Hukum Shalat Menggunakan Masker

Soal: Bolehkah shalat dengan memakai masker? Mengingat sekarang lagi musim debu, karena gunung Kelud meletus. Mohon penjelasannya.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Para ulama sepakat bahwa menutup mulut dalam shalat hukumnya makruh. Baik bagi laki-laki maupun wanita. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 52652)

Dihukumi makruh, mengingat adanya larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

ﻧَﻬَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ‏‎ ‎ﺃَﻥْ ﻳُﻐَﻄِّﻲَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻓَﺎﻩُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menutup mulutnya ketika shalat. (HR. Abu Daud 643, Ibnu Majah 966, Ibnu Hibban 2353, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Tindakan menutup mulut atau hidung disebut dengan istilah talatsum [arab: ﺍﻟﺘﻠﺜﻢ].

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Nafi,

ﻋﻦ ﻧﺎﻓﻊ، ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ: »ﺃﻧﻪ ﻛﺮﻩ ﺃﻥ‎ ‎ﻳﺘﻠﺜﻢ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ «

Dari Nafi’ dan Ibnu Umar, bahwa beliau membenci seseorang melakukan talatsum ketika shalat. (al-Mushannaf, no. 7306)

ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﺴﻴﺐ، ﻭﻋﻜﺮﻣﺔ: »ﺃﻧﻬﻤﺎ‎ ‎ﻛﺮﻫﺎ ﺃﻥ ﻳﺘﻠﺜﻢ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ «

Dari Said bin Musayib dan Ikrimah bahwa keduanya membenci seseorang melakukan talatsum ketika shalat. (al-Mushannaf, no. 7307)

ﻋﻦ ﻃﺎﻭﺱ: »ﺃﻧﻪ ﻛﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺍﻟﺮﺟﻞ‎ ‎ﻣﺘﻠﺜﻤﺎ «

Juga dari Thawus, bahwa beliau membenci seseorang shalat dengan talatsum. (al-Mushannaf, no. 7308)

ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ: »ﺃﻧﻪ ﻛﺮﻩ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ‎ ‎ﻣﺘﻠﺜﻤﺎ «

Kemudian dari Hasan al-Bashri bahwa beliau membenci seseorang shalat dengan talatsum. (al-Mushannaf, no. 7310)

Makruh dan Tidak Membatalkan Shalat

Artinya jika ada orang yang melakukannnya ketika shalat, shalatnya sah dan tidak perlu diulangi, sekalipun dia lakukan secara sengaja. An-Nawawi menegaskan,

ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻣﺘﻠﺜﻤﺎ ﺃﻱ‎ ‎ﻣﻐﻄﻴﺎ ﻓﺎﻩ ﺑﻴﺪﻩ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻫﺎ… ﻭﻫﺬﻩ‎ ‎ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺗﻨﺰﻳﻪ ﻻ ﺗﻤﻨﻊ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﺼﻼﺓ

Makruh seseorang melakukan shalat dengan talatsum, artinya menutupi mulutnya dengan tangannya atau yang lainnya…. Makruh disini adalah makruh tanzih (tidak haram), tidak menghalangi keabsahan shalat. (al-Majmu’, 3/179)

Makruh menjadi Mubah

Diantara kaidah yang ditetapkan para ulama dalam ushul Fiqh,

ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ ﺗﻨﺪﻓﻊ ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ

“Hukum makruh menjadi hilang, jika ada kebutuhan.”

Ibnu Abdil Bar mengatakan,

ﺃﺟﻤﻌﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺃﻥ ﺗﻜﺸﻒ‎ ‎ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻹﺣﺮﺍﻡ، ﻭﻷﻥ ﺳﺘﺮ‎ ‎ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻳﺨﻞ ﺑﻤﺒﺎﺷﺮﺓ ﺍﻟﻤﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﺠﺒﻬﺔ‎ ‎ﻭﺍﻷﻧﻒ ﻭﻳﻐﻄﻲ ﺍﻟﻔﻢ، ﻭﻗﺪ ﻧﻬﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ‎ ‎ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻋﻨﻪ. ﻓﺈﻥ‎ ‎ﻛﺎﻥ ﻟﺤﺎﺟﺔ ﻛﺤﻀﻮﺭ ﺃﺟﺎﻧﺐ ﻓﻼ ﻛﺮﺍﻫﺔ،‏‎ ‎ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺗﺰﻭﻝ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ ﻓﻲ ﺣﻘﻪ‎ ‎ﺇﺫﺍ ﺍﺣﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ

Para ulama sepakat bahwa wanita harus membuka wajahnya ketika shalat dan ihram, karena menutup wajah akan menghalangi orang yang shalat untuk menempelkan dahi dan hidungnya, dan menutupi mulut. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang lelaki untuk melakukan hal ini. Namun jika ada kebutuhan, misalnya ada banyak lelaki non mahrom, maka hukumnya tidak makruh. Demikian pula lelaki, hukumnya menjadi tidak makruh jika dia butuh untuk menutupi mulutnya. (dinukil dari al-Mughni, Ibnu Qudamah, 1/432)

Bagi mereka yang sedang dilanda musibah debu, shalat dengan menggunakan masker, hukumnya mubah. Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/hukum-shalat-menggunakan-masker/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 27/11/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: