Hukum Membedah Mayat untuk Keperluan Pendidikan dan Otopsi

Salah satu yang mengganjal kami mengenai hal ini adalah hadits larangan mencincang dan menghancurkan tulang mayat. Diriwayatkan oleh Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata:

ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ‎ ‎ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻣَّﺮَ ﺃَﻣِﻴﺮًﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺟَﻴْﺶٍ ﺃَﻭْ ﺳَﺮِﻳَّﺔٍ ﺃَﻭْﺻَﺎﻩُ‏‎ ‎ﻓِﻲ ﺧَﺎﺻَّﺘِﻪِ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻣَﻌْﻪُ ﻣِﻦَ‏‎ ‎ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﺧَﻴْﺮًﺍ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ: ﺍﻏْﺰُﻭﺍ ﺑِﺎﺳْﻢِ‏‎ ‎ﺍﻟﻠﻪِ، ﻓﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻗَﺎﺗِﻠُﻮﺍ ﻣَﻦْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ،‏‎ ‎ﺍﻏْﺰُﻭﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻐُﻠُّﻮﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻐْﺪِﺭُﻭﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻤْﺜُﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﺎ‎ ‎ﺗَﻘْﺘُﻠُﻮﺍ ﻭَﻟِﻴﺪًﺍ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻟَﻘِﻴﺖَ ﻋَﺪُﻭَّﻙَ ﻣِﻦَ‏‎ ‎ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﻓَﺎﺩْﻋُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺛَﻠَﺎﺙِ ﺧِﺼَﺎﻝٍ -ﺃَﻭْ‏‎ ‎ﺧِﻠَﺎﻝٍ- ﻓَﺄَﻳَّﺘُﻬُﻦَّ ﻣَﺎ ﺃََﺟَﺎﺑُﻮﻙَ ﻓَﺎﻗْﺒَﻞْ ﻣِﻨْﻬُﻢْ‏‎ ‎ﻭَﻛُﻒَّ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺍﺩْﻋُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ، ﻓَﺈِﻥْ‏‎ ‎ﺃَﺟَﺎﺑُﻮﻙَ ﻓَﺎﻗْﺒَﻞْ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﻛُﻒَّ ﻋَﻨْﻬُﻢْ…

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila menetapkan seorang komandan sebuah pasukan perang yang besar atau kecil, beliau berpesan kepadanya secara khusus untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang bersamanya, lalu beliau mengatakan:

“Berperanglah dengan menyebut nama Allah, di jalan Allah. Perangilah orang yang kafir terhadap Allah. Berperanglah, jangan kalian melakukan ghulul (mencuri rampasan perang), jangan berkhianat, jangan mencincang mayat, dan jangan pula membunuh anak-anak. Bila kamu berjumpa dengan musuhmu dari kalangan musyrikin, maka ajaklah kepada tiga perkara. Mana yang mereka terima, maka terimalah dari mereka dan jangan perangi mereka. Ajaklah mereka kepada Islam, kalau mereka terima maka terimalah dan jangan perangi mereka…” (HR. Muslim)

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata,

ﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ ـ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ـ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ:‏‎ ‎ﺧﺮﺟْﻨﺎ ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ـ ﺻﻠّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ‎ ‎ﻭﺳﻠﻢ ـ ﻓﻲ ﺟﻨﺎﺯﺓ ﻓﺠﻠﺲ ﺍﻟﻨﺒﻲّ ﻋﻠﻰ‎ ‎ﺷَﻔﻴﺮ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻭﺟﻠﺴْﻨﺎ ﻣﻌﻪ، ﻓﺄﺧﺮﺝ ﺍﻟﺤَﻔّﺎﺭ‎ ‎ﻋﻈﻤًﺎ ـ ﺳﺎﻗًﺎ ﺃﻭ ﻋﻀﻮًﺍ ـ ﻓﺬﻫﺐ ﻟﻴﻜﺴِﺮﻩ،‏‎ ‎ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ـ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ“ ,ﻻ‎ ‎ﺗﻜﺴﺮْﻫﺎ، ﻓﺈﻥّ ﻛﺴﺮَﻙ ﺇﻳّﺎﻩ ﻣﻴّﺘًﺎ ﻛﻜﺴﺮِﻙ‎ ‎ﺇﻳﺎﻩ ﺣَﻴًّﺎ، ﻭﻟﻜﻦ ﺩُﺳَّﻪ ﻓﻲ ﺟﺎﻧﺐ ﺍﻟﻘﺒﺮ”‏‎ ‎ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺃﺑﻮ‎ ‎ﺩﺍﻭﺩ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ

“Aku keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengantar jenazah, beliau duduk di pinggir kuburan dan kami pun juga demikian. Lalu seorang penggali kubur mengeluarkan tulang (betis atau anggota) dan mematahkannya (menghancurkannya). Maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Jangan kamu patahkan tulang itu. Kamu patahkan meski sudah meninggal sama saja dengan kamu patahkan sewaktu masih hidup. Benamkanlah di samping kuburan.” (HR. Malik, Ibnu Majah, Abu Daud dengan isnad yang shahih)

Berikut pembahasannya:

ﻗﺮﺍﺭ ﻣﺠﻠﺲ ﺍﻟﻤﺠﻤﻊ ﺍﻟﻔﻘﻬﻲ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ‎ ‎ﻟﺮﺍﺑﻄﺔ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ﺑﺸﺄﻥ ﻣﻮﺿﻮﻉ‎ ‎‏“ﺗﺸﺮﻳﺢ ﺟﺜﺚ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ”

“Ketetapan Majlis Al-Majma’ Al-Fiqhiy Al-Islamiy lirabithil ‘alam Al-Islamiy mengenai Pembedahan mayat”

ﺑﻨﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺍﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﺩﻋﺖ ﺇﻟﻰ‎ ‎ﺗﺸﺮﻳﺢ ﺟﺜﺚ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻭﺍﻟﺘﻲ ﻳﺼﻴﺮ ﺑﻬﺎ‎ ‎ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﺢ ﻣﺼﻠﺤﺔ ﺗﺮﺑﻮ ﻋﻠﻰ ﻣﻔﺴﺪﺓ‎ ‎ﺍﻧﺘﻬﺎﻙ ﻛﺮﺍﻣﺔ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻟﻤﻴﺖ ؛‎ ‎ﻗﺮﺭ ﻣﺠﻠﺲ ﺍﻟﻤﺠﻤﻊ ﺍﻟﻔﻘﻬﻲ ﺍﻟﺘﺎﺑﻊ‎ ‎ﻟﺮﺍﺑﻄﺔ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ﻣﺎ ﻳﺄﺗﻲ:

“Berdasarkan asas darurat yang mendorong untuk dilakukannya pembedahan mayat dimana mashalatnya lebih besar daripada mafsadat berupa penghinaan kehormatan manusia/si mayit. Maka Majlis Al-Majma’ Al-Fiqhiy Al-Islamiy lirabithil ‘alam Al-Islamiy menetapkan:

ﺃﻭﻻً: ﻳﺠﻮﺯ ﺗﺸﺮﻳﺢ ﺟﺜﺚ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻷﺣﺪ‎ ‎ﺍﻷﻏﺮﺍﺽ ﺍﻵﺗﻴﺔ:‏‎ ‎ﺃ ( ﺍﻟﺘﺤﻘﻴﻖ ﻓﻲ ﺩﻋﻮﻯ ﺟﻨﺎﺋﻴﺔ ﻟﻤﻌﺮﻓﺔ‎ ‎ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺃﻭ ﺍﻟﺠﺮﻳﻤﺔ ﺍﻟﻤﺮﺗﻜﺒﺔ‎ ‎ﻭﺫﻟﻚ ﻋﻨﺪﻣﺎ ﻳﺸﻜﻞ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻣﻌﺮﻓﺔ‎ ‎ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﻮﻓﺎﺓ ﻭﻳﺘﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﺢ ﻫﻮ‎ ‎ﺍﻟﺴﺒﻴﻞ ﻟﻤﻌﺮﻓﺔ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ.
ﺏ ( ﺍﻟﺘﺤﻘﻖ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺴﺘﺪﻋﻲ‎ ‎ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﺢ ﻟﻴﺘﺨﺬ ﻋﻠﻰ ﺿﻮﺋﻪ ﺍﻻﺣﺘﻴﺎﻃﺎﺕ‎ ‎ﺍﻟﻮﺍﻗﻴﺔ ﻭﺍﻟﻌﻼﺟﺎﺕ ﺍﻟﻤﻨﺎﺳﺒﺔ ﻟﺘﻠﻚ‎ ‎ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ.
ﺝ ( ﺗﻌﻠﻴﻢ ﺍﻟﻄﺐ ﻭﺗﻌﻠﻤﻪ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﺍﻟﺤﺎﻝ‎ ‎ﻓﻲ ﻛﻠﻴﺎﺕ ﺍﻟﻄﺐ.

Pertama:

Bolehnya pembedahan mayat dengan salah satu tujuan berikut:

1. Memastikan klaim kejahatan/tindak kriminal untuk mengetahui sebab kematian atau mengetahui jenis tindak kriminal yang dilakukan ketika samar bagi hakim untuk mengetahui sebab kematian serta jelaslah bahwa pembedahan adalah jalan untuk mengetahui sebab tersebut.

2. Meneliti penyakit-penyakit yang memerlukan pembedahan untuk mengetahui tindakan preventif atau pengobatan yang tepat untuk penyakit tersebut.

3. Belajar dan mengajarkan ilmu kedokteran sebagaimana yang dilakukan di fakultas kedokteran (belajar anatomi).

ﺛﺎﻧﻴﺎً: ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﺢ ﻟﻐﺮﺽ ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻢ ﺗﺮﺍﻋﻰ‎ ‎ﺍﻟﻘﻴﻮﺩ ﺍﻟﺘﺎﻟﻴﺔ:
ﺃ ( ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺠﺜﺔ ﻟﺸﺨﺺ ﻣﻌﻠﻮﻡ‎ ‎ﻳﺸﺘﺮﻁ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺪ ﺃﺫﻥ ﻫﻮ ﻗﺒﻞ ﻣﻮﺗﻪ‎ ‎ﺑﺘﺸﺮﻳﺢ ﺟﺜﺘﻪ ﺃﻭ ﺃﻥ ﻳﺄﺫﻥ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺭﺛﺘﻪ ﺑﻌﺪ‎ ‎ﻣﻮﺗﻪ ﻭﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺗﺸﺮﻳﺢ ﺟﺜﺔ ﻣﻌﺼﻮﻡ‎ ‎ﺍﻟﺪﻡ ﺇﻻ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ.
ﺏ ( ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻘﺘﺼﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﺢ ﻋﻠﻰ‎ ‎ﻗﺪﺭ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻛﻴﻼ ﻳﻌﺒﺚ ﺑﺠﺜﺚ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ.
ﺝ ( ﺟﺜﺚ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺘﻮﻟﻰ‎ ‎ﺗﺸﺮﻳﺤﻬﺎ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻄﺒﻴﺒﺎﺕ ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻮﺟﺪﻥ.

Kedua:

Pada pembedahan untuk tujuan pendidikan hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:

1. Jika jasad tersebut sudah diketahui orangnya dipersyaratkan orang tersebut telah mengizinkan sebelum kematiannya atau ahli warisnya mengizinkan setelah kematiannya dan tidak selayaknya membedah mayat yang darahnya “ma’shum” (terjaga, misalnya seorang muslim, kafir dzimmi, dll -pent) kecuali keadaan darurat.

2. Wajib membatasi pembedahan sesuai kadar darurat ketika membedah mayat.

3. Jasad Wanita hanya boleh dibedah oleh wanita kecuali tidak ditemukan pembedah wanita.

ﺛﺎﻟﺜﺎً: ﻳﺠﺐ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﺣﻮﺍﻝ ﺩﻓﻦ‎ ‎ﺟﻤﻴﻊ ﺃﺟﺰﺍﺀ ﺍﻟﺠﺜﺔ ﺍﻟﻤﺸﺮﺣﺔ.‏‎ ‎ﻭﻗﻊ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻘﺮﺍﺭ ﻛﻞ ﻣﻦ: ﺍﻟﺸﻴﺦ‎ ‎ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﺑﺎﺯ – ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ- )ﺍﻟﺮﺋﻴﺲ

Ketiga:

Wajib -pada semua keadaan- menguburkan semua bagian-bagian jasad yang sudah dibedah.

Ketetapan ini ditandatangani oleh Syaikh Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah sebagai ketua.

Sumber: http://www.saaid.net/tabeeb/15.htm#17

Kita perlu juga memperhatikan fatwa Syaikh Muhammad Asy-Syinqiti rahimahullah mengenai hal ini. Berikut ringkasan keterangan beliau setelah membawakan pendapat ulama masa sekarang yang membolehkan dan mengharamkan mutlak, beliau berkata merajihkan:

ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺘﺮﺟﺢ ﻓﻲ ﻧﻈﺮﻱ – ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﻋﻨﺪ‎ ‎ﺍﻟﻠﻪ – ﻫﻮ ﺟﻮﺍﺯ ﺗﺸﺮﻳﺢ ﺟﺜﺔ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﺩﻭﻥ‎ ‎ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻭﺫﻟﻚ ﻟﻤﺎ ﻳﻠﻲ :‏‎ ‎ﺃﻭﻻ : ﻷﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﻋﺪﻡ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﺘﺼﺮﻑ‎ ‎ﻓﻲ ﺟﺜﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ‎ ‎ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﺍﻟﻤﺄﺫﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﻭﺍﻟﺘﺸﺮﻳﺢ ﻟﻴﺲ‎ ‎ﻣﻨﻬﺎ .
ﺛﺎﻧﻴﺎ : ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﺢ ﻳﻤﻜﻦ‎ ‎ﺳﺪﻫﺎ ﺑﺠﺜﺚ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ، ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﻌﺪﻭﻝ‎ ‎ﻋﻨﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺟﺜﺚ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ، ﻟﻌﻈﻴﻢ‎ ‎ﺣﺮﻣﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﻴﺎ ﺃﻭ ﻣﻴﺘﺎ .
ﺛﺎﻟﺜﺎ : ﺃﻥ ﺃﺩﻟﺔ ﺍﻟﻤﻨﻊ ﻳﻤﻜﻦ ﺗﺨﺼﻴﺼﻬﺎ‎ ‎ﺑﺎﻟﻤﺴﻠﻢ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ .
ﺭﺍﺑﻌﺎ : ﺃﻥ ﺍﺳﺘﺪﻻﻝ ﺍﻟﻘﺎﺋﻠﻴﻦ ﺑﺠﻮﺍﺯ‎ ‎ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﺢ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﺑﻘﻴﺎﺳﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﺶ ﺍﻟﻘﺒﺮ‎ ‎ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻷﺧﺬ ﺍﻟﻜﻔﻦ ﺍﻟﻤﻐﺼﻮﺏ ﻣﺮﺩﻭﺩ‎ ‎ﺑﻜﻮﻧﻪ ﻗﻴﺎﺳﺎ ﻣﻊ ﺍﻟﻔﺎﺭﻕ …

Yang rajih menurut saya (Syaikh Asy-Syinqiti) –wal ‘ilmu ‘indallah- adalah bolehnya membedah mayat orang kafir bukan mayat seorang muslim. Karena pertimbangan berikut:

1. Hukum asalnya tidak boleh melakukan tindakan yang macam-macam terhadap mayat seorang muslim kecuali dalam batas-batas syariat yang diperbolehkan. Dan pembedahan termasuk yang tidak dibolehkan.

2. Kebutuhan untuk pembedahan bisa dipenuhi dengan mayat orang kafir dan tidak boleh berpaling ke mayat seorang muslim karena mulianya derajat seorang muslim di sisi Allah baik ketika hidup maupun mati.

3. Dalil-dalil yang melarang (melarang mencincang dan menghacurkan tulang –pent) mungkin merupakan takhsis/pengkhususan kepada muslim saja tidak pada orang kafir.

4. Mereka yang berdalil bolehnya pembedahan secara mutlak mengqiyaskannya dengan bolehnya membongkar kubur mayat untuk mengambil kain kafan yang dirampas, maka qiyas ini tertolak karena merupakan “qiyas ma’al faariq” (qiyas yang tidak sesuai –pent).

ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻛﻠﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺘﺮﺟﺢ ﻓﻲ ﻧﻈﺮﻱ ﺍﻟﻘﻮﻝ‎ ‎ﺑﺠﻮﺍﺯ ﺗﺸﺮﻳﺢ ﺟﺜﺔ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ،‏‎ ‎ﻭﻟﻜﻦ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺘﻘﻴﺪ ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ‎ ‎ﻣﻤﻦ ﻳﻘﻮﻡ ﺑﻤﻬﻤﺔ ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﺢ ﺑﺎﻟﺤﺎﺟﺔ ،‏‎ ‎ﻓﻤﺘﻰ ﺯﺍﻟﺖ ، ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺘﻤﺜﻴﻞ‎ ‎ﺑﺎﻟﻜﺎﻓﺮ ﺑﺘﺸﺮﻳﺤﻪ ﺣﻴﻨﺌﺬ ، ﻷﻥ ﻣﺎ ﺟﺎﺯ‎ ‎ﻟﻌﺬﺭ ﺑﻄﻞ ﺑﺰﻭﺍﻟﻪ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ‎ ‎ﺃﻋﻠﻢ .ﺍ.ﻫـ.

Oleh karena itu yang rajih menurut pendapatku adalah pendapat yang membolehkan pembedahan mayat orang kafir dan tidak boleh pada mayat orang muslim. Akan tetapi selayaknya para dokter dan yang lainnya (pembedah mayat) membatasi kepentingan pembedahan mayat sesuai dengan kebutuhan. Jika tidak ada kebutuhan, maka tidak boleh mencincang maupun membedah mayat orang kafir ketika itu. Karena apa yang boleh karena ada udzur maka tidak boleh ketika udzur tersebut hilang.

Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber: http://saaid.net/Doat/Zugail/74.htm

Kesimpulan:

– Untuk keperluan pendidikan (belajar anatomi dan belajar otopsi) diusahakan menggunakan mayat orang kafir.

– Mayat seorang muslim boleh dibedah jika ingin diketahui sebab kematiannya untuk otopsi sebagai bukti di pengadilan.

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: http://muslimafiyah.com/hukum-membedah-mayat-untuk-keperluan-pendidikan-dan-otopsi.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 29/01/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: