Fatwa: Sikap Menolak Berobat dengan Kedokteran Modern, Maunya Thibbun Nabawi

Pertanyaan:

ﺃﻧﺘﻢ ﺗﻘﻮﻟﻮﻥ ﺣﻔﻈﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻮﺟﻮﺩ ﻧﻮﻋﻴﻦ‎ ‎ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻼﺝ ﻭﺫﻛﺮﺗﻢ ﻗﺼﺔ ﻣﻦ ﺳﺌﻞ ﻣﻦ‎ ‎ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻼﺝ ﺑﺎﻟﺮﻗﻴﺔ‎ ‎ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ، ﻭﺑﺈﺫﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻣﺮﻩ ﻳﻨﻔﻊ‎ ‎ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﻼﺝ ﻭﻗﺪ ﻻ ﻳﻨﻔﻊ، ﻭﺭﺑﻤﺎ ﺗﺤﺪﺙ‎ ‎ﻣﺮﺍﺕ ﺑﻨﺠﺎﺣﻪ ﻭﺃﺧﺮﻯ ﻻ ﺗﺤﺪﺙ، ﻳﻘﻮﻝ‎ ‎ﻧﺤﻦ ﻧﻌﺎﻧﻲ ﻛﺜﻴﺮﺍً ﻳﺎ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﻣﻦ ﻣﺮﺿﻰ‎ ‎ﻳﺨﺘﺎﺭﻭﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻮﻉ ﺍﻟﻄﻴﺐ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻼﺝ‎ ‎ﻭﻳﺮﻓﻀﻮﻥ ﺍﻟﻌﻼﺝ ﺍﻟﺬﻱ ﻧﺰﻭﺩﻫﻢ ﺑﻪ ﻓﻬﻞ‎ ‎ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻬﻢ ﻫﺬﺍ

“Kalian –hafidzakumullah- mengatakan ada dua jenis pengobatan, sebagaimana yang kalian sebutkan dalam kisah sebagian sahabat berupa pengobatan dengan Ruqyah Syar’iyyah. Dengan izin Allah pengobatan ini memberi manfaat dan terkadang tidak, terkadang berhasil dan terkadang tidak. Ia (orang yang menolak) berkata: “Kami sering terkena banyak penyakit, kami memilih metode pengobatan yang baik ini (ruqyah Syar’iyyah).” Mereka menolak metode pengobatan (kedokteran modern) yang kami berikan. Apakah boleh bagi mereka seperti ini?

ﺃﺭﻯ ﺃﻥ ﻳﺠﻤﻊ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺑﻴﻦ ﻫﺬﺍ ﻭﻫﺬﺍ‎ ‎ﻭﻻ ﻣﻨﺎﻓﺎﺓ ﺑﺄﻥ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺮﻗﻴﺔ‎ ‎ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻷﺩﻭﻳﺔ ﺍﻟﺤﺴﻴﺔ ﻭﻻ‎ ‎ﻣﺎﻧﻊ، ﻭﻟﻜﻦ ﻫﻞ ﺗﻨﺎﻭﻝ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﻭﺍﺟﺐ‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﻭﺍﺟﺐ ؟ ﻫﻨﺎ‎ ‎ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ، ﺃﺻﺢ ﺍﻷﻗﻮﺍﻝ ﻟﻠﻌﻠﻤﺎﺀ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ‎ ‎ﺑﻮﺍﺟﺐ ﻭﺃﻥ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﻤﺘﻨﻊ ﻣﻦ‎ ‎ﺍﻟﻤﻌﺎﻟﺠﺔ ﻭﻻ ﻳﻌﺪ ﻗﺎﺗﻼً ﻟﻨﻔﺴﻪ ﻷﻧﻪ ﻟﻴﺲ‎ ‎ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺣﺪﺙ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﺛﻢ ﺇﻧﻪ ﻗﺪ‎ ‎ﻳﻌﺎﻟﺞ ﻭﻻ ﻳﻨﺠﺢ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻣﺸﺎﻫﺪ ﻭﻗﺪ ﻳﺒﺮﺃ‎ ‎ﺑﺪﻭﻥ ﻣﻌﺎﻟﺠﺔ ، ﻓﺎﻟﺼﻮﺍﺏ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻌﺎﻟﺠﺔ‎ ‎ﻟﻴﺴﺖ ﻭﺍﺟﺒﺔ ﺇﻻ ﻓﻴﻤﺎ ﻋﻠﻤﻨﺎ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ‎ ‎ﺇﻟﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﻓﻲ ﻋﻀﻮ ﻣﻦ‎ ‎ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﻭﻗﺮﺭ ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ﺃﻥ ﻳﻘﻄﻊ ﻭﺃﻧﻪ ﺇﻥ‎ ‎ﻟﻢ ﻳﻘﻄﻊ ﺳﺮﻯ ﺇﻟﻰ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺒﺪﻥ، ﻓﻬﻨﺎ‎ ‎ﻧﻌﻢ ﻧﻘﻮﻝ ﻟﻠﻤﺮﻳﺾ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻚ ﺃﻥ‎ ‎ﺗﻤﻜّﻦ ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ﻣﻦ ﻗﻄﻊ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﻛﻤﺎ‎ ‎ﻓﻌﻞ ﺍﻟﺨﻀﺮ ﺣﻴﻦ ﺧﺮﻕ ﺍﻟﺴﻔﻴﻨﺔ ﻓﻘﺎﻝ‎ ‎ﻟﻪ ﻣﻮﺳﻰ ) ﺃﺧﺮﻗﺘﻬﺎ ﻟﺘﻐﺮﻕ ﺃﻫﻠﻬﺎ ( ﻓﺒﻴﻦ‎ ‎ﻟﻪ ﺃﻥ ﺃﻣﺎﻣﻬﻢ ﻣﻠﻚ ﻳﺄﺧﺬ ﺍﻟﺴﻔﻦ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺔ‎ ‎ﻏﺼﺒﺎً ﻭﺃﻧﻪ ﺧﺮﻗﻬﺎ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺃﻥ ﺗﺴﻠﻢ ﻣﻦ‎ ‎ﻇﻠﻢ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻠﻚ .

Jawaban:

Saya berpendapat sebaiknya manusia mengkombinasikan antara ini (ruqyah syar’iyyah) dengan itu (kedokteran modern). Tidak ada pertentangan antara ruqyah syar’iyyah dengan pengobatan fisik (obat yang diminum). Akan tetapi apakah meminum obat hukumnya wajib atas orang yang sakit atau tidak?

Pendapat ulama yang lebih shahih adalah tidak wajib, boleh bagi manusia menolak berobat dan ini tidak termasuk bunuh diri, karena tidak menimbulkan penyakit (baru) bagi dirinya. Kemudian alasan yang lain bahwa pengobatan terkadang tidak berhasil sebagaimana kita saksikan dan terkadang bisa sembuh tanpa pengobatan.

Maka yang benar bahwa berobat tidak wajib kecuali jika diketahui tidak berobat akan berbahaya bagi dirinya. Misalnya ada penyakit di anggota tubuhnya, kemudian dokter menyatakan bahwa bagian itu harus dipotong, jika tidak akan merambat ke anggota yang lain. Maka dalam kondisi ini kita katakan, ia wajib berobat dan mengikuti saran dokter agar memotong anggota tersebut.

Dalilnya sebagaimana perbuatan Khidir ketika melubangi perahu, maka Nabi Musa berkata, “Apakah engkau akan menenggelamkan penumpang perahu?” Maka Khidir menjelaskan bahwa di depan mereka ada raja yang suka merampas perahu yang masih baik, ia melobanginya agar selamat dari kedzaliman raja tersebut.

[Al-Irysad Ila Tahabibil Muslim hal. 14, Syaikh Al-‘Utsaimin, Syamilah]

Penerjemah: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: http://muslimafiyah.com/fatwa-sikap-menolak-berobat-dengan-kedokteran-modern-maunya-thibbun-nabawi.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 07/12/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: