Orang Munafiq Bisa Masuk Surga?

Soal: Ustadz, Ana Ginanjar mahasiswa UNY mau bertanya. Apakah mungkin orang munafik itu masuk surga? Afwan Ustadz, tolong disertai dalilnya. Jazakallohu khoiro.
(via Tanya Ustadz for Android)

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Inti kemunafikan adalah menampakkan kebaikan di depan orang lain, namun menyembunyikan kejahatan dalam dirinya. Ibnu Katsir mengatakan,

ﺍﻟﻨﻔﺎﻕ ﻫﻮ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻭﺇﺳﺮﺍﺭ ﺍﻟﺸﺮ

Kemunafikan adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan. (Tafsir Ibn Katsir, 1/176)

Para ulama menyebutkan, bentuk dan tingkatan kemunafikan beraneka ragam, tergantung dari apa yang disembunyikan. Jika yang disembunyikan adalah kekufuran, apapun bentuknya, menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Sebaliknya, jika yang disembunyikan bukan perbuatan kekufuran, tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Kita simak beberapa keterangan ulama berikut,

Syaikhul Islam mengatakan,

ﻭﺍﻟﻨﻔﺎﻕ ﻳﻄﻠﻖ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻔﺎﻕ ﺍﻷﻛﺒﺮ ﺍﻟﺬﻱ‎ ‎ﻫﻮ ﺇﺿﻤﺎﺭ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻔﺎﻕ ﺍﻷﺻﻐﺮ‎ ‎ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻮ ﺍﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﺴﺮ ﻭﺍﻟﻌﻼﻧﻴﺔ ﻓﻲ‎ ‎ﺍﻟﻮﺍﺟﺒﺎﺕ، ﻫﺬﺍ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ.‏‎ ‎ﻭﺑﺬﻟﻚ ﻓﺴﺮﻭﺍ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ‎ ‎ﻭﺳﻠﻢ }ﺁﻳﺔ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﺛﻼﺙ: ﺇﺫﺍ ﺣﺪﺙ ﻛﺬﺏ‎ ‎ﻭﺇﺫﺍ ﻭﻋﺪ ﺃﺧﻠﻒ ﻭﺇﺫﺍ ﺍﺅﺗﻤﻦ ﺧﺎﻥ{

Kemunafikan ada yang bentuknya munafiq besar, yaitu menyembunyikan kekufuran, dan ada munafiq kecil, ketika berbeda antara isi hati dengan amal perbuatan dalam masalah kewajiban. Inilah yang banyak dijelaskan ulama. Dan mereka menafsirkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tanda munafiq ada tiga: apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari, dan jika dipercaya dia khianat.” hadits ini ditafsirkan dengan munafiq kecil. (Majmu’ al-Fatawa, 11/140)

Al-Hafidz Ibn Katsir mengatakan,

ﻭ (ﺍﻟﻨﻔﺎﻕ ( ﺃﻧﻮﺍﻉ: ﺍﻋﺘﻘﺎﺩﻱ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ‎ ‎ﻳﺨﻠﺪ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ، ﻭﻋﻤﻠﻲ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ‎ ‎ﺃﻛﺒﺮ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ

Dan kemunafikan bermacam-macam: [1] kemunafikan keyakinan, itulah kemunafikan yang menyebabkan pelakunya kekal di neraka, [2] kemunafikan amal, dan itu termasuk dosa besar. (Tafsir Ibn Katsir, 1/176)

Keterangan al-Hafidz Ibnu Rajab

Dalam kitab Jami’ al-Ulm wa al-Hikam, al-Hafidz Ibnu Rajab
menjelaskan,

ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻓﺴﺮﻩ ﺑﻪ ﺃﻫﻞُ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﻤﻌﺘﺒﺮﻭﻥ‎ ‎ﺃﻥَّ ﺍﻟﻨﻔﺎﻕَ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﻫﻮ ﻣﻦ ﺟﻨﺲ‎ ‎ﺍﻟﺨﺪﺍﻉ ﻭﺍﻟﻤﻜﺮ ﻭﺇﻇﻬﺎﺭ ﺍﻟﺨﻴﺮ، ﻭﺇﺑﻄﺎﻥ‎ ‎ﺧﻼﻓﻪ، ﻭﻫﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻳﻨﻘﺴﻢ ﺇﻟﻰ‎ ‎ﻗﺴﻤﻴﻦ:
ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ: ﺍﻟﻨﻔﺎﻕُ ﺍﻷﻛﺒﺮُ، ﻭﻫﻮ ﺃﻥْ ﻳﻈﻬﺮ‎ ‎ﺍﻹﻧﺴﺎﻥُ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥَ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻣﻼﺋﻜﺘﻪ ﻭﻛﺘﺒﻪ‎ ‎ﻭﺭﺳﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ، ﻭﻳُﺒﻄﻦ ﻣﺎ ﻳُﻨﺎﻗﺾ‎ ‎ﺫﻟﻚ ﻛﻠَّﻪ ﺃﻭ ﺑﻌﻀﻪ، ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﻨِّﻔﺎﻕ‎ ‎ﺍﻟﺬﻱ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﻨَّﺒﻲِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﻭﻧﺰﻝ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﺬﻡِّ ﺃﻫﻠﻪ‎ ‎ﻭﺗﻜﻔﻴﺮﻫﻢ، ﻭﺃﺧﺒﺮ ﺃﻥَّ ﺃﻫﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪَّﺭْﻙِ‏‎ ‎ﺍﻷﺳﻔﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ
ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺍﻟﻨﻔﺎﻕ ﺍﻷﺻﻐﺮ، ﻭﻫﻮ ﻧﻔﺎﻕ‎ ‎ﺍﻟﻌﻤﻞ، ﻭﻫﻮ ﺃﻥْ ﻳُﻈﻬﺮ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥُ ﻋﻼﻧﻴﺔً‏‎ ‎ﺻﺎﻟﺤﺔً، ﻭﻳُﺒﻄﻦ ﻣﺎ ﻳُﺨﺎﻟﻒ ﺫﻟﻚ.‏‎ ‎ﻭﺃﺻﻮﻝُ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻔﺎﻕ ﺗﺮﺟﻊ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺨﺼﺎﻝ‎ ‎ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ

Yang dijelaskan para ulama yang diakui keilmuannya, bahwa kemunafikan secara bahasa bagian dari penipuan, makar, menampakkan kebaikan, dan menyembunyikan kebalikannya. Dan kemunafikan dalam syariat dibagi menjadi dua,

Pertama, munafik besar.

Seseorang menampakkan iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan hari akhir. Dan dia menyembunyikan kebalikan itu semua atau sebagiannya. Itulah kemunafikan yang ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan turun beberapa ayat al-Qur’an yang mencela pelakunya dan mengkafirkan mereka, serta mengabarkan bahwa pelakunya berada di kerak neraka.

Kedua, kemunafikan kecil.

Itulah nifak amal, yaitu seseorang menampakkan kebaikan di muka umum, namun bertentangan dengan apa yang ada di hatinya. Dan karakter munafik kecil disebutkan dalam beberapa hadits berikut…

Kemudian al-Hafidz Ibn Rajab menyebutkan beberapa dalil bahwa orang yang melanggar salah satu sifat munafik, tidak dihukumi kafir. Diantaranya,

Hadits dari Abdullah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkunjung ke rumahnya ketika dia masih kecil. Pada saat dia hendak pergi main, tiba-tiba ibunya memanggil, “Abdullah sini, tak kasih.” “Benar kamu mau memberinya sesuatu?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ”Saya mau kasih dia kurma.” jawab wanita itu. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺃَﻣَﺎ ﺇِﻧَّﻚِ ﻟَﻮْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠِﻲ ﻛُﺘِﺒَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻚِ ﻛَﺬْﺑَﺔٌ

Andai tadi kamu tidak memberinya, maka dicatat untukmu satu dosa berbuat dusta. (Ahmad 15702, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menilai kafir, orang mukmin yang berdusta.

Munafik Besar Kekal di Neraka

Di awal surat al-Baqarah, Allah menyebutkan tiga jenis manusia. Pertama, orang yang beriman, Allah sebutkan dalam 5 ayat. Kedua, orang kafir, Allah sebutkan dalam 2 ayat. Dan ketiga, orang munafik, Allah singgung dalam 13 ayat. Diantaranya Allah berfirman,

ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺁﻣَﻨَّﺎ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺑِﺎﻟْﻴَﻮْﻡِ‏‎ ‎ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻢْ ﺑِﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ . ﻳُﺨَﺎﺩِﻋُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ‏‎ ‎ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺨْﺪَﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ‏‎ ‎ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺸْﻌُﺮُﻭﻥَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. al-Baqarah: 8 – 9)

Diantara sifat mereka,

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻟَﻘُﻮﺍ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺁﻣَﻨَّﺎ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺧَﻠَﻮْﺍ‎ ‎ﺇِﻟَﻰ ﺷَﻴَﺎﻃِﻴﻨِﻬِﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﻧَّﺎ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻧَﺤْﻦُ‏‎ ‎ﻣُﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ

Apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka (gembong munafik), mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. al-Baqarah: 14)

Allah juga menyebutkan sifat mereka di ayat lain,

ﺇِﺫَﺍ ﺟَﺎﺀَﻙَ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘُﻮﻥَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻧَﺸْﻬَﺪُ ﺇِﻧَّﻚَ‏‎ ‎ﻟَﺮَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﺮَﺳُﻮﻟُﻪُ‏‎ ‎ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﺸْﻬَﺪُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﻟَﻜَﺎﺫِﺑُﻮﻥَ.‏‎ ‎ﺍﺗَّﺨَﺬُﻭﺍ ﺃَﻳْﻤَﺎﻧَﻬُﻢْ ﺟُﻨَّﺔً ﻓَﺼَﺪُّﻭﺍ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻞِ‏‎ ‎ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﺳَﺎﺀَ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ. ﺫَﻟِﻚَ‏‎ ‎ﺑِﺄَﻧَّﻬُﻢْ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺛُﻢَّ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻓَﻄُﺒِﻊَ ﻋَﻠَﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ‏‎ ‎ﻓَﻬُﻢْ ﻟَﺎ ﻳَﻔْﻘَﻬُﻮﻥَ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (QS. al-Munafiqun: 1 – 3)

Semua ayat di atas berbicara tentang munafik besar. Allah berikan ancaman, mereka akan dihukum di keraknya neraka. Allah berfirman,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪَّﺭْﻙِ ﺍﻟْﺄَﺳْﻔَﻞِ ﻣِﻦَ‏‎ ‎ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﺠِﺪَ ﻟَﻬُﻢْ ﻧَﺼِﻴﺮًﺍ

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (QS. an-Nisa: 145)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/orang-munafiq-bisa-masuk-surga/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 04/04/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: