Rincian Hukum Mengugurkan Janin

Pertanyaan:

ﺣﻤﻠﺖ ﻭﺃﺛﻨﺎﺀ ﻓﺘﺮﺓ ﺍﻟﺤﻤﻞ ﺗﻨﺎﻭﻟﺖ ﺩﻭﺍﺀً‏‎ ‎ﻟﻢ ﺃﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻣﻀﺮ، ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺗﻨﺎﻭﻟﻪ‎ ‎ﻟﻠﺤﺎﻣﻞ، ﻭﻗﺪ ﻇﻬﺮ ﻭﺗﺒﻴﻦ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﺳﺒﺐ‎ ‎ﺗﺸﻮﻫﺎً ﻟﻠﺠﻨﻴﻦ، ﻭﻋﻨﺪﻣﺎ ﺭﺍﺟﻌﻨﺎ ﺍﻟﻄﺒﻴﺐ‎ ‎ﻗﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﻭﻟﺰﻭﺟﻲ: ﺇﻧﻪ ﻣﻦ ﺍﻷﻓﻀﻞ‎ ‎ﺇﺳﻘﺎﻁ ﺍﻟﺠﻨﻴﻦ؛ ﻷﻧﻪ ﻻ ﻳﻀﻤﻦ ﻓﻲ ﺣﻴﻦ‎ ‎ﺍﺳﺘﻤﺮﺍﺭ ﺍﻟﺤﻤﻞ، ﻭﺑﻨﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻛﻼﻡ‎ ‎ﺍﻟﺪﻛﺘﻮﺭ ﺃﺳﻘﻄﺖ ﺍﻟﺠﻨﻴﻦ،ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮﻩ‎ ‎ﺷﻬﺮﺍ ﻭﻋﺸﺮﺍ ﻓﻤﺎ ﻫﻮ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﺸﺮﻋﻲ‎ ‎ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﺃﻓﻴﺪﻭﻧﺎ‎ ‎ﺟﺰﺍﻛﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ؟

Ketika hamil saya meminum obat yang saya tidak tahu ternyata obat tersebut berbahaya. Tidak boleh ibu hamil meminumnya. Kemudian jelaslah dan nampak bahwa obat tersebut menyebabkan cacat pada janin.

Ketika kami memeriksakan diri kepada dokter, dokter berkata kepada kami bahwa jalan yang terbaik adalah menggugurkan janin. Karena tidak bisa dijamin akan keberlangsungan kehamilan.

Berdasarkan pertimbangan dari dokter maka saya mengugurkan janin saya. Umur janin tersebut satu bulan 10 hari. Bagaimana hukum syariat Islam mengenai hal ini. Tolong beri kami petunjuk. Jazakumullahu khair.

ﻓﺈﺳﻘﺎﻁ ﺍﻟﺠﻨﻴﻦ ﻓﻴﻪ ﺗﻔﺼﻴﻞ، ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ‎ ‎ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻓﺎﻷﻣﺮ ﻓﻴﻪ ﺃﻭﺳﻊ‎ ‎ﻭﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ, ﻟﻜﻦ ﺇﺫﺍ ﺍﻗﺘﻀﺖ‎ ‎ﺍﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻟﻤﻀﺮﺓ‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻡ, ﺃﻭ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺮﺭ‎ ‎ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﻳﺘﺸﻮﻩ ﺑﺄﺳﺒﺎﺏ ﻓﻌﻠﺘﻬﺎ ﺍﻷﻡ‎ ‎ﻓﻼ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ. ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﻮﺭ‎ ‎ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﻮﺭ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻓﻼ ﻓﻘﺪ‎ ‎ﻳﺨﻄﺊ ﺍﻟﻈﻦ ﻭﻻ ﻳﻘﻊ ﻣﺎ ﻇﻨﻪ ﺍﻟﻄﺒﻴﺐ‎ ‎ﻭﻻ ﻳﺤﺼﻞ ﺍﻟﺘﺸﻮﻩ, ﻭﺍﻷﺻﻞ ﺣﺮﻣﺔ‎ ‎ﺇﺳﻘﺎﻁ ﺍﻟﺠﻨﻴﻦ ﺇﻻ ﻋﻦ ﻣﻀﺮﺓ ﻛﺒﺮﻯ‎ ‎ﻳﺨﺸﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻣﻮﺕ ﺍﻷﻡ, ﻭﻫﻜﺬﺍ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ‎ ‎ﺗﻨﻔﺦ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺃﻭﻟﻰ ﻳﺤﺮﻡ‎ ‎ﺍﻹﺳﻘﺎﻁ؛ ﻷﻧﻪ ﺻﺎﺭ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎً ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﻗﺘﻠﻪ‎ ‎ﻭﻻ ﻳﺤﻞ, ﻟﻜﻦ ﻟﻮ ﻭﺟﺪﺕ ﺣﺎﻟﺔ ﻳﺨﺸﻰ‎ ‎ﻣﻨﻬﺎ ﻣﻮﺕ ﺍﻷﻡ ﻭﻗﺪ ﺗﺤﻘﻖ ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ﺃﻥ‎ ‎ﺑﻘﺎﺀﻩ ﻳﺴﺒﺐ ﻣﻮﺗﻬﺎ ﺣﻴﺎﺗﻬﺎ ﻣﻘﺪﻣﺔ ﻓﻴﻌﻤﻞ‎ ‎ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻄﻴﻌﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﺮﻕ ﺍﻟﺘﻲ‎ ‎ﻳﺤﺼﻞ ﺑﻬﺎ ﺧﺮﻭﺟﻪ ﺣﻴﺎً ﺇﺫﺍ ﺃﻣﻜﻦ ﺫﻟﻚ،‏‎ ‎ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻗﺒﻞ ﻧﻔﺦ ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻓﻴﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﻮﺭ‎ ‎ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺃﻭ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻓﺎﻷﻣﺮ ﺃﺳﻬﻞ ﻟﻜﻦ ﻻ‎ ‎ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﺇﻻ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﻳﺘﺤﻘﻖ‎ ‎ﺍﻟﻄﺒﻴﺐ ﺍﻟﻤﺨﺘﺺ ﺃﻥ ﺑﻘﺎﺀﻩ ﻳﺴﺒﺐ ﺧﻄﺮﺍً‏‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻡ -ﻣﻮﺕ ﺍﻷﻡ- ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ‎ ‎ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻃﺒﻴﺒﺎً ﻓﺄﻛﺜﺮ ﻣﺨﺘﺼﺎﻥ ﺛﻘﺘﺎﻥ‎ ‎ﻳﻘﺮﺭﺍﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺘﺴﺎﻫﻞ‎ ‎ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻣﻊ ﻃﺒﻴﺐ ﻭﺍﺣﺪ ﻭﻻ ﻣﻊ ﻏﻴﺮ‎ ‎ﺍﻟﺜﻘﺎﺕ

Menggugurkan janin ada rinciannya:

– Jika umurnya 40 hari pertama maka perkara ini lebih mudah (akan tetapi) tidak layak menggugurkannya (tanpa sebab syar’i). Akan tetapi jika mashalat syariat menuntut janin digugurkan karena bisa membahayakan ibu atau karena sebab ini (janin cacat berat dan dipastikan susah bertahan hidup), kemudian para dokter telah memastikan bahwa cacat tersebut disebabkan oleh perbuatan ibunya, maka hal ini tidak mengapa.

– Adapun pada fase kedua atau ketiga (40 hari kedua dan ketiga), perkiraan terkadang salah dan apa yang diperkirakan oleh dokter terkadang juga bisa salah, tidak terjadi kecacatan janin. Maka hukum asalnya adalah haram mengugurkan janin. Kecuali ada bahaya besar yang dikhawatirkan atas keselamatan sang ibu.

– Demikian juga jika telah ditiupkan ruh (setelah 120 hari), maka lebih haram lagi mengugurkan janin karena ia telah menjadi manusia dan tidak boleh membunuhnya dan tidak halal. Akan tetapi jika didapatkan keadaaan yang bisa menyebabkan kematian sang ibu. Kemudian dokter telah memastikan bahwa tetapnya janin akan mebahayakan keselamatan ibu. Maka dokter boleh melakukan berbagai upaya untuk mengeluarkan janin dalam keadaan hidup (operasi caesar) jika memungkinkan.

– Adapun jika belum ditiupkan ruh pada fase kedua dan ketiga, maka perkaranya lebih mudah. Akan tetapi tidak boleh menggugurkannya kecuali dengan alasan bisa menyebabkan kematian ibu berdasarkan kepastian dari dokter spesialis bahwa tetapnya janin bisa menyebabkan kematian sang ibu.

Hendaknya dokter lebih dari satu, mereka adalah spesialis dan terpercaya. Kemudian mereka menetapkan masalah ini. Tidak boleh bermudah-mudah dalam masalah ini dan berdasarkan satu dokter yang tidak bisa dipercaya.

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/11881

(Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah)

Catatan:
– Syaikh menjelaskan hendaknya ketetapan penguguran janin lebih dari satu dokter yang terpercaya, maka bisa meminta pendapat dokter lain atau yang disebut dalam ilmu kedokteran sebagai second opinion.

– Yang dimaksud fase setiap 40 hari dan waktu telah ditiupkan ruh adalah berdasarkan hadits:

ﺇِﻥَّ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻳُﺠْﻤَﻊُ ﻓِﻰ ﺑَﻄْﻦِ ﺃُﻣِّﻪِ ﺃَﺭْﺑَﻌِﻴﻦَ‏‎ ‎ﻳَﻮْﻣًﺎ ، ﺛُﻢَّ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻋَﻠَﻘَﺔً ﻣِﺜْﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ، ﺛُﻢَّ‏‎ ‎ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻣُﻀْﻐَﺔً ﻣِﺜْﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺒْﻌَﺚُ ﺍﻟﻠَّﻪُ‏‎ ‎ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣَﻠَﻜًﺎ ﺑِﺄَﺭْﺑَﻊِ ﻛَﻠِﻤَﺎﺕٍ ، ﻓَﻴُﻜْﺘَﺐُ ﻋَﻤَﻠُﻪُ‏‎ ‎ﻭَﺃَﺟَﻠُﻪُ ﻭَﺭِﺯْﻗُﻪُ ﻭَﺷَﻘِﻰٌّ ﺃَﻭْ ﺳَﻌِﻴﺪٌ ، ﺛُﻢَّ‏‎ ‎ﻳُﻨْﻔَﺦُ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺮُّﻭﺡُ

“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari (berupa nutfah), kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk mencatat empat perkara: amal, ajal, rizki, celaka atau bahagia. Lalu ditiupkan ruh.” (HR. al-Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 6665)

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: http://muslimafiyah.com/rincian-hukum-mengugurkan-janin.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 21/12/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: