Hobi Koleksi Buku/Kitab Tetapi Tidak Dibaca

Seorang penuntut ilmu pasti akan berusaha mengumpulkan buku-buku dan kitab-kitab para ulama, mengoleksinya atau membuat semacam perpustakaan pribadi. Karena buku dan kitab para ulama adalah salah satu sumber ilmu setelah sumber utamanya yaitu di dada para ulama.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻄﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﺤﺮﺹ ﻋﻠﻰ‎ ‎ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻜﺘﺐ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺒﺪﺃ ﺑﺎﻷﻫﻢ ﻓﺎﻷﻫﻢ،‏‎ ‎ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻗﻠﻴﻞ ﺫﺍﺕ ﺍﻟﻴﺪ، ﻓﻠﻴﺲ‎ ‎ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﺃﻥ ﻳﺸﺘﺮﻱ‎ ‎ﻛﺘﺒًﺎ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻳٌﻠﺰﻡ ﻧﻔﺴﻪ ﺑﻐﺮﺍﻣﺔ ﻗﻴﻤﺘﻬﺎ،‏‎ ‎ﻓﺈﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺳﻮﺀ ﺍﻟﺘﺼﺮﻑ، ﻭﺇﺫﺍ ﻟﻢ‎ ‎ﻳﻤﻜﻨﻚ ﺃﻥ ﺗﺸﺘﺮﻱ ﻣﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻴﻤﻜﻨﻚ ﺃﻥ‎ ‎ﺗﺴﺘﻌﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻱ ﻣﻜﺘﺒﺔ .

“Selayaknya bagi penuntut ilmu memiliki semangat untuk mengumpulkan kitab-kitab, akan tetapi hendaklah ia memulai dengan kitab yang paling penting (kitab-kitab dasar) kemudian kitab yang penting, jika ia tidak mempunyai banyak harta, maka bukanlah merupakan kebaikan dan bukanlah hal yang bijaksana jika ia membeli kitab-kitab yang banyak dan memaksakan dirinya dengan harga yang tinggi, karena ini merupakan tindakan yang jelek. Jika tidak memungkinkan engkau untuk membelinya dari hartamu maka engkau bisa meminjamnya dari perpustakaan manapun.” [1]

Mengumpulkan buku dan kitab untuk “keren-kerenan”

Niat ini yang harus dijauhi oleh penuntut ilmu terutama penuntut ilmu pemula. Berharap pujian manusia dan mengharap teman-temannya mengira dia sudah banyak membaca kitab-kitab para ulama. Terkadang dengan bangga dan riya’ ia menyebutkan di depan teman-temannya,

“Saya sudah punya kitab ini sekian jilid karangan syaikh ini.” (niatnya ingin pamer)

“Oh kalau kitab yang ini saya sudah punya di rumah, saya sudah punya dari dulu.” (niatnya supaya temannya mengira ia sudah membacanya padahal belum)

Sebenarnya hobi mengumpulkan kitab-kitab para ulama adalah perbuatan yang sangat baik dan menunjukkan ciri seorang penuntut ilmu. Akan tetapi hobi mengumpulkan kitab para ulama juga hendaknya –terutama sekali- dibarengi dengan semangat belajar bahasa Arab. Akan percuma dan kurang bermanfaat baginya kitab-kitab tersebut karena sekedar menjadi pajangan.

Sungguh benar perkataan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ:‏‎ ‎‏“ﺗﻌﻠﻤﻮﺍ ﺍﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﺩﻳﻨﻜﻢ ﻭﺗﻌﻠﻤﻮﺍ‎ ‎ﺍﻟﻔﺮﺍﺋﺾ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﺩﻳﻨﻜﻢ

“Pelajarilah bahasa Arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian, pelajarilah ilmu waris karena merupakan bagian dari agama kalian.” [2]

Mengkoleksi dan meminjamkan

Kita juga bisa mengkoleksi jika mempunyai harta yang banyak dan bisa juga meminjamkannya kepada penuntut ilmu lain yang bersemangat untuk sementara jika kita tidak menggunakannya.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya,

ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ: ﺃﻧﺎ ﺭﺟﻞ ﻭﻟﻠﻪ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﺪﻱ ﺍﻟﻌﺪﻳﺪ‎ ‎ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺘﺐ ﺍﻟﻨﺎﻓﻌﺔ ﻭﺍﻟﻤﻔﻴﺪﺓ ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺟﻊ‎ ‎ﻟﻜﻨﻨﻲ ﻻ ﺃﻗﺮﺅﻫﺎ ﺑﻞ ﺃﺧﺘﺎﺭ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﺒﻌﺾ.‏‎ ‎ﻫﻞ ﻳﻠﺤﻘﻨﻲ ﺇﺛﻢ ﻓﻲ ﺟﻤﻊ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻜﺘﺐ‎ ‎ﻋﻨﺪﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻣﻊ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﺑﻌﺾ‎ ‎ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﺄﺧﺬﻭﻥ ﻣﻦ ﻋﻨﺪﻱ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻜﺘﺐ‎ ‎ﻳﺴﺘﻔﻴﺪﻭﻥ ﻣﻨﻬﺎ ﺛﻢ ﻳﺮﺟﻌﻮﻧﻬﺎ؟

Saya seorang laki-laki yang Alhamdulillah memiliki banyak kitab-kitab dan rujukan-rujukan yang berguna dan bermanfaat, akan tetapi saya tidak membacanya, bahkan saya memilih sebagiannya saja. Apakah saya mendapat dosa dengan mengumpulkan kitab-kitab di rumah dan perlu diketahui sebagian orang meminjam kitab-kitab tersebut untuk mengambil faidah kemudian mengembalikannya.

Beliau menjawab,

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ
“ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺟﻤﻊ‎ ‎ﺍﻟﻜﺘﺐ ﺍﻟﻤﻔﻴﺪﺓ ﻭﺣﻔﻈﻬﺎ ﻟﺪﻳﻪ ﻓﻲ ﻣﻜﺘﺒﺔ‎ ‎ﻟﻤﺮﺍﺟﻌﺘﻬﺎ ﻭﺍﻻﺳﺘﻔﺎﺩﺓ ﻣﻨﻬﺎ ، ﻭﻟﺘﻘﺪﻳﻤﻬﺎ‎ ‎ﻟﻤﻦ ﻳﺰﻭﺭﻩ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻟﻴﺴﺘﻔﻴﺪﻭﺍ‎ ‎ﻣﻨﻬﺎ، ﻭﻻ ﺣﺮﺝ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺮﺍﺟﻊ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ‎ ‎ﻣﻨﻬﺎ، ﺃﻣﺎ ﺇﻋﺎﺭﺗﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺜﻘﺎﺕ ﺍﻟﺬﻳﻦ‎ ‎ﻳﺴﺘﻔﻴﺪﻭﻥ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﺬﻟﻚ ﻣﺸﺮﻭﻉ ﻭﻗﺮﺑﺔ‎ ‎ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ، ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻹﻋﺎﻧﺔ‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺗﺤﺼﻴﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﺩﺍﺧﻞ‎ ‎ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ: )ﻭَﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒِﺮِّ‏‎ ‎ﻭَﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ( ، ﻭﻓﻲ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: )ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻋﻮﻥ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻣﺎ‎ ‎ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻓﻲ ﻋﻮﻥ ﺃﺧﻴﻪ (” ﺍﻧﺘﻬﻰ .‏‎ ‎‏“ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﺑﺎﺯ” )24/78 (

Alhamdulillah, tidak ada dosa bagi seorang mukmin mengumpulkan kitab-kitab yang bermanfaat dan mengumpulkannya di sebuah perpustakaan sebagai referensi dan pengambilan faidah, memberikan kepada penuntut ilmu yang mengunjungi perpustakaan untuk mengambil faidah, tidak ada dosa jika ia tidak sering menggunakan perpustakaan tersebut.

Adapun meminjamkannya kepada orang yang akan mengambil faidah adalah hal yang disyariatkan dan merupakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hal ini merupakan tolong-menolong dalam mewujudkan ilmu dan termasuk dalam firman Allah,

“Saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa”. Dan termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya”. (Majmu’ fatawa Ibnu Baz 24/78) [3]

Sambil belajar bahasa arab, kumpulkan saja kitab-kitab walau belum bisa baca

Beberapa ustadz dan guru bahasa arab kami dahulunya berkata seperti ini, walaupun belum bisa baca kitab arab gundul tetapi koleksi saja kitab-kitab para ulama tersebut.

Memang untuk bisa baca dan mengerti kitab Arab gundul tidak bisa secepat belajar bahasa yang lain, dan memang butuh waktu, keseriusan dan perjuangan. Ternyata hikmahnya adalah kitab-kitab tersebut bisa menjadi motivasi kita dalam belajar bahasa Arab. Kitab yang terpajang di lemari kita akan memotivasi kita untuk bisa segera membacanya.

Sehingga tatkala lemah semangat atau putus asa belajar bahasa Arab, dengan melihat-lihat atau membolak-balik kitab-kitab yang ada di lemari kita maka kita bisa bersemangat kembali, atau minimal kita akan merasa uang akan terbuang percuma jika buku ini tidak di baca.

Dan hendaknya, penuntut ilmu memilki anggaran khusus tiap bulan atau tiap periode untuk membeli buku-buku dan kitab-kitab para ulama, bahkan jika perlu anggaran kitab mengalahkan anggaran kebutuhan tersier. Yang hebatnya juga ada penuntut ilmu yang mengorbankan kebutuhan sekunder, menahan-nahan diri membeli sesuatu agar bisa membeli kitab.

Demikianlah kita seharusnya bersemangat dalam hal-hal kebaikan bagi kita, kebaikan dunia dan akhirat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﺣﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻚ، ﻭﺍﺳﺘﻌﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ‎ ‎ﻭﻻ ﺗﻌﺠﺰﻥ

“Bersemangatlah kamu terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi kamu, dan mohonlah pertolongan pada Allah dan jangan merasa lemah.” [4]

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] Kitabul ‘Ilmi libni ‘Utsaimin hal. 53, Syamilah.

[2] Iqtidho’ shiratal mustaqim 527-528 jilid I, tahqiq syaikh Nashir Abdul karim Al–‘Aql, Wizarot Asy Syu-un Al Islamiyah wal Awqof.

[3] Sumber: http://islamqa.info/ar/ref/125920

[4] HR. Muslim.

Sumber: http://muslimafiyah.com/hobi-koleksi-bukukitab-tetapi-tidak-dibaca.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 21/02/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: