Thibbun Nabawi, Mubah Atau Sunnah?

Selama ini banyak yang mengetahui bahwa thibbun nabawi hukumnya adalah sunnah, bahkan ada sebagian kecil orang yang terlalu berlebihan dan menganggap bahwa thibbun nabawi adalah keharusan yang mutlak, jika tidak melakukannya dan menjadikan sebagai pilihan pertama maka keimanannya dipertanyakan.

Berikut penjelasan bahwa ternyata hukum thibbun nabawi diperselisihkan oleh ulama. Ada yang bependapat hukumnya mubah (bukan sunnah) dan ada yang bependapat hukumnya adalah sunnah. Perselisihan ini bisa jadi karena perbedaan dalam ushul fikh mengenai apakah thibbun nabawi semisal bekam itu adalah perbuatan adat (tradisi saat itu) semata atau memang ada pensyariatannya. Dalam hal ini kita ambil pendapat para ulama mengenai bekam/hijamah. Apakah ia sunnah atau mubah.

Pendapat yang Menyatakan Mubah

Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ﺇﻥ ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﺩﺍﻭﺀ ﻻ ﺳﻨﺔ

“Hijamah (bekam) adalah pengobatan, bukan sunnah.” [1]

Dalam kesempatan lain beliau berkata,

ﻓﺄﻛﻞ ﺍﻟﻌﺴﻞ ﻣﺜﻼً ﺣﺚ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ‎ ‎ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ ﺣﻴﻦ ﻗﺎﻝ ﻓﻴﻪ ﺷﻔﺎﺀ ﻟﻠﻨﺎﺱ‎ ‎ﻭﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻳﻀﺎً‏‎ ‎ﻛﺎﻥ ﻳﺤﺐ ﺍﻟﻌﺴﻞ ﻭﻟﻜﻦ ﻫﻞ ﻧﺘﻘﺮﺏ ﺍﻟﻰ‎ ‎ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺸﺮﺏ ﺍﻟﻌﺴﻞ ! ﻻ ﻃﺒﻌﺎً‏‎ ‎ﻓﺎﻟﺬﻱ ﻳﻘﻮﻝ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﺳﻨﻪ )ﻋﺒﺎﺩﺓ (‏‎ ‎ﻧﺴﺄﻟﻪ ﻫﻞ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ‎ ‎ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺘﻘﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ‎ ‎ﺑﺎﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﻭﻣﺎ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

“Meminum madu –misalnya- syariat menganjurkan diminum karena ada firman Allah “sebagai penyembuh bagi manusia” dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai madu, akan tetapi apakah kita ber-taqarrub (beribadah) kepada Allah dengan meminum madu? Tentu tidak. Demikian juga bagi yang mengatakan bahwa bekam adalah sunnah (ibadah), kita tanyakan apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ber-taqarrub (beribadah) kepada Allah dengan berbekam, apa dalilnya dari perkataan shallallahu ‘alaihi wa sallam?” [2]

Syaikh abdul Muhsin Al-Badr berkata, menjelaskan

ﻭﻗﺪ ﺟﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﻌﺴﻞ‎ ‎ﻭﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﻜﻲ، ﻭﺃﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻴﻬﺎ‎ ‎ﺷﻔﺎﺀ ﺑﺈﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ، ﻓﻬﺬﺍ ﻓﻴﻪ‎ ‎ﺇﺭﺷﺎﺩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﻟﻤﻦ ﺍﺣﺘﺎﺝ ﺇﻟﻴﻬﺎ‎ ‎ﻋﻼﺟﺎً، ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﻳﻘﺎﻝ: ﺇﻧﻬﺎ ﺳﻨﺔ ﻭﺇﻥ‎ ‎ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻳﺤﺘﺠﻢ ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺑﺤﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ‎ ‎ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ.ﻓﻬﺬﺍ ﻋﻼﺝ ﻭﺗﺪﺍﻭٍ، ﻭﺍﻟﺘﺪﺍﻭﻱ‎ ‎ﻳﺼﺎﺭ ﺇﻟﻴﻪ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ، ﻭﻻ ﻳﺘﺪﺍﻭﻯ ﻣﻦ‎ ‎ﻏﻴﺮ ﺣﺎﺟﺔ، ﻓﺎﻟﺬﻱ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ‎ ‎ﻳﺤﺘﺠﻢ، ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﺣﺎﺟﺔ ﻟﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ‎ ‎ﻓﻠﻴﺤﻤﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ

“Terdapat hadits yang berkaitan dengan madu dan bekam, demikian juga kay. Padanya terdapat kesembuhan dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah petunjuk untuk berbekam bagi mereka yang menginginkan kesembuhan. Akan tetapi tidak kita katakan bahwa bekam itu sunnah. Karena manusia berbekam (untuk kesegaran) walaupun tidak membutuhkan bekam (ketika sakit), maka ini termasuk pengobatan.” [3]

Syaikh Muhammad Shalih Al Fauzan hafidzahullah berkata,

ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﻣﺒﺎﺣﺔ, ﻓﻬﻲ ﻋﻼﺝ ﻣﺒﺎﺡ ﻻ ﻳﻘﺎﻝ‎ ‎ﺇﻧﻪ ﺳﻨﺔ ﻭﺃﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﺘﺤﺠﻢ ﺗﺎﺭﻙ‎ ‎ﻟﻠﺴﻨﺔ . . ﻻ. ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺒﺎﺣﺎﺕ ﻭﺍﻟﻌﻼﺝ‎ ‎ﻭﺍﻷﺩﻋﻴﺔ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﻤﺒﺎﺣﺎﺕ.

Bekam adalah perkara mubah. Ia termasuk pengobatan yang mubah. Tidak dikatakan bahwa ia sunnah, sehingga orang yang tidak melakukan bekam berarti telah meninggalkan sunnah. Tidak dikatakan demikian. Bekam termasuk perkara mubah. Dan pengobatan termasuk salah satu dari perkara mubah. [4]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Ar Rajihi hafidzahullah ditanya:

ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ: ﻣﺎ ﻫﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﺍﻟﺘﻲ‎ ‎ﻛﺎﻥ ﻳﻔﻌﻠﻬﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ‎ ‎ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ؟

Bagaimana metode yang benar yang dilakukan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bekam?

Beliau hafidzahullah menjawab:

ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ: ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﺩﻭﺍﺀ، ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ‎ ‎ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻬﺎ ﻟﻠﻌﻼﺝ، ﻛﺎﻥ ﻳﺤﺘﺠﻢ ﻓﻲ ﺭﺃﺳﻪ‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ، ﻭﻫﺬﻩ ﺗﺨﺘﻠﻒ ﻭﻻ‎ ‎ﻳﻘﺘﺪﻯ ﺑﺎﻟﻨﺒﻲ ﻓﻴﻬﺎ؛ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ‎ ‎ﺍﻟﻌﻼﺝ، ﻓﺎﻹﻧﺴﺎﻥ ﻳﺬﻫﺐ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻞ‎ ‎ﺍﻟﺨﺒﺮﺓ، ﻭﻻ ﻳﺤﺘﻜﻢ ﺇﻻ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ؛ ﻷﻧﻪ‎ ‎ﻗﺪ ﺗﻀﺮ ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ، ﻭﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﺤﺘﺎﺟﺎً ﺇﻟﻰ‎ ‎ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﻳﺤﺘﺠﻢ ﺳﻮﺍﺀً ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺃﺱ ﺃﻭ‎ ‎ﻓﻲ ﻏﻴﺮﻩ، ﻭﻫﺬﺍ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﻊ ﺣﺘﻰ‎ ‎ﻳﻘﺘﺪﻯ ﺑﺎﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ،‏‎ ‎ﺍﺣﺘﺠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ‎ ‎ﺍﻟﻌﻼﺝ ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﻊ، ﻓﻜﻴﻒ‎ ‎ﺗﺴﺄﻝ ﻋﻦ ﻫﺬﺍ ﻭﺗﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﺗﻘﺘﺪﻱ ﺑﻪ ﻓﻲ‎ ‎ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ؟ ﻻ؛ ﻷﻥ ﺍﻷﺣﻮﺍﻝ ﺗﺨﺘﻠﻒ، ﺇﺫﺍ‎ ‎ﻛﻨﺖ ﻣﺤﺘﺎﺟﺎً ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ، ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻫﻞ‎ ‎ﺍﻟﺨﺒﺮﺓ: ﺇﻧﻚ ﻣﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺗﺤﺘﺠﻢ،‏‎ ‎ﺳﻮﺍﺀً ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺃﺱ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻬﺮ، ﺃﻭ ﻓﻲ‎ ‎ﺍﻟﻔﺨﺬ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺃﻱ ﻣﻜﺎﻥ ﻓﻌﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﻣﺎ‎ ‎ﻳﻘﻮﻟﻪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺨﺒﺮﺓ.

Bekam adalah pengobatan. Nabi dulu melakukan bekam untuk pengobatan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan bekam pada kepala beliau. Maka perkara bekam ini berbeda-beda dan tidak disyariatkan meneladani Nabi dalam perkara ini, karena bekam masuk dalam pengobatan. Hendaknya seseorang datang kepada ahli bekam, dan jangan meminta hukum kecuali kepada ahlinya, karena boleh jadi bekam malah membahayakan. Jika dia memerlukan untuk bekam maka bisa bekam, baik pada kepala atau bagian tubuh lainnya.

Maka bekam bukanlah perkara yang disyariatkan, sehingga dianjurkan untuk mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkara ini. Beliau melakukan bekam dalam rangka pengobatan, bukan dalam rangka mensyariatkan. Maka bagaimana engkau bertanya tentang perkara ini dan engkau ingin meneladani Nabi dalam masalah bekam?

Tidak, keadaan seseorang itu berbeda-beda. Jika Engkau membutuhkan bekam dan ahli bekam berkata: Engkau butuh melakukan bekam, (maka boleh bekam). Sama saja di kepala, punggung, paha atau tempat lainnya sesuai dengan yang dikatakan orang yang sudah berpengalaman. [5]

Pertanyaan diajukan kepada Syaikh Abdurrahman bin Nashir al Barrak,

ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ ﻳﻘﻮﻝ: ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﻫﻞ ﻫﻲ ﺳﻨﺔ؟

Apakah bekam itu termasuk sunnah?

Jawaban:

Bekam adalah salah satu metode pengobatan, terapi penyakit sehingga dia tergolong perkara adat kebiasaan, bukan perkara ibadah. Perkara yang bukan ibadah yang Nabi lakukan itu menunjukkan bolehnya hal tersebut. Sehingga kesimpulannya, bekam itu hanya kita nilai hanya sebagai perkara mubah. [6]

Pendapat yang Menyatakan Sunnah Jika Dibutuhkan (jika sakit)

Dalam fatwa syabakah Islamiyah,

ﻭﻗﺪ ﻧﺺ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﺳﻨﺔ‎ ‎ﻣﺴﺘﺤﺒﺔ ﻟﻤﻦ ﺍﺣﺘﺎﺝ ﺇﻟﻴﻬﺎ، ﻓﻔﻲ ﺍﻟﺸﺮﺡ‎ ‎ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ: ﻭﺗﺠﻮﺯ ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﺗﺴﺘﺤﺐ‎ ‎ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﺍﻟﻴﻬﺎ ﻭﻗﺪ ﺗﺠﺐ.

“Ulama menegaskan bahwa bekam adalah sunnah yang dianjurkan ketika ada kebutuhan padanya (misalnya sakit). Maka boleh berbekam, maknanya dianjurkan ketika ada kebutuhan, bahkan bisa terkadang wajib.” [7]

Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini ditanya,

ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ: ﻣﺎ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ‎ ‎ﺳﻨﺔ ﻭﻟﻴﺴﺖ ﻋﺎﺩﺓ؟

“Apa dalil bahwa bekam adalah sunnah bukan perkara adat (kebiasaan)?

Beliau menjawab:

ﺍﻹﺟﺎﺑﺔ: ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺳﻨﻴﺔ ﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ‎ ‎ﺣﺾُّ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ‎ ‎ﺗﻌﺎﻃﻴﻬﺎ ﻓﻲ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻣﻨﻬﺎ“ :ﺇﻥ‎ ‎ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺃﺩﻭﻳﺘﻜﻢ ﺷﻔﺎﺀ ﻓﻔﻲ ﺷﺮﻃﺔ‎ ‎ﻣﺤﺠﻢ، ﺃﻭ ﺷﺮﺑﺔ ﻋﺴﻞ، ﺃﻭ ﻟﺬﻋﺔ ﻧﺎﺭ‎ ‎ﻭﺃﻧﻬﻰ ﺃﻣﺘﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻜﻲ.” ﻭﺃﻳﻀﺎً‏‎ ‎ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺘﻲ ﻭﻗَّﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ‎ ‎ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﺤﺘﺠﻢ ﻓﻴﻬﺎ،‏‎ ‎ﻣﻊ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺃﺧﺮﻯ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻓﻜﻞ ﺫﻟﻚ ﻳﺪﻝ‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ

“Dalil akan sunnahnya berbekam adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan pelaksanannya dalam beberapa hadits: “Apabila ada kebaikan dalam pengobatan yang kalian lakukan, maka kebaikan itu ada pada berbekam, minum madu, dan sengatan api panas (terapi dengan menempelkan besi panas di daerah yang luka) dan aku melarang ummatku melakukan kay. Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan waktu untuk berbekam. Dengan banyaknya hadits yang lain, maka ini menunjukkan sunnahnya berbekam.” [8]

Perkara Mubah Bisa Menjadi Ibadah

Terlepas dari ikhtilaf ulama menghukumi, apakah mubah atau sunnah. Maka seandainya kita ambil mubah, maka ia bisa menjadi bernilai pahala karena perkara mubah bisa menjadi pahala sesuai dengan niat atau ia menjadi wasilah untuk ketaatan.

Misalnya berbekam agar sembuh sehingga bisa melaksanakan perintah Allah baik hal yang sunnah atau wajib. Sebagaimana tidur yang hukumnya mubah tetapi bisa berpahala.

Mu’aadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata,

ﺃَﻣَّﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻓَﺄَﻧَﺎﻡُ ﻭَﺃَﻗُﻮﻡُ ﻭَﺃَﺭْﺟُﻮ ﻓِﻲ ﻧَﻮْﻣَﺘِﻲ ﻣَﺎ‎ ‎ﺃَﺭْﺟُﻮ ﻓِﻲ ﻗَﻮْﻣَﺘِﻲ.

“Adapun aku, maka aku tidur dan sholat malam, dan aku berharap pahala dari tidurku sebagaimana pahala yang aku harapkan dari sholat malamku.” [9]

Ataupun bisa menjadi berpahala karena kita cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya mendengar hadits beliau berbekam, kita juga berbekam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Ahmad, beliau mengetahui ada hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam dan membayar upah satu dinar. Maka beliau pun melakukan hal yang sama. Beliau berkata, “Tidaklah aku menulis suatu hadits melainkan aku telah mengamalkannya, sehingga suatu ketika aku mendengar hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hijamah (bekam) dan memeberikan upah kepada ahli bekam (Abu Thaybah) satu dinar, maka aku melakukan hijamah dan memberikan kepada ahli bekam satu dinar pula.” [10]

Demikian yang bisa kami bahas, semoga bermanfaat.

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] Syarh Shahih Bukhari, sumber: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=10279

[2]Sumber: http://www.uaetd.com/vb/showthread.php?t=13624&page=59

[3] Syarh Sunan Abu Dawud, sumber: http://audio.islamweb.net/audio/Fulltxt.php?audioid=171819

[4] Sumber : ﻣﺠﻠﺔ ﺍﻟﻔﺮﻗﺎﻥ, ﺍﻟﻌﺪﺩ-467 ﺍﻹﺛﻨﻴﻦ 9 ﺫﻭ ﺍﻟﻘﻌﺪﺓ 1428 ﻩ‎ http://abukarimah.wordpress.com/2012/04/21/hukum-bekam/

[5] Sumber : http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=191546

[6] Sumber: http://www.islamlight.net/albarrak/sounds/save/tagryrat/a131.rm

[7]Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=28338

[8] Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/8238

[9] HR. Al-Bukhari no 6923 dan Muslim no 1733.

[10] Ibnul Jauzi menyebutkannya dalam Manaqib Ahmad, hal : 232.

Sumber: http://muslimafiyah.com/thibbun-nabawi-mubah-atau-sunnah.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 03/12/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: