Kisah Dusta #11: Tahkim Abu Musa dan ‘Amr bin ‘Ash

Kisahnya

Tatkala Abu Musa radhiallahu ‘anhu dan Amr bin Ash radhiallahu ‘anhu berkumpul di Daumatul Jandal, keduanya bersepakat untuk menurunkan Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu dan Muawiyah radhiallahu ‘anhu dari kekhalifahan. Amr berkata kepada Abu Musa, “Silakan Anda berbicara dulu!” Abu Musa pun berdiri seraya berkata, “Aku telah pikirkan matang-matang ternyata sebaiknya aku turunkan Ali dari kekhalifahan sebagaimana aku turunkan pedangku ini dari pundakku.” (Lalu dia melepaskan pedangnya dari pundaknya).

Tibalah giliran Amr bin Ash untuk berbicara. Dia pun berdiri seraya berkata, “Aku telah berpikir matang-matang ternyata sebaiknya aku mengangkat Muawiyah sebagai khalifah sebagaimana aku mengangkat pedangku ini dari tanah.” (Lalu dia mengambil pedangnya dan meletakkannya dia atas pundaknya).

Mendengar hal tersebut Abu Musa pun tak tinggal diam, dia bergegas mengingkari dengan keras, namun jawab Amr bin Ash dengan mudah, “Demikianlah kesepakatan kita.”

Kisah Ini Populer

Kisah ini juga masyhur dalam sejarah, khususnya di buku-buku kurikulum anak-anak kita untuk menodai nama baik sahabat Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu dan Amr bin Ash radhiallahu ‘anhu serta menggambarkan mereka sebagai orang yang sangat licik, musuh bebuyutan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, politikus yang menghalalkan darah kaum muslimin, dan tuduhan-tuduhan keji lainnya.

Mengkritisi Kisah

Semua kisah di atas hanyalah kedustaan belaka, hasil buatan tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab:

a. Kisah ini TIDAK SHAHIH, bahkan pemutarbalikan sejarah. Al-Qadhi Abu Bakar berkata: “Kisah ini seluruhnya dusta belaka, tidak pernah terjadi satu huruf pun. Ini hanyalah karangan ahli bid`ah yang diwarisi oleh orang-orang yang tidak mengerti.”

b. Kisah yang shahih adalah bahwa keduanya berkumpul dan membuahkan sebuah kesimpulan yaitu: “Menyerahkan keputusan terbaik kepada kaum muslimin, dan keduanya saling menghormati.”

c. Kalaulah memang shahih, maka sikap yang benar menghadapi fitnah di antara sahabat Rasulullah  adalah menahan lidah kita dari mencela mereka dan mendo’akan ampun untuk mereka. Dalam hadits disebutkan:

ﺇِﺫَﺍ ﺫُﻛِﺮَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲ ﻓَﺄَﻣْﺴِﻜُﻮْﺍ

“Apabila disebut sahabatku, maka tahanlah.” (lihat Ash-Shahihah no. 34)

Al-Munawi berkata: “Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: Apabila disebut sahabatku, yaitu apa yang terjadi di antara mereka, berupa perselisihan dan peperangan. Adapun sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam: Tahanlah, yakni janganlah mencela mereka atau menyebut mereka dengan kata-kata yang tidak pantas karena mereka adalah sebaik-baik umat.”

Apalagi seorang sahabat seperti ‘Amr bin ‘Ash atau Mu’awiyah yang memiliki keutamaan khusus, maka tidak boleh sama sekali kita mencelanya. Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seorang yang mencela Muawiyah dan Amr bin Ash, apakah dia Rofidhoh? Beliau menjawab: “Tak seorangpun berani mencela keduanya kecuali dia memiliki tujuan yang jelek.”

Sumber: Abiubaidah.com

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 14/03/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: