Rincian Hukum Transplantasi Organ (Dari Orang Hidup, Mati dan Auto-Transplantasi)

Dalam beberapa minggu Ini RSUP DR. Sradjito melakukan operasi tansplantasi ginjal. Dan menjadi pembicaraan banyak pihak, dan tentu ada juga mereka yang peduli terhadap agama bertanya-tanya, bagaimana hukumnya dalam agama Islam? Kalau mengambil dari orang yang sudah mati bagaimana? Padahal kita tidak boleh mencincang dan membedah mayat muslim?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻛﺴﺮ ﻋﻈﻢ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻛﻜﺴﺮﻩ ﺣﻴﺎ

“Memecah tulang orang yang meninggal seperti memecah tulangnya ketika masih hidup.” [1]

Berikut fatwa dari Majma’ al-Fiqh al-Islami, menetapkan:

ﺃﻭﻻً: ﻳﺠﻮﺯ ﻧﻘﻞ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﻣﻦ ﻣﻜﺎﻥ ﻣﻦ‎ ‎ﺟﺴﻢ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺇﻟﻰ ﻣﻜﺎﻥ ﺁﺧﺮ ﻣﻦ‎ ‎ﺟﺴﻤﻪ، ﻣﻊ ﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺍﻟﺘﺄﻛﺪ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﻔﻊ‎ ‎ﺍﻟﻤﺘﻮﻗﻊ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻌﻤﻠﻴﺔ ﺃﺭﺟﺢ ﻣﻦ‎ ‎ﺍﻟﻀﺮﺭ ﺍﻟﻤﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻭﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ‎ ‎ﺫﻟﻚ ﻹﻳﺠﺎﺩ ﻋﻀﻮ ﻣﻔﻘﻮﺩ ﺃﻭ ﻹﻋﺎﺩﺓ‎ ‎ﺷﻜﻠﻪ ﺃﻭ ﻭﺿﻴﻔﺘﻪ ﺍﻟﻤﻌﻬﻮﺩﺓ ﻟﻪ، ﺃﻭ‎ ‎ﻹﺻﻼﺡ ﻋﻴﺐ ﺃﻭ ﺇﺯﺍﻟﺔ ﺩﻣﺎﻣﺔ ﺗﺴﺒﺐ‎ ‎ﻟﻠﺸﺨﺺ ﺃﺫﻯً ﻧﻔﺴﻴﺎً ﺃﻭ ﻋﻀﻮﻳﺎً.‏‎ ‎ﺛﺎﻧﻴﺎً: ﻳﺠﻮﺯ ﻧﻘﻞ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﻣﻦ ﺟﺴﻢ ﺇﻧﺴﺎﻥ‎ ‎ﺇﻟﻰ ﺟﺴﻢ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺁﺧﺮ، ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻫﺬﺍ‎ ‎ﺍﻟﻌﻀﻮ ﻳﺘﺠﺪﺩ ﺗﻠﻘﺎﺋﻴﺎً، ﻛﺎﻟﺪﻡ ﻭﺍﻟﺠﻠﺪ،‏‎ ‎ﻭﻳﺮﺍﻋﻰ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺍﺷﺘﺮﺍﻁ ﻛﻮﻥ ﺍﻟﺒﺎﺫﻝ‎ ‎ﻛﺎﻣﻞ ﺍﻷﻫﻠﻴﺔ، ﻭﺗﺤﻘﻖ ﺍﻟﺸﺮﻭﻁ‎ ‎ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﺍﻟﻤﻌﺘﺒﺮﺓ

Pertama:

Boleh/mubah hukumnya memindahkan/transplantasi organ tubuh seseorang ke bagian lain dari tubuhnya sendiri (auto-transplantasi) hukumnya boleh, dengan ketentuan dapat dipastikan proses tersebut manfaatnya lebih besar daripada mudarat yang timbul. Disyaratkan juga, hal itu dilakukan karena organ tubuhnya ada yang hilang atau untuk mengembalikan ke bentuk asal dan fungsinya atau untuk menutupi cacat yang membuat si pasien terganggu secara psikologis maupun fisiologis.

Kedua:

Boleh/mubah hukumnya memindahkan/transplantasi organ tubuh seseorang ke tubuh orang lain, jika organ tubuh yang dipindahkan itu dapat terus berganti dan berubah, seperti darah dan kulit. Disyaratkan pula, pendonor organ tubuh tersebut seorang yang sehat, serta beberapa syarat lainnya yang perlu diperhatikan.

ﺛﺎﻟﺜﺎً: ﺗﺠﻮﺯ ﺍﻻﺳﺘﻔﺎﺩﺓ ﻣﻦ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ‎ ‎ﺍﻟﻌﻀﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﺍﺳﺘﺆﺻﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺴﻢ ﻟﻌﻠﺔ‎ ‎ﻣﺮﺿﻴﺔ ﻟﺸﺨﺺ ﺁﺧﺮ، ﻛﺄﺧﺬ ﻗﺮﻧﻴﺔ ﺍﻟﻌﻴﻦ‎ ‎ﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﺳﺘﺌﺼﺎﻝ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﻟﻌﻠﺔ‎ ‎ﻣﺮﺿﻴﺔ.
ﺭﺍﺑﻌﺎً: ﻳﺤﺮﻡ ﻧﻘﻞ ﻋﻀﻮ ﺗﺘﻮﻗﻒ ﻋﻠﻴﻪ‎ ‎ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﻛﺎﻟﻘﻠﺐ ﻣﻦ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺣﻲ ﺇﻟﻰ‎ ‎ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺁﺧﺮ.
ﺧﺎﻣﺴﺎً: ﻳﺤﺮﻡ ﻧﻘﻞ ﻋﻀﻮ ﻣﻦ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺣﻲ‎ ‎ﻳﻌﻄﻞ ﺯﻭﺍﻟﻪ ﻭﻇﻴﻔﺔ ﺃﺳﺎﺳﻴﺔ ﻓﻲ ﺣﻴﺎﺗﻪ‎ ‎ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺘﻮﻗﻒ ﺳﻼﻣﺔ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﻋﻠﻴﻬﺎ؛‎ ‎ﻛﻨﻘﻞ ﻗﺮﻧﻴﺔ ﺍﻟﻌﻴﻨﻴﻦ ﻛﻠﺘﻴﻬﻤﺎ، ﺃﻣﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ‎ ‎ﺍﻟﻨﻘﻞ ﻳﻌﻄﻞ ﺟﺰﺀﺍً ﻣﻦ ﻭﻇﻴﻔﺔ ﺃﺳﺎﺳﻴﺔ،‏‎ ‎ﻓﻬﻮ ﻣﺤﻞ ﺑﺤﺚ ﻭﻧﻈﺮ ﻛﻤﺎ ﻳﺄﺗﻲ ﻓﻲ‎ ‎ﺍﻟﻔﻘﺮﺓ ﺍﻟﺜﺎﻣﻨﺔ.
ﺳﺎﺩﺳﺎً: ﻳﺠﻮﺯ ﻧﻘﻞ ﻋﻀﻮ ﻣﻦ ﻣﻴﺖ ﺇﻟﻰ‎ ‎ﺣﻲ ﺗﺘﻮﻗﻒ ﺣﻴﺎﺗﻪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻌﻀﻮ، ﺃﻭ‎ ‎ﺗﺘﻮﻗﻒ ﺳﻼﻣﺔ ﻭﻇﻴﻔﺔ ﺃﺳﺎﺳﻴﺔ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻰ‎ ‎ﺫﻟﻚ؛ ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻳﺄﺫﻥ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺃﻭ ﻭﺭﺛﺘﻪ‎ ‎ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻪ، ﺃﻭ ﺑﺸﺮﻁ ﻣﻮﺍﻓﻘﺔ ﻭﻟﻲ‎ ‎ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺘﻮﻓﻰ ﻣﺠﻬﻮﻝ‎ ‎ﺍﻟﻬﻮﻳﺔ ﺃﻭ ﻻ ﻭﺭﺛﺔ ﻟﻪ

Ketiga:

Boleh hukumnya memanfaatkan organ tubuh yang tidak berfungsi lagi, karena sakit misalnya, untuk orang lain. Seperti mengambil kornea dari mata seseorang yang tidak berfungsi lagi untuk orang lain.

Keempat:

Haram hukumnya memindahkan organ tubuh yang sangat vital, seperti jantung, dari seseorang yang masih hidup kepada orang lain.

Kelima:

Haram hukumnya memindahkan organ tubuh seseorang yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi organ tubuh yang asasi secara total, meskipun tidak membahayakan keselamatan jiwanya, seperti memindahkan kedua kornea mata. Namun jika pemindahan organ tersebut hanya berdampak hilangnya sebagian fungsi organ tubuh yang asasi (tidak total), maka hal ini perlu pembahasan lebih lanjut, sebagaimana yang akan disinggung pada poin kedelapan.

Keenam:

Boleh hukumnya memindahkan organ tubuh mayyit kepada orang hidup yang sangat bergantung keselamatan jiwanya dengan organ tubuh tersebut, atau fungsi organ vital sangat tergantung pada keberadaan organ tersebut. Dengan syarat si mayit atau ahli warisnya mengizinkan. Atau dengan syarat persetujuan pemerintah muslim jika si mayyit seorang yang tidak dikenal identitasnya dan tidak memiliki ahli waris.

ﺳﺎﺑﻌﺎً: ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﻣﻼﺣﻈﺔ ﺃﻥ ﺍﻻﺗﻔﺎﻕ‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺟﻮﺍﺯ ﻧﻘﻞ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﻻﺕ ﺍﻟﺘﻲ‎ ‎ﺗﻢ ﺑﻴﺎﻧﻬﺎ، ﻣﺸﺮﻭﻁ ﺑﺄﻥ ﻻ ﻳﺘﻢ ﺫﻟﻚ‎ ‎ﺑﻮﺳﺎﻃﺔ ﺑﻴﻊ ﺍﻟﻌﻀﻮ. ﺇﺫ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺧﻀﺎﻉ‎ ‎ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻟﻠﺒﻴﻊ ﺑﺤﺎﻝ ﻣﺎ.‏‎ ‎ﺃﻣﺎ ﺑﺬﻝ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﺘﻔﻴﺪ، ﺍﺑﺘﻐﺎﺀ‎ ‎ﺍﻟﺤﺼﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﺍﻟﻤﻄﻠﻮﺏ ﻋﻨﺪ‎ ‎ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﺃﻭ ﻣﻜﺎﻓﺄﺓ ﻭﺗﻜﺮﻳﻤﺎً؛ ﻓﻤﺤﻞ‎ ‎ﺍﺟﺘﻬﺎﺩ ﻭﻧﻈﺮ‎ ‎ﺛﺎﻣﻨﺎً: ﻛﻞ ﻣﺎ ﻋﺪﺍ ﺍﻟﺤﺎﻻﺕ ﻭﺍﻟﺼﻮﺭ‎ ‎ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ، ﻣﻤﺎ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺃﺻﻞ‎ ‎ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻉ، ﻓﻬﻮ ﻣﺤﻞ ﺑﺤﺚ ﻭﻧﻈﺮ، ﻭﻳﺠﺐ‎ ‎ﻃﺮﺣﻪ ﻟﻠﺪﺭﺍﺳﺔ ﻭﺍﻟﺒﺤﺚ ﻓﻲ ﺩﻭﺭﺓ‎ ‎ﻗﺎﺩﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﺿﻮﺀ ﺍﻟﻤﻌﻄﻴﺎﺕ ﺍﻟﻄﺒﻴﺔ‎ ‎ﻭﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ.

Ketujuh:

Perlu diperhatikan bahwa kesepakatan bolehnya memindahkan organ tubuh yang dijelaskan di atas, disyaratkan tidak dilakukan dengan cara jual beli organ tubuh, karena jual beli organ tubuh tidak diperbolehkan sama sekali.

Adapun membelanjakan uang untuk mendapatkan organ tubuh yang sangat dibutuhkan saat darurat, hal itu masih perlu pembahasan dan kajian lebih lanjut.

Kedelapan:

Selain bentuk dan kondisi tersebut di atas yang masih ada kaitannya dengan masalah ini, maka masih perlu penelitian lebih dalam lagi dan selayaknya dipelajari serta dibahas sejalan dengan kode etik kedokteran dan hukum-hukum syar’i. [2]

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh
Syeikh Al-Albany

[2] Fatawa lit thabibil Muslim, sumber: http://www.saaid.net/tabeeb/15.htm

Sumber: http://muslimafiyah.com/rincian-hukum-transplantasi-organ-dari-orang-hidup-mati-dan-auto-transplantasi.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 15/01/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: