Kisah Dusta #17: Al-Utby dan Kuburan Nabi

Al-’Utbi berkata: “Suatu saat, aku pernah duduk di samping makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian datang seorang a’rabi (arab badui) dan berkata: “Salam sejahtera atasmu ya Rasulullah. Aku mendengar Allah berfirman:

ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﺇِﺫْ ﻇَﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ ﺟَﺎﺀُﻭﻙَ‏‎ ‎ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻔَﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔَﺮَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ‏‎ ‎ﻟَﻮَﺟَﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻮَّﺍﺑًﺎ ﺭَﺣِﻴﻤًﺎ

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 64)

Aku datang kepadamu memohon ampun karena dosaku dan memohon pertolonganmu kepada Tuhanku.” Kemudian dia mengucapkan syair:

ﻳَﺎ ﺧَﻴْﺮَ ﻣَﻦْ ﺩُﻓِﻨَﺖْ ﺑِﺎﻟْﻘَﺎﻉِ ﺃَﻋْﻈُﻤُﻪُ ﻓَﻄَﺎﺏَ‏‎ ‎ﻣِﻦْ ﻃِﻴﺒِﻬِﻦَّ ﺍﻟﻘَﺎﻉُ ﻭَﺍﻷََﻛَﻢُ‏‎ ‎ﻧَﻔْﺴﻲ ﺍﻟﻔِﺪَﺍﺀُ ﻟِﻘَﺒْﺮٍ ﺃَﻧْﺖَ ﺳَﺎﻛِﻨُﻪُ ﻓِﻴﻪِ‏‎ ‎ﺍﻟﻌَﻔَﺎﻑُ ﻭَﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺠُﻮﺩُ ﻭَﺍﻟﻜَﺮَﻡُ

Wahai sebaik-baik orang yang jasadnya disemayamkan di tanah ini
Sehingga semerbaklah tanah dan bukit karena jasadmu
Jiwaku sebagai penebus bagi tanah tempat persemayamanmu
Di sana terdapat kesucian, kemurahan dan kemuliaan.

Orang badui itu lalu pergi. Kemudian aku tertidur dan bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau berkata: “Wahai Utbi, kejarlah si a’rabi tadi, sampaikan kabar gembira kepadanya, bahwa Allah telah mengampuni dosanya.”

Kisah Populer

Kisah ini sangat populer sekali, banyak dimuat dalam kitab-kitab dan sering disebut-sebut oleh ahli bid’ah untuk mengusung paham sesat mereka yaitu boleh bahkan dianjurkan meminta pertolongan dan berdoa kepada orang yang sudah meninggal dunia!!

Takhrij Kisah

Kisah ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3880, Ibnu Najjar dalam ad-Durroh Ats-Tsaminah fi Tarikh Madinah hlm. 147 dan lain-lain dengan sanadnya kepada Muhammad bin Rouh dari Muhammad bin Harb al-Hilali…

“Kisah ini diriwayatkan oleh sebagian penulis dengan beberapa jalur:

1. Ada yang meriwayatkan dari al-’Utby tanpa sanad.

2. Ada yang meriwayatkan dari Muhammad bin Harb al-Hilali.

3. Ada yang meriwayatkan dari Muhammad bin Harb dari Abul Hasan az-Za’faroni dari al-A’robi.

4. Sebagian pendusta juga membuat-buat sanad kisah ini dengan menyandarkannya kepada Ali bin Abi Thalib.”

Derajat Kisah

BATHIL. Kisah ini bathil dan tidak shohih sama sekali, disebabkan:

1. Sanad kisah ini gelap dan lemah

Perinciannya sebagai berikut:

– Jalur yang tanpa sanad jelas sekali tidak bisa dijadikan landasan.

– Jalur Ibnu Najjar dikatakan oleh Syaikh Hammad al-Anshori, ahli hadits Madinah: “Para perawinya tidak dikenal, mulai dari gurunya hingga Muhammad bin Harb al-Hilali.

– Jalur al-Baihaqi dikatakan oleh al-Albani: “Sanad ini lemah dan gelap, saya tidak mengenal Abu Ayyub al-Hilali dan ke bawahnya.” Lanjutnya: “Kisah ini sangat nyata munkar. Cukuplah kiranya karena kisah ini bermuara kepada seorang badui yang tak dikenal.”

– Jalur dari Ali bin Abi Thalib dikatakan oleh Imam Ibnu Abdil Hadi: “Khobar ini munkar, palsu, hanya dibuat-buat, tidak bisa dijadikan sandaran, sanadnya gelap di atas kegelapan.”

Imam Ibnu Abdil Hadi berkata: “Kesimpulannya, kisah A’robi ini tidak bisa dijadikan landasan, karena sanadnya gelap, lafadznya penuh perbedaan, tidak bisa dijadikan pedoman dan hujjah menurut ahli ilmu.”

Beliau juga mengatakan: “Adapun kisah al-’Utbi, disebutkan oleh sebagian ahli fiqih dan ahli hadits tetapi kisah ini tidak shohih kepada al-’Utbi, diriwayatkan dari jalur lain dengan sanad yang gelap.

Kesimpulannya, kisah ini tidak bisa dijadikan landasan hukum syar’i, lebih-lebih dalam masalah ini yang seandainya disyari’atkan tentu para sahabaat dan tabi’in lebih tahu dan lebih semangat untuk melakukannya daripada selain mereka.”

2. Matan-nya mudhthorib (goncang)

Kisah ini juga mudhthorib, karena diriwayatkan dari jalur yang saling berbeda dan tidak bisa digabungkan, dan jalur-jalurnya lemah sekali sehingga tidak bisa ditarjih (dikuatkan) salah satu di antaranya. Ada yang meriwayatkan dari al-’Utby tanpa sanad, ada yang meriwayatkan dari Muhammad bin Harb al-Hilali, ada yang meriwayatkan dari az-Za’faroni, ada yang meriwayatkan dari Abu Harb al-Hilali, ada yang meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib. Jadi sanad kisah ini, di samping para perawinya yang tak dikenal bahkan ada yang tanpa sanad, juga matan-nya goncang sehingga lafadznya-pun berbeda-beda.

Mengkritisi Matan Kisah

1. Kisah ini adalah munkar dan bathil karena menyelisihi Al-Qur’an dan hadits. Oleh karena itu, para ahli bid’ah sering menukilnya untuk membolehkan istighosah (meminta pertolongan) kepada Nabi dan meminta syafa’at kepada beliau setelah wafat. Sungguh, hal ini merupakan kebatilan yang amat nyata sebagaimana dimaklumi bersama.

2. Sesungguhnya meminta syafa’at, doa dan istighfar setelah kematian Nabi dan di sisi kuburan beliau bukanlah hal yang disyari’atkan menurut satupun dari imam kaum muslimin, dan tidak disebutkan oleh salah satu imam dari imam empat dan kawan-kawan mereka yang pendahulu. Hal ini hanya diceritakan oleh orang-orang belakangan, mereka menceritakan kisah al-’Utbi bahwa dia melihat orang Arab badui mendatangi kubur Nabi dan membaca ayat (QS. An-Nisa’: 64) dan bahwasanya dia melihat dalam mimpi bahwa Allah mengampuninya. Kisah ini tidak disebutkan oleh salah seorang mujtahid-pun dari penganut madzhab yang diikuti oleh manusia fatwa mereka. Dan telah dimaklumi bersama kalau seandainya meminta doa, syafa’at dan istighfar kepada Nabi di kuburnya hukumnya disyariatkan, niscaya para sahabat, tabi’in dan para imam lebih tahu dan lebih mendahului selain mereka.

Alangkah indahnya ucapan Imam Malik: “Tidak baik umat ini kecuali dengan apa yang membuat generasi pertama menjadi baik.” Dan tidak sampai kepadaku dari generasi pertama bahwa mereka melakukan hal itu. Lantas bagaimana orang seperti imam ini –yakni al-’Utbi- mensyari’atkan suatu agama yang tidak dinukil dari seorangpun dari salaf shalih, dan memerintahkan kepada umat untuk meminta doa, syafa’at dan istighfar setelah matinya para Nabi dan orang-orang shalih di sisi kuburan mereka, sedangkan hal itu tidak pernah dilakukan oleh seorangpun dari salaf shalih?!!

3. Kisah ini adalah bathil dan tidak shohih, karena pelaku kisah adalah orang yang majhul (tidak dikenal), demikian juga para perowinya adalah orang-orang yang tak dikenal. Dan tidak mungkin kisah seperti ini shahih, sebab Allah berfirman:

( ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﺇِﺫْ ﻇَﻠَﻤُﻮْﺍ)

Allah tidak mengatakan: “ ﺇِﺫَﺍ ﻇَﻠَﻤُﻮْﺍ ‏‎ Dalam bahasa arab ﺇِﺫْ untuk berfungsi menerangkan waktu lampau saja (bukan menunjukkan waktu yang akan datang), berbeda dengan ﺇِﺫَﺍ .

Oleh karena itu para sahabat tatkala kemarau panjang pada zaman Umar, mereka tidak meminta kepada Nabi untuk istisqo’ (minta hujan), tetapi meminta kepada Abbas bin Abdul Muthollib dengan doanya dan beliau hadir bersama para sahabat.

4. Ini hanyalah mimpi yang tidak bisa dijadikan sebagai landasan hukum syar’i. Sungguh sangat mengherankan para ahli bid’ah, mereka berpegang kepada kisah seorang arab badui dan meninggalkan para ulama salaf.

Apakah mereka berkeyakinan bahwa orang arab badui ini lebih berilmu tentang agama daripada Abu Bakar, Umar dan seluruh para sahabat yang tidak melakukan perbuatan ini? Kalau demikian, kenapa orang yang berdalil dengan kisah ini tidak kencing saja di masjid Nabawi, karena telah shahih dalam Bukhari Muslim bahwa ada seorang arab badui pernah kencing di masjid?!!

Memahami Tawassul

Cukuplah bagi kita tawassul yang disyari’atkan, seperti tawassul dengan nama dan sifat Allah, amal shalih, taat dan mengikuti ajaran Nabi. Inilah tawassul yang disyari’atkan.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﺑْﺘَﻐُﻮﺍ ﺇِﻟَﻴْﻪِ‏‎ ‎ﺍﻟْﻮَﺳِﻴﻠَﺔَ ﻭَﺟَﺎﻫِﺪُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ‏‎ ‎ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 35)

Para sahabat dan tabi’in telah bersepakat bahwa tawassul dalam ayat ini maksudnya adalah dengan taat kepada Allah sesuai syari’atNya.

Adapun tawassul-tawassul yang tidak disyari’atkan maka ada dua macam:

1. Tawassul syirik, seperti berdoa atau meminta tolong kepada orang yang telah mati, karena seorang mukmin tidak boleh memalingkan ibadah kepada selain Allah.

ﺃَﻣَّﻦْ ﻳُﺠِﻴﺐُ ﺍﻟْﻤُﻀْﻄَﺮَّ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻩُ ﻭَﻳَﻜْﺸِﻒُ‏‎ ‎ﺍﻟﺴُّﻮﺀَ ﻭَﻳَﺠْﻌَﻠُﻜُﻢْ ﺧُﻠَﻔَﺎﺀَ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺃَﺋِﻠَﻪٌ ﻣَﻊَ‏‎ ‎ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺬَﻛَّﺮُﻭﻥَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” (QS. An-Naml: 62)

2. Tawassul bid’ah, seperti tawassul dengan jah (tuah) Nabi, hal ini tidak dinukil dari Nabi dalam hadits yang shahih. Dalil-dalil tentang masalah ini bermuara pada dua hal: mungkin hadits palsu, lemah sekali, tidak bisa dijadikan hujjah, atau derajatnya shahih tapi tidak mengena sasaran masalah ini.

Ibnu Taimiyyah Tidak Melarang Ziarah Kubur Nabi

Banyak orang menyangka bahwa Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan orang-orang yang sejalan dengannya di kalangan salafiyin melarang ziarah kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini merupakan kedustaan dan tuduhan palsu. Tuduhan seperti ini bukanlah perkara yang baru.

Orang yang mau menelaah kitab-kitab Ibnu Taimiyyah akan mengetahui bahwa beliau mengatakan disyariatkanya ziarah kubur nabi  dengan syarat tidak diiringi kemungkaran-kemungkaran dan kebid’ahan-kebid’ahan seperti bepergian/safar kesana berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Janganlah mengadakan perjalanan kecuali ke tiga masjid.”

Benar, barangsiapa yang mau membaca kitab-kitab Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan adil dan jujur, niscaya ia akan mengetahui bahwa beliau sama sekali tidak mengharamkan ziarah kubur sebagaimana tuduhan penulis ini.

Perhatikanlah perkataan beliau berikut ini baik-baik: “Telah aku jelaskan dalam kitabku tentang manasik haji, bahwa bepergian ke masjid Nabawi dan menziarahi kubur beliau –sebagaimana diterangkan imam kaum muslimin dalam manasik- merupakan amal shaleh yang dianjurkan…”

Beliau juga berkata: “Barang siapa yang bepergian ke Masjidil Haram, Masjid Aqsha atau Masjid Nabawi, kemudian shalat di masjidnya, lalu menziarahi kubur beliau sebagaimana Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam maka ini merupakan amal saleh. Barangsiapa mengingkari safar seperti ini, maka dia kafir diminta taubat, jika bertaubat itulah yang diharapkan. Jika tidak maka dibunuh.

Adapun seseorang yang melakukan perjalanan hanya untuk ziarah kubur semata, sehingga apabila sampai di Madinah, ia tidak shalat di masjidnya, tetapi hanya untuk ziarah kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu pulang, maka orang ini mubtadi’ (ahli bid’ah) yang sesat, dan menyesatkan karena menyelisihi Sunnah Rasulullah, ijma’ salaf dan para ulama’ umat ini.”

Barangsiapa yang membaca kitab “Ar Raddu ‘ala Al-Akhna’i” dan “Al-Jawabul Al-Baahir Liman Sa’ala ‘an Ziayaratil Kubur” karya Ibnu Taimiyyah, ia akan yakin dengan apa yang kami uraikan. Hal ini dikuatkan oleh murid-murid beliau.

Al-Hafidz Ibnu Abdil Hadi berkata: “Hendaklah diketahui, sebelum membantah orang ini (as-Subkiy) bahwasanya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidaklah mengharamkan ziarah kubur yang syari’ dalam kitab-kitabnya. Bahkan beliau sangat menganjurkannya. Karangan-karangannya serta manasik hajinya adalah bukti atas apa yang saya katakan.”

Demikian juga Al-Hafidz Ibnu katsir, beliau berkata: “Dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidaklah melarang ziarah kubur yang bersih dari kebid’ahan, seperti bepergian/safar untuk ziarah kubur. Bahkan beliau mengatakan sunnahnya ziarah kubur, kitab-kitabnya dan manasik-manasik hajinya adalah bukti hal itu. Beliau juga tidak pernah mengatakan haramnya ziarah kubur dalam fatwa-fatwanya, beliau juga tidak jahil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ziarahlah karena hal itu dapat mengingatkan kalian dengan akhirat.” Tetapi yang beliau larang adalah bepergian/safar untuk ziarah. Jadi ziarah kubur itu suatu masalah dan bepergian dalam rangka ziarah kubur itu masalah lain lagi.”

Wallahu a’lam.

.Sumber: Abiubaidah.com

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 20/03/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: