Hukum Menggunakan Obat Tidur

Obat tidur yang diresepkan dokter kebanyakan adalah obat golongan narkotika. Bagaimana hukum menggunakan obat ini?

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Saudi)

ﺱ: ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺩﻭﺍﺀ ﻣﻨﻮﻡ؟ .‏‎ ‎ﺝ: ﻳﺠﻮﺯ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺩﻭﺍﺀ ﻣﻨﻮﻡ ﻋﻨﺪ‎ ‎ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﻭﺑﻮﺻﻔﺔ ﻃﺒﻴﺐ ﻣﺨﺘﺺ

Pertanyaan: Apakah boleh menggunakan obat tidur?

Jawaban: Boleh menggunakan obat tidur ketika ada kebutuhan dengan resep dari dokter. [1]

Perlu diketahui bahwa obat digunakan yang golongan rendah dan dengan dosis tertentu yang diatur agar tidak kecanduan dan tidak menimbukan efek yang berbahaya. Sehingga obat tidur tidak bisa dijual bebas di apotek dan harus dengan resep dokter, demikian juga dengan fatwa tersebut.

Tidak ada kaitannya juga bahwa obat tidur akan mempercepat kematian, karena tidur adalah hakikatnya mati sementara (begitu salah satu pendapat). Dengan alasan firman Allah Ta’ala,

ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﻰ ﺍﻟْﺄَﻧْﻔُﺲَ ﺣِﻴﻦَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﻭَﺍﻟَّﺘِﻲ ﻟَﻢْ‏‎ ‎ﺗَﻤُﺖْ ﻓِﻲ ﻣَﻨَﺎﻣِﻬَﺎ ﻓَﻴُﻤْﺴِﻚُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻗَﻀَﻰ‎ ‎ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﻭَﻳُﺮْﺳِﻞُ ﺍﻟْﺄُﺧْﺮَﻯ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺟَﻞٍ‏‎ ‎ﻣُﺴَﻤًّﻰ ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﺂﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ‏‎ ‎ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) ruh (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah ruh (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan ruh yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (Az-Zumar : 42)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

ﺃﻥ ﺃﺭﻭﺍﺡ ﺍﻷﺣﻴﺎﺀ ﻭﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﺗﻠﺘﻘﻲ ﻓﻲ‎ ‎ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ، ﻓﻴﺘﻌﺎﺭﻑ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻬﺎ، ﻓﺈﺫﺍ‎ ‎ﺃﺭﺍﺩ ﺟﻤﻴﻌﻬﺎ ﺍﻟﺮﺟﻮﻉ ﺇﻟﻰ ﺃﺟﺴﺎﺩﻫﺎ‎ ‎ﺃﻣﺴﻚ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺭﻭﺍﺡ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﻋﻨﺪﻩ ﻭﺣﺒﺴﻬﺎ،‏‎ ‎ﻭﺃﺭﺳﻞ ﺃﺭﻭﺍﺡ ﺍﻷﺣﻴﺎﺀ ﺣﺘﻰ ﺗﺮﺟﻊ ﺇﻟﻰ‎ ‎ﺃﺟﺴﺎﺩﻫﺎ ﺇﻟﻰ ﺃﺟﻞ ﻣﺴﻤﻰ ﻭﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ‎ ‎ﺍﻧﻘﻀﺎﺀ ﻣﺪﺓ ﺣﻴﺎﺗﻬﺎ.

“Sesungguhnya ruh orang yang hidup dan ruh orang mati bertemu dalam mimpi. Mereka saling mengenal sesuai yang Allah kehendaki. Ketika masing-masing hendak kembali ke jasadnya, Allah menahan ruh orang yang sudah mati di sisi-Nya, dan Allah melepaskan ruh orang yang masih hidup ke jasadnya, sampai batas waktu tertentu yaitu selama hidupnya.” [2]

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] Fatawa Al-Lajnah Ad-daimah 25/10, syamilah.

[2] Tafsir At-Thabari 21/298, Muassasah Risalah, 1420 H, syamilah.

Sumber: http://muslimafiyah.com/hukum-menggunakan-obat-tidur.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 11/01/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: