Kisah Dusta #3: Abu Bakar Tersengat Kalajengking

Kisahnya

Syaikh Shafiyurr Rohman Al-Mubarokfury berkata dalam kitabnya “Ar-Rahiqul Mahtum” (hal.168). “Sesampai di mulut gua, Abu Bakar berkata: “Demi Allah, janganlah engkau masuk ke dalamnya sebelum aku masuk terlebih dahulu. Jika di dalam ada sesuatu yang tidak beres, biarlah aku yang terkena, asal tidak mengenai engkau.”

Lalu Abu Bakar memasuki gua dengan menyisihkan kotoran yang menghalangi. Di sebelahnya dia mendapatkan lubang. Dia merobek mantelnya menjadi dua bagian dan mengikatnya ke lubang itu. Robekan satunya lagi dia balutkan ke kakinya. Setelah itu Abu Bakar berkata kepada beliau: “Masuklah!”

Maka beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) pun masuk ke dalam gua. Setelah mengambil tempat di dalam gua, beliau merebahkan kepala di atas pangkuan Abu Bakar dan tertidur. Tiba-tiba Abu Bakar disengat hewan dari lubangnya. Namun dia tidak berani bergerak, karena takut mengganggu tidur Rasulullah.

Dengan menahan rasa sakit, air matanya menetes ke wajah beliau. ”Apa yang terjadi denganmu wahai Abu Bakar?“ Tanya beliau. Abu Bakar menjawab, “Demi ayah dan ibuku menjadi jaminanmu, aku digigit binatang.” Rasulullah meludahi bagian yang digigit sehingga hilang rasa sakitnya.”

Takhrij Kisah

Kisah ini sangat masyhur sekali dalam buku-buku siroh. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Dalail Nubuwwah (2/476-477) dari jalan Abu Husain Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyron dari Ahmad bin Salman An-Najjar dari Yahya bin Ja’far dari Abdur Rohman bin Ibrohim Ar-Rosiby dari Furot bin Saib dari Maimun bin Mihron dari Dhobbah bin Mihshan Al-‘Anazy dari Umar bin Khottob. Kisah ini juga dicantumkan oleh At-Tibrizy dalam Misykah Mashabih (3/1700) tahqiq Syaikh Al-Albani.

Derajat Kisah

MAUDHU’. Disebabkan:
1. Abdur Roman bin Ibrohim Ar-Rosib. Imam adz-Dzahabi berkata: “Abdur Rohman bin Ibrohim Ar-Rosiby dari Malik. Dia tertuduh dalam kasus meriwayatkan khabar batil yang panjang. Dia juga meriwayatkan dari Furot bin Saib dari Maimun bin Mihron dari Dhobbah bin Mihshan dari Abu Musa tentang kisah di gua. Kisahnya persis seperti buatan orang-orang thoriqot.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyetujui perkataan adz-Dzahabi tentang kisah gua di atas yaitu persis seperti buatan orang-orang thoriqot.

2. Furot bin Saib. Imam Dzahabi berkata: “Furot bin Saib dari Maimun bin Mihron: Bukhori berkata: Munkarul hadits. Ibnu Ma’in berkata: Lemah. Daruqutni berkata: Matruk (ditinggalkan).” Al-Hafizh Ibnu Hajar menyetujui perkataan Dzahabi di atas lalu menambahkan: Abu Hatim berkata: Lemah haditsnya, munkarul hadits. As-Saji berkata: Para ulama meninggalkannya. Nasa’i berkata: Matrukul Hadits.”

Setelah kita mengetahui keadaan Furot bin Saib di atas maka semakin gamblang bagi kita perkataan Imam Ibnu Hibban: “Furot bin Saib Al-Jazary meriwayatkan dari Maimun bin Mihron, dia meriwayatkan hadits-hadits maudhu’ (palsu) dari orang-orang tsiqoh (terpercaya), tidak boleh berhujjah dengannya, meriwayatkan darinya dan menulis haditsnya melainkan hanya untuk mengetes saja.”

Wallahu a’lam.

Sumber: Abiubaidah.com

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 06/03/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: