Memakai Gamis Itu Sunnah, Tapi…

Saudaraku, ketahuilah bahwa memakai gamis adalah suatu yang disunnahkan. Namun kadang memakainya melihat keadaan masyarakat, jangan sampai terjerumus dalam pakaian yang tampil beda (pakaian syuhroh).

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣَﺐَّ ﺍﻟﺜِّﻴَﺎﺏِ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ‎ ‎ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﺍﻟْﻘَﻤِﻴﺺُ

“Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu gamis.” (HR. Tirmidzi no. 1762 dan Abu Daud no. 4025. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Hadits di atas disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin di mana hadits tersebut menunjukkan bahwa pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pakaian gamis.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, Karena gamis di sini lebih menutupi diri dibanding dengan pakaian yang dua pasang yaitu izar (pakaian bawah) dan rida’ (pakaian atas). Namun para sahabat di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang memakai pakaian atas dan bawah seperti itu. Terkadang mereka mengenakan gamis. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyukai gamis karena lebih menutupi. Karena pakaian gamis hanyalah satu dan mengenakannya pun hanya sekali. Memakai gamis di sini lebih mudah dibanding menggunakan pakaian atas bawah, di mana yang dipakai adalah bagian celana terlebih dahulu lalu memakai pakaian bagian atas.

Namun ada catatan yang diberikan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, Akan tetapi jika engkau berada di daerah (negeri) yang terbiasa memakai pakaian atasan dan bawahan, memakai semisal mereka tidaklah masalah. Yang terpenting adalah jangan sampai menyelisihi pakaian masyarakat di negeri kalian agar tidak terjerumus dalam larangan memakai pakaian yang tampil beda. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang pakaian syuhroh (pakaian yang tampil beda). (Lihat Syarh Riyadhis Sholihin, 4: 284-285, terbitan Madarul Wathon)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﻟَﺒِﺲَ ﺛَﻮْﺏَ ﺷُﻬْﺮَﺓٍ ﺃَﻟْﺒَﺴَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻮْﻡَ‏‎ ‎ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺛَﻮْﺑًﺎ ﻣِﺜْﻠَﻪُ

“Barangsiapa memakai pakaian syuhroh, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya pakaian semisal pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 4029 dan Ibnu Majah no. 360. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin menerangkan,

ﺃﻥ ﻣﻮﺍﻓﻘﺔ ﺍﻟﻌﺎﺩﺍﺕ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ‎ ‎ﻫﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ؛ ﻷﻥ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﺍﻟﻌﺎﺩﺍﺕ ﺗﺠﻌﻞ‎ ‎ﺫﻟﻚ ﺷﻬﺮﺓ، ﻭﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ‎ ‎ﻭﺳﻠّﻢ ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﻟﺒﺎﺱ ﺍﻟﺸﻬﺮﺓ ، ﻓﻴﻜﻮﻥ‎ ‎ﻣﺎ ﺧﺎﻟﻒ ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﻣﻨﻬﻴﺎً ﻋﻨﻪ.‏‎ ‎ﻭﺑﻨﺎﺀً ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻧﻘﻮﻝ: ﻫﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺃﻥ‎ ‎ﻳﺘﻌﻤﻢ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ؟ ﻭﻳﻠﺒﺲ ﺇﺯﺍﺭﺍً ﻭﺭﺩﺍﺀً؟
ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ: ﺇﻥ ﻛﻨﺎ ﻓﻲ ﺑﻠﺪ ﻳﻔﻌﻠﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻮ‎ ‎ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﺇﺫﺍ ﻛﻨﺎ ﻓﻲ ﺑﻠﺪ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ‎ ‎ﺫﻟﻚ، ﻭﻻ ﻳﺄﻟﻔﻮﻧﻪ ﻓﻠﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ.

“Mencocoki kebiasaan masyarakat dalam hal yang bukan keharaman adalah disunnahkan. Karena menyelisihi kebiasaan yang ada berarti menjadi hal yang syuhroh (suatu yang tampil beda). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpakaian syuhroh. Jadi sesuatu yang menyelishi kebiasaan masyarakat setempat, itu terlarang dilakukan. Berdasarkan hal itu, apakah yang disunnahkan mengikuti kebiasaan masyarakat lantas memakai pakaian atasan dan bawahan? Jawabannya, jika di negeri tersebut yang ada adalah memakai pakaian seperti itu, maka itu bagian dari sunnah. Jika mereka di negeri tersebut tidak mengenalnya bahkan tidak menyukainya, maka itu bukanlah sunnah.” (Syarhul Mumthi’, 6: 109, terbitan Dar Ibnul Jauzi)

Menyesuaikan dengan tradisi setempat itu boleh selama tidak melanggar ketentuan syari’at. Sehingga tidak tepat ada yang berpendapat bahwa berpakaian bagi orang yang dikenal komitmen dengan agama adalah harus berjubah, bergamis dan berpecis putih. Kalau dianggap bahwa berpakaian seperti itulah yang paling “nyunnah”, itu jelas klaim tanpa dalil. Jadi sah-sah saja berpakaian koko, sarungan dan memakai pecis hitam, untuk menyesuaikan dengan masyarakat agar tidak dianggap aneh. Wallahu a’lam.

Untuk wanita sendiri, tetap mengenakan pakaian yang dituntunkan dalam Islam. Jika masyarakat punya kebiasaan memakai pakaian ketat, berjilbab kecil dan memakai celana panjang, tentu saja tidak dianjurkan untuk mengikuti mereka. Bahkan tetap berpakaian syar’i sebagaimana yang diperintahkan.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:
– Syarhul Mumthi’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1424 H.

– Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan tahun 1426 H.

Penulis: Ust. Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: http://rumaysho.com/umum/sunnah-memakai-gamis-bagi-pria-6920

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 01/12/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: