Bolehkah Tahnik dengan Sari Kurma?

Terkadang mendapatkan buah kurma agak sulit ketika bukan musimnya. Sebagian muslim yang ingin melakukan tahnik pada anaknya yang baru lahir akhirnya melakukan tahnik dengan kemasan sari kurma yang memang sudah dijual banyak dengan berbagai merk. Bolehkah melakukan hal ini? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkannya melakukan dengan buah kurma.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Burdah dari Abu Musa, dia berkata,

ﻭُﻟِﺪَ ﻟِﻰ ﻏُﻼَﻡٌ ﻓَﺄَﺗَﻴْﺖُ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻓَﺴَﻤَّﺎﻩُ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﻭَﺣَﻨَّﻜَﻪُ‏‎ ‎ﺑِﺘَﻤْﺮَﺓٍ

“Pernah dikaruniakan kepadaku seorang anak laki-laki, lalu aku membawanya ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan sebuah kurma.” [1]

Boleh Tahnik dengan Makanan yang Manis

Jawabannya BOLEH karena hikmah dari melakukan tahnik adalah memasukkan benda yang manis sebagai fungsi energi awal bagi bayi yang baru lahir dan sekaligus mendoakan keberkahan bagi bayi. Boleh juga dengan makanan manis lainnya seperti madu.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah menjelaskan,

ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺤﻨﻴﻚ ﺑﺎﻟﺘﻤﺮ، ﻓﻘﺪ‎ ‎ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻗﺪﻳﻤﺎ ﻳﺮﻭﻥ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺴﻨﺔ‎ ‎ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻴﻜﻮﻥ‎ ‎ﺃﻭﻝ ﺷﻲﺀ ﻳﺪﺧﻞ ﺟﻮﻑ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﺷﻲﺀ‎ ‎ﺣﻠﻮ ، ﻭﻟﺬﺍ ﺍﺳﺘﺤﺒﻮﺍ ﺃﻥ ﻳﺤﻨﻚ ﺑﺤﻠﻮ ﺇﻥ ﻟﻢ‎ ‎ﻳﻮﺟﺪ ﺍﻟﺘﻤﺮ

“Adapun hikmah dari tahnik menggunakan kurma maka para ulama terdahulu berpendapat bahwa ini adalah sunnah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar yang paling pertama masuk ke perut bayi adalah sesuatu yang manis, oleh karena itu dianjurkan mentahnik dengan sesuatu yang manis jika tidak mendapatkan kurma.” [2]

Al-Mawardi rahimahullah berkata,

ﻓﻌﻨﺪ ﻣﻦ ﻳﺠﻴﺰ ﺍﻟﺘﺤﻨﻴﻚ ﻓﺎﻷﻓﻀﻞُ ﻋﻨﺪﻩ‎ ‎ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﺘﻤﺮ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺪ ﻓﻴﺤﻨِّﻜﻪ‎ ‎ﺑﺸﻲﺀٍ ﻳﻜﻮﻥ ﺣُﻠْﻮًﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺫﻫﺐ ﺇﻟﻴﻪ‎ ‎ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻭﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻞ

“Menurut ulama yang membolehkan tahnik (bukan perbuatan khusus bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja), maka yang paling utama menurut mereka menggunakan kurma, jika tidak ada maka dengan sesuatu yang manis sebagaimana pendapat Syafi’iyyah dan Hanabilah.” [3]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

ﻛﻮﻥ ﺍﻟﺘﺤﻨﻴﻚ ﺑﺘﻤﺮ ﻭﻫﻮ ﻣﺴﺘﺤﺐ ﻭﻟﻮ‎ ‎ﺣﻨﻚ ﺑﻐﻴﺮﻩ ﺣﺼﻞ ﺍﻟﺘﺤﻨﻴﻚ ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺘﻤﺮ‎ ‎ﺃﻓﻀﻞ

“Tahnik dilakukan dengan kurma dan ini mustahab, namun andai ada yang mentahnik dengan selain kurma maka telah terjadi perbuatan tahnik, akan tetapi tahnik dengan kurma lebih utama.” [4]

Demikian juga penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, beliau berkata,

ﻭﺃﻭﻻﻩ ﺍﻟﺘﻤﺮ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﻴﺴﺮ ﺗﻤﺮ ﻓﺮﻃﺐ‎ ‎ﻭﺇﻻ ﻓﺸﻲﺀ ﺣﻠﻮ ﻭﻋﺴﻞ ﺍﻟﻨﺤﻞ ﺃﻭﻟﻰ ﻣﻦ‎ ‎ﻏﻴﺮ

Dan yang lebih utama (ketika) mentahnik ialah dengan kurma kering (tamr). Jika tidak mudah mendapatkan kurma kering (tamr) maka dengan kurma basah (ruthab). Dan kalau tidak ada kurma dengan sesuatu yang manis dan tentunya madu lebih utama dari yang lainnya (kecuali kurma).” [5]

Yang Penting Juga Mendoakan ketika Mentahnik

Ini yang mungkin dilupakan oleh sebagian dari kita. Mentahnik tidak semata-mata mengunyah kurma kemudian menggosokkan ke langit-langit mulut bayi, tetapi mendoakannya juga.

Syaikh Ihsan bin Muhammad Al-‘Utaibi berkata,

ﻗﻠﺖ: ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺍﻟﺜﺎﺑﺖ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺤﻨِّﻚ “ﻳﺪْﻋُﻮ‎ ‎ﻟﻠْﻤَﻮْﻟﻮﺩِ ﺑِﺎﻟﺒَﺮَﻛَﺔِ”، ﻛﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﻲ “ﺻﺤﻴﺢ‎ ‎ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ” )10/707 ( ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ‎ ‎ﻣﻮﺳﻰ ﺍﻷﺷﻌﺮﻱ. ﻭﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ‎ ‎‏)3/193 ( ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﻋﻨﻬﺎ ” ﻳُﺒَﺮِّﻙُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ– ” ﺃﻱ: ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻬﻢ‎ ‎ﺑﺎﻟﺒﺮﻛﺔ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

“Yang shahih, bahwasanya orang yang melakukan tahnik mendoakan keberkahan bagi bayi, sebagaimana dalam hadits di shahih Bukhari (10/707) pada hadits Abu Musa Al-Asy’ari dan di Shahih Muslim (3/193) dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, ‘beliau mendoakan keberkahan bagi mereka’.” [6]

Ibnu hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan doa yang dibaca,

ﻗﻮﻟﻪ ﺛﻢ ﺣﻨﻜﻪ ﺃﻱ ﻭﺿﻊ ﻓﻲ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺘﻤﺮﺓ‎ ‎ﻭﺩﻟﻚ ﺣﻨﻜﻪ ﺑﻬﺎ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﺑﺮﻙ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻱ ﻗﺎﻝ‎ ‎ﺑﺎﺭﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻪ ﺃﻭ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻓﻴﻪ

“Maksud mentahnik adalah meletakkan dalam mulut bayi kurma, kemudian menggosoknya, kemudian mendoakannya yaitu berdoa,

ﺑﺎ ﺭ ﻙ ﺍ ﻟﻠﻪ ﻓﻴﻪ

(Baarakallahu fihi)
Artinya: “Berkah Allah kepadanya.” atau

ﺍ ﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎ ﺭ ﻙ ﻓﻴﻪ

(Allahumma baarik fihi)
Artinya: “Ya Allah berkahilah dia.” [7]

Demikian semoga bermanfaat.

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (5467 Fathul Bari) Muslim (2145 Nawawi), Ahmad (4/399), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (9/305) dan Asy-Syu’ab karya beliau (8621, 8622).

[2] Al-Islam su’al wal jawab, sumber: http://islamqa.info/ar/ref/102906

[3] Al-Inshaf lil Mawardi 4/104, sumber: http://www.ferkous.com/site/rep/Bo46.php

[4] Syarhu Muslim lin Nawawi 14/124, Dar Ihya’ut Turost, Beirut, cet. II, 1392 H, syamilah.

[5] Fathul Baari 9/558, Darul ma’rifah, Beirut, 1379 H, syamilah.

[6] Sumber: http://www.saaid.net/Doat/ehsan/140.htm

[7] Fathul Baari 7/248, Darul ma’rifah, Beirut, 1379 H, Syamilah.

Sumber: http://muslimafiyah.com/bolehkah-tahnik-dengan-kemasan-sari-kurma.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 09/01/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: