Menyikapi Istri yang Tidak Mau Bercadar

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah

Pertanyaan: Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, penanya dari Emirat Arab menanyakan tentang seorang istri yang tidak mentaati suaminya dalam hal memakai cadar, apakah boleh baginya untuk mencerainya dalam keadaan dia memiliki anak-anak yang masih kecil, sementara dia mengkhawatirkan nasib mereka di waktu ini, dan apakah suami tersebut teranggap berdosa?

Jawaban:

Kami tidak menganjurkannya, dan syariat juga tidak menganjurkan untuk mencerainya semata-mata karena dia tidak mau memakai cadar. Yang dituntut adalah dengan mendoakan untuknya agar diberi tambahan kebaikan dan kesalehan. Demikian juga dengan memotivasinya untuk melakukan hal itu dan memperdengarkan kepadanya hal-hal yang bermanfaat berupa adab-adab syariat dan bimbingan para ulama. Kalau dia menerimanya maka itu yang diharapkan. Namun jika dia tidak menerima maka hendaknya tetap mempertahankannya sebagai istri bersamanya dan mempergaulinya dengan baik.

Adapun hal yang muncul darinya ini tidak boleh menjadi sebab untuk menjauhinya dan bersikap buruk terhadapnya, walaupun perbuatannya itu merupakan kekurangan darinya dan yang diharapkan hendaknya dia dalam keadaan paling sempurna dalam hal ini dan dalam adab yang paling sempurna dalam masalah ini.

Hanya saja Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

ﻟَﺎ ﻳَﻔْﺮَﻙْ ﻣُﺆْﻣِﻦٌ ﻣُﺆْﻣِﻨَﺔً، ﺇِﻥْ ﻛَﺮِﻩَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺧُﻠُﻘًﺎ‎ ‎ﺭَﺿِﻲَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺁﺧَﺮَ.

“Janganlah seorang pria yang beriman (suami –pent) membenci seorang wanita yang beriman (istri –pent), jika dia tidak menyukai sebuah sifat dari istrinya tersebut, pasti ada hal lain yang dia sukai darinya.” (HR. Muslim no. 1469 –pent)

Jadi kesempurnaan itu sesuatu yang berat, kesempurnaan adalah sesuatu yang sulit diraih, walaupun pada seseorang yang memiliki kebaikan, walhamdulillah.

Maka kami wasiatkan agar bersikap lembut kepadanya dan bersabar menghadapinya, dan mempergaulinya dengan cara yang baik. Kami juga mewasiatkan kepada istrinya agar menyempurnakan adab-adab, khususnya yang berkaitan dengan adab-adab bermasyarakat dan adab-adab syariat dalam hal berpakaian.

Hanya kepada Allah saja kita memohon pertolongan.

Ditranskrip dan diterjemahkan oleh: Abu Almass bin Jaman Al-Ausathy
Setelah isya pada hari Ahad, 23 Rabi’uts Tsany 1435 H
Daarul Hadits – Ma’bar – Yaman

Sumber: http://forumsalafy.net/?p=1578

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 16/02/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: