Hukum Mewasiatkan Anggota Badan Setelah Mati untuk Orang Lain dan Pendidikan

“Kepada murid-muridku, saya wasiatkan tubuh saya ketika saya meninggal nanti, untuk dijadikan cadaver sebagai alat peraga praktikum anatomi, saya mau tubuh saya jadi amal jariyah untuk pendidikan kedokteran.”

“Istriku, saya mungkin meninggal sebentar lagi, saya wasiatkan ginjal saya untuk anak kita yang kelainan ginjal, semoga cocok untuk dia.”

Bagaimana hukumnya dalam Islam? Berikut sedikit pembahasannya.

Ada Larangan Mencincang Mayat dan Mematahkan Tulang

Yang menjadi permasalahan adalah hadits haramnya mencincang dan membelah jasad seorang muslim yang ini dilakukan dalam mewasiatkan organ dan mempelajari anatomi kedokteran (untuk hukumnya, silahkan baca: hukum membedah mayat untuk keperluan pendidikan dan otopsi). Hadits tersebut adalah,

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata,

ﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ ـ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ـ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ:‏‎ ‎ﺧﺮﺟْﻨﺎ ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ـ ﺻﻠّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ‎ ‎ﻭﺳﻠﻢ ـ ﻓﻲ ﺟﻨﺎﺯﺓ ﻓﺠﻠﺲ ﺍﻟﻨﺒﻲّ ﻋﻠﻰ‎ ‎ﺷَﻔﻴﺮ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻭﺟﻠﺴْﻨﺎ ﻣﻌﻪ، ﻓﺄﺧﺮﺝ ﺍﻟﺤَﻔّﺎﺭ‎ ‎ﻋﻈﻤًﺎ ـ ﺳﺎﻗًﺎ ﺃﻭ ﻋﻀﻮًﺍ ـ ﻓﺬﻫﺐ ﻟﻴﻜﺴِﺮﻩ،‏‎ ‎ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ـ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ“ ,ﻻ‎ ‎ﺗﻜﺴﺮْﻫﺎ، ﻓﺈﻥّ ﻛﺴﺮَﻙ ﺇﻳّﺎﻩ ﻣﻴّﺘًﺎ ﻛﻜﺴﺮِﻙ‎ ‎ﺇﻳﺎﻩ ﺣَﻴًّﺎ، ﻭﻟﻜﻦ ﺩُﺳَّﻪ ﻓﻲ ﺟﺎﻧﺐ ﺍﻟﻘﺒﺮ”‏‎ ‎ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺃﺑﻮ‎ ‎ﺩﺍﻭﺩ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ

“Aku keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengantar jenazah, beliau duduk di pinggir kuburan dan kami pun juga demikian. Lalu seorang penggali kubur mengeluarkan tulang (betis atau anggota) dan mematahkannya (menghancurkannya). Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Jangan kamu patahkan tulang itu. Kamu patahkan meski sudah meninggal sama saja dengan kamu patahkan sewaktu masih hidup. Benamkanlah di samping kuburan.” [1]

Diriwayatkan oleh Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata:

ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ‎ ‎ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻣَّﺮَ ﺃَﻣِﻴﺮًﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺟَﻴْﺶٍ ﺃَﻭْ ﺳَﺮِﻳَّﺔٍ ﺃَﻭْﺻَﺎﻩُ‏‎ ‎ﻓِﻲ ﺧَﺎﺻَّﺘِﻪِ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻣَﻌْﻪُ ﻣِﻦَ‏‎ ‎ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﺧَﻴْﺮًﺍ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ: ﺍﻏْﺰُﻭﺍ ﺑِﺎﺳْﻢِ‏‎ ‎ﺍﻟﻠﻪِ، ﻓﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻗَﺎﺗِﻠُﻮﺍ ﻣَﻦْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ،‏‎ ‎ﺍﻏْﺰُﻭﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻐُﻠُّﻮﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻐْﺪِﺭُﻭﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻤْﺜُﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﺎ‎ ‎ﺗَﻘْﺘُﻠُﻮﺍ ﻭَﻟِﻴﺪًﺍ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻟَﻘِﻴﺖَ ﻋَﺪُﻭَّﻙَ ﻣِﻦَ‏‎ ‎ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﻓَﺎﺩْﻋُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺛَﻠَﺎﺙِ ﺧِﺼَﺎﻝٍ -ﺃَﻭْ‏‎ ‎ﺧِﻠَﺎﻝٍ- ﻓَﺄَﻳَّﺘُﻬُﻦَّ ﻣَﺎ ﺃََﺟَﺎﺑُﻮﻙَ ﻓَﺎﻗْﺒَﻞْ ﻣِﻨْﻬُﻢْ‏‎ ‎ﻭَﻛُﻒَّ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺍﺩْﻋُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ، ﻓَﺈِﻥْ‏‎ ‎ﺃَﺟَﺎﺑُﻮﻙَ ﻓَﺎﻗْﺒَﻞْ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﻛُﻒَّ ﻋَﻨْﻬُﻢْ…

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila menetapkan seorang komandan sebuah pasukan perang yang besar atau kecil, beliau berpesan kepadanya secara khusus untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang bersamanya, lalu beliau mengatakan:

“Berperanglah dengan menyebut nama Allah, di jalan Allah. Perangilah orang yang kafir terhadap Allah. Berperanglah, jangan kalian melakukan ghulul (mencuri rampasan perang), jangan berkhianat, jangan mencincang mayat, dan jangan pula membunuh anak-anak. Bila kamu berjumpa dengan musuhmu dari kalangan musyrikin, maka ajaklah kepada tiga perkara. Mana yang mereka terima, maka terimalah dari mereka dan jangan perangi mereka. Ajaklah mereka kepada Islam, kalau mereka terima maka terimalah dan jangan perangi mereka…” [2]

Hukumnya Bagaimana?

Hukumnya BOLEH (MUBAH), sebagaimana yang dijelaskan oleh ulama kontemporer, karena melihat dan menimbang mashlahat syar’iyyah. Dan juga menimbang dengan kaidah: bahwa mahslahat orang hidup lebih diutamakan dari mashlahat kehormatan orang yang sudah meninggal.

Berikut fatwanya:

ﺍﻟﺘﺒﺮﻉ ﺑﺎﻟﻌﻀﻮ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﻞ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻮﺕ،‏‎ ‎ﻓﺎﻟﺮﺍﺟﺢ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﺟﻮﺍﺯﻩ. ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ‎ ‎ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﺭﺍﻋﺘﻬﺎ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ‎ ‎ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ، ﻭﻗﺪ ﺛﺒﺖ ﺃﻥ ﻣﺼﺎﻟﺢ ﺍﻷﺣﻴﺎﺀ‎ ‎ﻣﻘﺪﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﺼﻠﺤﺔ ﺍﻟﻤﺤﺎﻓﻈﺔ ﻋﻠﻰ‎ ‎ﺣﺮﻣﺔ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ. ﻭﻫﻨﺎ ﺗﻤﺜﻠﺖ ﻣﺼﺎﻟﺢ‎ ‎ﺍﻷﺣﻴﺎﺀ ﻓﻲ ﻧﻘﻞ ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ‎ ‎ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺮﺿﻰ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺟﻴﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺗﺘﻮﻗﻒ‎ ‎ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺣﻴﺎﺗﻬﻢ، ﺃﻭ ﺷﻔﺎﺅﻫﻢ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ‎ ‎ﺍﻟﻤﺴﺘﻌﺼﻴﺔ.‏‎ ‎ﻣﻊ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺄﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺃﻗﻮﺍﻻً ﺃﺧﺮﻯ،‏‎ ‎ﻭﻟﻜﻨﺎ ﺭﺟﺤﻨﺎ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺮﺃﻱ ﻟﻤﺎ ﺭﺃﻳﻨﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ‎ ‎ﺍﻟﺘﻤﺎﺷﻲ ﻣﻊ ﻣﻘﺎﺻﺪ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻣﻨﻬﺎ‎ ‎ﺍﻟﺘﻴﺴﻴﺮ، ﻭﺭﻓﻊ ﺍﻟﺤﺮﺝ، ﻭﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ‎ ‎ﺍﻟﻌﺎﻣﺔ، ﻭﺍﺭﺗﻜﺎﺏ ﺍﻷﺧﻒ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻔﺎﺳﺪ،‏‎ ‎ﻭﺍﻋﺘﺒﺎﺭ ﺍﻟﻌﻠﻴﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ.‏‎ ‎ﻭﺍﻟﺘﺒﺮﻉ ﺑﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﻟﺘﻴﻦ ﻣﺸﺮﻭﻁ‎ ‎ﺑﺄﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻤﺘﺒﺮَّﻉ ﻟﻪ ﻣﻌﺼﻮﻡ ﺍﻟﺪﻡ ، ﺃﻱ‎ ‎ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺴﻠﻤﺎً ﺃﻭ ﺫﻣﻴﺎً، ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ‎ ‎ﺍﻟﻤﺤﺎﺭﺏ.

Mewasiatkan anggota badan setelah meninggal maka pendapat terkuat adalah boleh (mubah). Karena adanya mashlahat syar’iyyah yang banyak dalam hal ini. Dan terdapat kaidah bahwa mahslahat orang hidup lebih diutamakan dari mashlahat kehormatan orang yang sudah meninggal. Terdapat mashlahat bagi orang yang hidup dengan memindahkan anggota badan dari orang yang mati kepada orang sakit yang membutuhkan dimana kehidupan mereka tergantung padanya (misalnya ginjal, pent) atau mereka bisa sembuh dari penyakit yang kronis (misalnya kekurangan darah karena penyakit sum-sum tulang, pent).

Meskipun diketahui adanya pendapat lain dalam masalah ini, akan tetapi kami menguatkan pendapat yang kami lihat tercapainya maqasid syariat (salah satu dari maqasid adalah terjaganya jiwa, pent), kemudian menghilangkan kesusahan dan memperhatikan mashlahat umum, serta memilih mafsadah yang paling kecil dan mengambil mashlahat yang paling baik.

Mewasiatkan anggota badan yang kami sebutkan mempunyai syarat yaitu orang yang diberikan (penerima donor anggota badan) adalah orang yang terjaga darahnya (tidak berhak dibunuh) seperti seorang muslim atau kafir dzimmi (orang kafir yang tinggal di negara kaum muslimin dan mendapat perlindungan dari pemerintah), bukan orang kafir yang diperangi. [3]

Demikian juga fatwa dari Majma’ al-Fiqh al-Islami, bolehnya memindahkan anggota tubuh dari orang mati ke orang hidup.

ﻳﺠﻮﺯ ﻧﻘﻞ ﻋﻀﻮ ﻣﻦ ﻣﻴﺖ ﺇﻟﻰ ﺣﻲ‎ ‎ﺗﺘﻮﻗﻒ ﺣﻴﺎﺗﻪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻌﻀﻮ، ﺃﻭ ﺗﺘﻮﻗﻒ‎ ‎ﺳﻼﻣﺔ ﻭﻇﻴﻔﺔ ﺃﺳﺎﺳﻴﺔ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ؛‎ ‎ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻳﺄﺫﻥ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺃﻭ ﻭﺭﺛﺘﻪ ﺑﻌﺪ‎ ‎ﻣﻮﺗﻪ، ﺃﻭ ﺑﺸﺮﻁ ﻣﻮﺍﻓﻘﺔ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ‎ ‎ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺘﻮﻓﻰ ﻣﺠﻬﻮﻝ ﺍﻟﻬﻮﻳﺔ ﺃﻭ ﻻ‎ ‎ﻭﺭﺛﺔ ﻟﻪ

Boleh hukumnya memindahkan organ tubuh mayyit kepada orang hidup yang sangat bergantung keselamatan jiwanya dengan organ tubuh tersebut, atau fungsi organ vital sangat tergantung pada keberadaan organ tersebut. Dengan syarat si mayit atau ahli warisnya mengizinkan. Atau dengan syarat persetujuan pemerintah muslim jika si mayyit seorang yang tidak dikenal identitasnya dan tidak memiliki ahli waris. [4]

Mewasiatkan boleh tetapi tidak boleh menjual anggota badan

Karena badan kita hanya titipan saja dari Allah, maka kita tidak boleh menjualnya. Demikian juga fatwa dari Majma’ al-Fiqh al-Islami,

ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﻣﻼﺣﻈﺔ ﺃﻥ ﺍﻻﺗﻔﺎﻕ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﺍﺯ‎ ‎ﻧﻘﻞ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﻻﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻢ ﺑﻴﺎﻧﻬﺎ،‏‎ ‎ﻣﺸﺮﻭﻁ ﺑﺄﻥ ﻻ ﻳﺘﻢ ﺫﻟﻚ ﺑﻮﺳﺎﻃﺔ ﺑﻴﻊ‎ ‎ﺍﻟﻌﻀﻮ. ﺇﺫ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺧﻀﺎﻉ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻟﻠﺒﻴﻊ‎ ‎ﺑﺤﺎﻝ ﻡ

Perlu diperhatikan bahwa kesepakatan bolehnya memindahkan organ tubuh yang dijelaskan di atas, disyaratkan tidak dilakukan dengan cara jual beli organ tubuh, karena jual beli organ tubuh tidak diperbolehkan sama sekali. [5]

Demikian semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] HR. Malik, Ibnu Majah, Abu Daud dengan sanad yang shahih.

[2] HR. Muslim.

[3] Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=11667

[4] Sumber: Fatawa lit thabibil Muslim, sumber: http://www.saaid.net/tabeeb/15.htm

[5] idem.

Sumber: http://muslimafiyah.com/hukum-mewasiatkan-anggota-badan-setelah-mati-untuk-orang-lain-dan-pendidikan.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 30/01/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: