻢ ﺑﻪ ﻓﺄﺗﻮﺍ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﺍﺳﺘﻄﻌﺘﻢ « –‏‎ ‎ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻰ ﺻﺤﺘﻪ –

Ia shalat dengan keadaannya saat itu jika tidak memungkinkan membersihkan/mencucinya atau menggantinya dengan yang bersih/suci, ia shalat sebelum keluar waktunya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

“Bertakwalah semampu kalian.” (At-Taghabun: 16)

Wajib bagi seorang muslim agar mencuci/membersihkan darah atau menggantinya dengan pakaian yang bersih jika ia mampu. Jika tidak mampu maka ia shalat sebagaimana keadaannya. Ia tidak perlu mengulang shalatnya sebagaimana keterangan dari ayat dan sebagaimana pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apa yang aku larang maka jauhilah dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian.” (Muttafaqun alaihi) [3]

Pendapat yang Menyatakan Darah Tidak Najis

Inilah pendapat yang LEBIH KUAT dengan beberapa alasan:

Pertama: hukum asal sesuatu suci, sampai ada dalil yang mengharamkan.

Kedua: makna rijs (dalam surat Al-An’am: 145) maknanya bukan najis secara hakikat akan tetapi najis maknawi. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang kaum munafikin,

“Berpalinglah kalian darinya karena sesungguhnya mereka adalah rijs.” (QS. At-Taubah: 95)

Yakni najis kekafirannya tapi tidak najis tubuhnya.

Ketiga: para sahabat dahulunya berperang dengan luka di tubuh dan baju tetapi tidak ada perintah untuk membesihkannya.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

ﻣَﺎ ﺯَﺍﻝَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﻓِﻰ ﺟِﺮَﺍﺣَﺎﺗِﻬِﻢْ

“Kaum muslimin (yaitu para sahabat) biasa mengerjakan shalat dalam keadaan luka.” [4]

Begitu juga kisah ketika Umar bin Khattab ditusuk oleh Abu Lu’luah, beliau berkata,

ﻭَﻟَﺎ ﺣَﻆَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Lalu ‘Umar shalat dalam keadaan darah yang masih mengalir. [5]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

ﻟﻴُﻌﻠﻢ ﺃﻥَّ ﺍﻟﺪﻡ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﻣﻦ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ‎ ‎ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺴﺒﻴﻠﻴﻦ ﻻ ﻳﻨﻘﺾ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ، ﻻ ﻗﻠﻴﻠﻪُ‏‎ ‎ﻭﻻ ﻛﺜﻴﺮﻩُ ﻛﺪﻡ ﺍﻟﺮُّﻋﺎﻑ، ﻭﺩﻡ ﺍﻟﺠﺮﺡ

“Perlu diketahui bahwa darah yang keluar dari manusia selain dua jalan (keluar dari qubul dan dubur) tidak membatalkan wudhu baik sedikit ataupun banyak semisal darah mimisan dan darah yang keluar dari luka.” [6]

Kesimpulannya:

Jika ada darah di baju (misalnya karena luka atau tenaga medis setelah melakukan operasi) maka tidak mengapa shalat dengan baju tersebut, akan tetapi jika ada baju yang bersih dan bisa segara didapatkan, maka sebaiknya mengganti baju. Wallahu a’lam.

@RS Mitra Sehat-Yogya, 16 Rajab 1434 H.

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab 2/576.

[2] Syarh Umdatul fiqh 1/105.

[3]sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/2466

[4] HR. Bukhari secara mu’allaq (tanpa sanad) dalam kitab shahihnya.

[5] HR. Malik dalam Muwatha’-nya (2/54).

[6] Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Syaikh Utsaimin.

Sumber: http://muslimafiyah.com/shalat-dengan-darah-di-baju.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 19/09/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: