Transfusi Darah Tidak Menjadikan Mahram

Ada sebagian pemahaman yang salah bahwa transfusi darah dari satu orang ke orang yang lain bisa menjadikan saudara persusuan. Yaitu orang yang memberikan darah transfusi akan menjadi saudara persusuan bagi mereka yang menerima darah transfusi. Mereka kiaskan bahwa susu mirip dengan darah. Karena menurut mereka air susu terbentuk dari percampuran darah. Mereka kiaskan dengan dalil persusuan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻳَﺤْﺮُﻡُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻉِ ﻣَﺎﻳَﺤْﺮُﻡُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺴَﺐِ

“Persusuan itu menyebabkan adanya hubungan mahram, sama seperti keturunan.” [1]

Ini adalah qiyas yang salah, dijelaskan dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah [2]:

ﻗﻴﺎﺱ ﺍﻟﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺿﺎﻉ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﻗﻴﺎﺱ‎ ‎ﻏﻴﺮ ﺻﺤﻴﺢ؛ ﻟﺴﺒﺒﻴﻦ:‏‎ ‎ﺍﻷﻭﻝ: ﺃﻥ ﺍﻟﺪﻡ ﻟﻴﺲ ﻣﻐﺬﻳﺎ ﻛﺎﻟﻠﺒﻦ.‏‎ ‎ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺃﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻨﺘﺸﺮ ﺑﻪ ﺍﻟﺤﺮﻣﺔ‎ ‎ﺑﻤﻮﺟﺐ ﺍﻟﻨﺺ ﻫﻮ ﺭﺿﺎﻉ ﺍﻟﻠﺒﻦ‎ ‎ﺑﺸﺮﻃﻴﻦ:‏‎ ‎ﺍﻷﻭﻝ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﺮﺿﺎﻉ ﻣﺸﺒﻌﺎ.‏‎ ‎ﻭﻟﻠﻔﻘﻬﺎﺀ ﺁﺭﺍﺀ ﻋﺪﺓ ﻓﻲ ﻋﺪﺩ ﺍﻟﻤﺮﺍﺕ‎ ‎ﺣﺴﺐ ﺗﻌﺪﺩ ﺭﻭﺍﻳﺎﺕ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻮﺍﺭﺩﺓ،‏‎ ‎ﻟﻜﻦ ﺍﻟﻤﻘﻄﻮﻉ ﺑﻪ ﻣﺮﺓ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻣﺸﺒﻌﺔ.‏‎ ‎ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻮﻟﻴﻦ. ﻟﻘﻮﻟﻪ‎ ‎ﺗﻌﺎﻟﻰ} :ﻭَﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﺍﺕُ ﻳُﺮْﺿِﻌْﻦَ ﺃَﻭْﻟَﺎﺩَﻫُﻦَّ‏‎ ‎ﺣَﻮْﻟَﻴْﻦِ{ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ، 233 (. ﻓﻼ ﺭﺿﺎﻉ ﻳﺤﺮﻡ‎ ‎ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ. ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻴﻤﺎ ﺭﻭﺗﻪ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﻋﻨﻬﺎ )ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺠﺎﻋﺔ ( ]3 [‏‎ ‎ﻭﻋﻦ ﺃﻡ ﺳﻠﻤﺔ ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ‎ ‎ﻭﺳﻠﻢ )ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺿﺎﻉ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻓﺘﻖ‎ ‎ﺍﻷﻣﻌﺎﺀ، ﻭﻛﺎﻥ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻔﻄﺎﻡ ( ]4 [.

Mengqiyaskan darah dengan susu dalam hal ‘Radha’ (saudara persusuan) adalah qiyas yang tidak benar, karena dua alasan:

Pertama: darah tidak mengenyangkan sebagaimana ASI.

Kedua: yang menyebabkan terjadinya kemahraman adalah pemberian ASI dengan dua syarat:

1. Pemberian ASI mengenyangkan bayi (salah satu tandanya adalah bayi melepaskan sendiri dari susuannya, pent). Ada beberapa pendapat ulama mengenai jumlah menyusui sebagaimana ada beberapa riwayat mengenai hal ini. Akan tetapi yang pasti adalah sekali saja yang mengenyangkan. [5]

2. Disusui dalam usia di bawah dua tahun. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh.” (Al-Baqarah: 233)

Maka tidak terjadi saudara persusuan setelah dua tahun. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari riwayat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻋَﺔُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺠَﺎﻋَﺔِ.

“Hanya persusuan yang (mengharamkan), disebabkan oleh rasa lapar.” [6]

Dan riwayat dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anhu,

ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻓﺘﻖ ﺍﻷﻣﻌﺎﺀ‎ ‎ﻓﻲ ﺍﻟﺜﺪﻱ، ﻭﻛﺎﻥ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻔﻄﺎﻡ

“Penyusuan tidaklah mengharamkan kecuali apa yang mengenyangkan perut di masa menyusui yang dilakukan sebelum masa penyapihan.” [7]

Ma’maj fiqh Al-Islami menegaskan bahwa tidak ada jalan saudara persusuan kecuali persusuan,

ﻻ ﻳﺼﺢ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻘﻴﺎﺱ ، ﻓﺎﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﺍﻟﻮﺍﺭﺩ‎ ‎ﺇﺛﺒﺎﺗﻪ ﺑﺎﻟﺸﺮﻉ ﺧﺎﺹ ﺑﺎﻟﺮﺿﺎﻉ

“Qiyas ini tidak benar, kemahraman secara syariat hanya khusus pada persusuan.” [8]

Oleh karena ini apa yang dikhawatirkan oleh sebagian orang bahwa transfusi darah antara suami-istri bisa menimbulkan kemahraman (istri jadi mahram suami yang tidak bisa dinikahi) adalah pemahaman yang keliru.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

ﻻ ﻧﻘﻞ ﺍﻟﺪﻡ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺮﺿﺎﻉ ﻧﻘﻞ‎ ‎ﺍﻟﺪﻡ ﻻ ﻳﻀﺮ ﻭﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺣﻜﻤﻪ ﺣﻜﻢ‎ ‎ﺍﻟﺮﺿﺎﻉ, ﻓﻠﻮ ﺃﻥ ﺯﻭﺟﺎً ﺃﻋﻄﻰ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﻣﻦ‎ ‎ﺩﻣﻪ ﺇﺳﻌﺎﻓﺎً ﻟﻬﺎ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻻ ﺗﺤﺮﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺬﻟﻚ‎ ‎ﺑﻞ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻤﺴﺎﻋﺪﺓ ﻛﺎﻟﻤﺴﺎﻋﺪﺓ‎ ‎ﺑﺎﻟﻤﺎﻝ, ﻭﺍﻟﺮﺿﺎﻉ ﺷﻲﺀ ﺁﺧﺮ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ‎ ‎ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻠﺪﻡ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺮﺿﺎﻉ.‏‎ ‎ﺑﺎﺭﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻜﻢ

“Transfusi darah tidaklah sebagaimana persusuan. Transfusi darah tidak memberikan madharat dan tidak sama hukumnya dengan persusuan. Seandainya suami memberikan darahnya (transfusi) kepada istrinya untuk menolong nyawanya maka ia tidak menjadi mahramnya. Bahkan ini termasuk tolong-menolong. Persusuan adalah sesuatu yang berbeda tidak sama dengan darah dan darah tidak sama hukumnya dengan ASI.” [9]

Demikian semoga bermanfaat.

@Lab Patologi Klinik RS Sardjito

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] HR. Bukhari dan Muslim.

[2] Fatwa Nur ‘alad darb, majallah buhuts Al-Islami 4/332.

[5] Pendapat terkuat adalah 5 kali persusuan. Sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻋَﺸْﺮُ ﺭَﺿَﻌَﺎﺕٍ‏‎ ‎ﻣَﻌْﻠُﻮْﻣَﺎﺕٍ ﻳُﺤَﺮِّﻣْﻦَ ﺛُﻢَّ ﻧُﺴِﺨْﻦَ ﺑِﺨَﻤْﺲٍ‏‎ ‎ﻣَﻌْﻠُﻮْﻣَﺎﺕٍ ﻓَﺘُﻮُﻓِّﻲَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ‏‎ ‎ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺍْﻷَﻣْﺮُ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ

“Yang pernah diturunkan dalam Al-Quran adalah bahwa sepuluh kali persusuan menyebabkan adanya hubungan mahram, kemudian hal itu dihapus menjadi lima kali persusuan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan keadaan masih seperti itu.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi dan kitab Jami’-nya, dan lafal hadits ini diambil dari beliau)

[6] HR. Bukhari no. 2647 dan Muslim no. 1455.

[7] HR. At-Tirmidzi no. 1152, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 1/589-590.

[8] Majallah Buhuts Al-Islami 35/343.

[9] Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/17568

Sumber: http://muslimafiyah.com/transfusi-darah-tidak-menjadikan-mahram-saudara-persusuan.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 21/09/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: