Hukum Membuat Bank Darah (misal: PMI)

Darah merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia sampai-sampai ada istilah “darah kehidupan”. Syariat Islam juga mengatur beberapa hal tentang darah, mulai pembahasan apakah najis atau tidak, bagaimana darah wanita dan hukum memakan serta menjualnya.

Dalam kehidupan modern ini sudah tidak asing lagi dengan istilah bank darah atau lebih dikenal oleh masyarakat awam dengan PMI darah. Bagaimana syariat Islam memandang hukum membuat bank darah?

Berikut ketetapan dari Hai’ah kibar ulama (Terdiri dari kumpulan ulama senior yang mumpuni) mengenai bank darah:

ﻭﺑﻌﺪ ﺩﺭﺍﺳﺔ ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻉ ﻭﻣﻨﺎﻗﺸﺘﻪ‎ ‎ﻭﺗﺪﺍﻭﻝ ﺍﻟﺮﺃﻱ ﻓﻴﻪ، ﻗﺮﺭ ﺍﻟﻤﺠﻠﺲ‎ ‎ﺑﺎﻷﻛﺜﺮﻳﺔ ﻣﺎ ﻳﻠﻲ: ﺃﻭﻻ: ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺘﺒﺮﻉ‎ ‎ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﺩﻣﻪ ﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﻀﺮﻩ ﻋﻨﺪ‎ ‎ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ؛ ﻹﺳﻌﺎﻑ ﻣﻦ ﻳﺤﺘﺎﺟﻪ‎ ‎ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺮﺿﻰ. ﺛﺎﻧﻴﺎ: ﻳﺠﻮﺯ ﺇﻧﺸﺎﺀ ﺑﻨﻚ‎ ‎ﺇﺳﻼﻣﻲ ﻟﻘﺒﻮﻝ ﻣﺎ ﻳﺘﺒﺮﻉ ﺑﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ‎ ‎ﺩﻣﺎﺋﻬﻢ ﻭﺣﻔﻆ ﺫﻟﻚ ﻹﺳﻌﺎﻑ ﻣﻦ ﻳﺤﺘﺎﺝ‎ ‎ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺄﺧﺬ‎ ‎ﺍﻟﺒﻨﻚ ﻣﻘﺎﺑﻼ ﻣﺎﻟﻴﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺮﺿﻰ ﺃﻭ ﺃﻭﻟﻴﺎﺀ‎ ‎ﺃﻣﻮﺭﻫﻢ ﻋﻮﺿﺎ ﻋﻤﺎ ﻳﺴﻌﻔﻬﻢ ﺑﻪ ﻣﻦ‎ ‎ﺍﻟﺪﻣﺎﺀ، ﻭﺃﻻ ﻳﺘﺨﺬ ﺫﻟﻚ ﻭﺳﻴﻠﺔ ﺗﺠﺎﺭﻳﺔ‎ ‎ﻟﻠﻜﺴﺐ؛ ﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﻠﺤﺔ‎ ‎ﺍﻟﻌﺎﻣﺔ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ.

Setelah mempelajari masalah ini dengan berdiskusi dan bertukar pikiran (dengan ahlinya). Mayoritas majelis menetapkan:

1. Manusia boleh mendonorkan darahnya selama tidak membahayakan dan ada kebutuhan untuk menyelamatkan orang sakit yang membutuhkan.

2. BOLEH mendirikan bank darah, menerima donor darah dari manusia untuk diberikan kepada kaum muslimin yang membutuhkan. Bank Darah tidak boleh mengambil kompensasi berupa uang (menjual darah) kepada orang sakit atau wali mereka untuk mendapat keuntungan. Karena hal ini untuk kemaslahatan kaum muslimin secara umum.

Donor darah di bank darah termasuk amalan yang sangat mulia

Yaitu termasuk memelihara kehidupan manusia bahkan seolah-olah seluruhnya. Mengenai ayat,

ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺣْﻴَﺎﻫَﺎ ﻓَﻜَﺄَﻧَّﻤَﺎ ﺃَﺣْﻴَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ

“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Maidah: 32)

Ketika Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah ditanya apakah donor darah termasuk dalam ayat di atas, beliau menjawab:

ﻭﻟﻌﻠﻪ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﻳﻤﺔ، ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ‎ ‎ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﺒﺮﻉ ﺑﺈﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﺗﻌﺎﻟﻰ

“Boleh jadi donor darah termasuk dalam ayat yang mulia tersebut. Jika kesembuhan tergantung/terwujud dengan donor darah tersebut -jika Allah mengizinkannya-.”

Jual Beli Darah Haram Hukumnya

Akan tetapi syarat mendirikan bank darah adalah darah tersebut tidak boleh diperjual-belikan.

ﻋَﻦْ ﻋَﻮْﻥِ ﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻰ ﺟُﺤَﻴْﻔَﺔَ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ ﺃَﻧَّﻪُ‏‎ ‎ﺍﺷْﺘَﺮَﻯ ﻏُﻼَﻣًﺎ ﺣَﺠَّﺎﻣًﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ –‏‎ ‎ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻧَﻬَﻰ ﻋَﻦْ ﺛَﻤَﻦِ‏‎ ‎ﺍﻟﺪَّﻡِ ، ﻭَﺛَﻤَﻦِ ﺍﻟْﻜَﻠْﺐِ ، ﻭَﻛَﺴْﺐِ ﺍﻟْﺒَﻐِﻰِّ ،‏‎ ‎ﻭَﻟَﻌَﻦَ ﺁﻛِﻞَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﻣُﻮﻛِﻠَﻪُ ﻭَﺍﻟْﻮَﺍﺷِﻤَﺔَ‏‎ ‎ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻮْﺷِﻤَﺔَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺼَﻮِّﺭَ

Dari Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya, Abu Juhaifah, bahwasanya beliau membeli seorang budak laki-laki yang memiliki keterampilan membekam. Abu Juhaifah mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pendapatan dari darah (jual beli darah dan sebagainya, pent), pendapatan dari jual beli anjing, dan penghasilan pelacur.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaknat pemakan riba, nasabah riba, orang yang menato, orang yang minta ditato, dan orang yang membuat patung atau gambar yang terlarang.

ﺇﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ‎ ‎ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﺛﻤﻦ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﺛﻤﻦ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻭﻛﺴﺐ‎ ‎ﺍﻷﻣﺔ ﻭﻟﻌﻦ ﺍﻟﻮﺍﺷﻤﺔ ﻭﺍﻟﻤﺴﺘﻮﺷﻤﺔ‎ ‎ﻭﺁﻛﻞ ﺍﻟﺮﺑﺎ ﻭﻣﻮﻛﻠﻪ ﻭﻟﻌﻦ ﺍﻟﻤﺼﻮﺭ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hasil penjualan darah, hasil penjualan anjing dan upah dari budak wanita (yang berzina). Beliau juga melaknat orang yang mentato dan yang meminta ditato, memakan riba (rentenir) dan yang menyerahkannya (nasabah), begitu pula tukang gambar (makhluk yang memiliki ruh).”

Dan Allah telah mengharamkan darah bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman,

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺣَﺮَّﻡَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻴْﺘَﺔَ ﻭَﺍﻟﺪَّﻡَ ﻭَﻟَﺤْﻢَ‏‎ ‎ﺍﻟْﺨِﻨْﺰِﻳﺮِ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻫِﻞَّ ﺑِﻪِ ﻟِﻐَﻴْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻤَﻦِ‏‎ ‎ﺍﺿْﻄُﺮَّ ﻏَﻴْﺮَ ﺑَﺎﻍٍ ﻭَﻟَﺎ ﻋَﺎﺩٍ ﻓَﻠَﺎ ﺇِﺛْﻢَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺇِﻥَّ‏‎ ‎ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 173)

Dan sebagaimana kaidah, jika barang tersebut haram maka haram juga jual-belinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺣَﺮَّﻡَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺣَﺮَّﻡَ ﺛَﻤَﻨَﻪُ

“Sesungguhnya jika Allah Ta’ala mengharamkan sesuatu, maka Allah mengharamkan harganya (hasil jual belinya).”

Adapun dana yang dikeluarkan oleh pasien dan keluarga ketika meminta darah dari PMI atau bank darah bukan sebagai bayarannya akan tetapi sebagai pengolahan dan penyimpanan darah yang memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

@Instalasi Laboratorium Klinik, RSUP Sardjito, Yogyakarta Tercinta.

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: http://muslimafiyah.com/hukum-membuat-bank-darah.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 23/09/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: