Takut Hantu yang Syirik dan Tidak Syirik

Soal: Bismillah. Ustadz, bagaimana hukum seorang yang takut pada penampakan jin (hantu) yang menyeramkan tapi dia tetap meyakini bahwa bahwa tipu daya jin tsb adalah lemah, dan bagaimana cara menghilangkan ketakutan tsb? Barakallahu fiyk.
(Dari Hariyadi)

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, perasaaan takut yang dialami manusia ada dua, takut yang disertai pengagungan dan takut yang merupakan bagian dari tabiat. Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

ﻭﺍﻟﺨﻮﻑ ﺃﻗﺴﺎﻡ، ﻓﻤﻨﻪ ﺧﻮﻑ ﺍﻟﺘﺬﻟﻞ‎ ‎ﻭﺍﻟﺘﻌﻈﻴﻢ ﻭﺍﻟﺨﻀﻮﻉ.. ﻭﻫﻮ ﻣﺎ ﻳﺴﻤﻰ‎ ‎ﺑﺨﻮﻑ ﺍﻟﺴﺮ، ﻭﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﺼﻠﺢ ﺇﻻ ﻟﻠﻪ‎ ‎ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻓﻤﻦ ﺃﺷﺮﻙ ﻓﻴﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻏﻴﺮﻩ‎ ‎ﻓﻬﻮ ﻣﺸﺮﻙ ﺷﺮﻛﺎ ﺃﻛﺒﺮ، ﻭﺫﻟﻚ ﻣﺜﻞ ﺃﻥ‎ ‎ﻳﺨﺎﻑ ﻣﻦ ﺍﻷﺻﻨﺎﻡ ﻭﺍﻷﻣﻮﺍﺕ، ﺃﻭ ﻣﻦ‎ ‎ﻳﺰﻋﻤﻮﻧﻬﻢ ﺃﻭﻟﻴﺎﺀ ﻭﻳﻌﺘﻘﺪﻭﻥ ﻧﻔﻌﻬﻢ‎ ‎ﻭﺿﺮﻫﻢ، ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﺑﻌﺾ ﻋﺒﺎﺩ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ..

Takut ada beberapa macam. Diantaranya takut disertai merendahkan dan menghinakan diri, serta pengagungan kepada yang ditakuti. Yang diistilahkan dengan khauf as-sirri (takut yang samar). Takut semacam ini hanya boleh diberikan untuk Allah.

Barangsiapa yang menyekutukan Allah dengan memberikan rasa takut semacam ini kepada selain Allah, berarti dia telah melakukan syirik besar. Seperti orang yang takut kepada berhala, atau orang mati, atau orang yang dianggap wali. Disertai keyakinan bahwa mereka bisa memberi manfaat dan madharat. Sebagaimana yang dilakukan para penyembah kubur.

ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺍﻟﺨﻮﻑ ﺍﻟﻄﺒﻴﻌﻲ ﻭﺍﻟﺠﺒﻠﻲ: ﻓﻬﺬﺍ‎ ‎ﻓﻲ ﺍﻷﺻﻞ ﻣﺒﺎﺡ، ﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻦ‎ ‎ﻣﻮﺳﻰ: ﻓَﺨَﺮَﺝَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺧَﺎﺋِﻔﺎً ﻳَﺘَﺮَﻗَّﺐ. ﻭﻋﻠﻰ‎ ‎ﻫﺬﺍ، ﻓﺈﻥ ﺧﻮﻓﻚ ﻣﻤﺎ ﻳﻀﺮﻙ ﺃﻭ ﻳﺆﺫﻳﻚ ﻻ‎ ‎ﻳﻌﺪ ﺷﺮﻛﺎ، ﻷﻧﻚ ﻻ ﺗﻘﺼﺪ ﺗﻌﻈﻴﻤﻪ ﺃﻭ‎ ‎ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺍﻟﻨﻔﻊ ﻭﺍﻟﻀﺮ ﻓﻴﻪ ﻟﺬﺍﺗﻪ

Yang kedua, takut yang merupakan bagian dari tabiat manusia (khauf thabi’i). Takut semacam ini hukum asalnya mubah. Sebagaimana firman Allah yang menceritakan tentang Musa,

ﻓَﺨَﺮَﺝَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺧَﺎﺋِﻔﺎً ﻳَﺘَﺮَﻗَّﺐ

Musa keluar dari kota itu dengan rasa takut dan mengendap-endap. (QS. al-Qashas: 21)

Oleh karena itu, rasa takut seseorang terhadap sesuatu yang membahayakan atau yang bisa mengganggu, tidak termasuk kesyirikan. Karena tujuan kita bukan untuk mengagungkannya, atau meyakini bahwa dia bisa memberi manfaat dan madharat dengan sendirinya. (al-Qoul Mufid Syarh Kitab at-Tauhid, 2/67)

Kedua, berdasarkan keterangan di atas, penting bagi kita untuk memahami perbedaan khouf sirri dengan khauf thabi’i. Karena dengan ini kita bisa memahami batasan, kapan rasa takut itu terhitung kesyirikan.

Di samping keterangan Imam Ibnu Utsaimin di atas, ada keterangan Syaikh Sholeh Alu Syaikh tentang batasan khauf iri dan khauf tabiat. Beliau menjelaskan,

ﺧﻮﻑ ﺍﻟﺴﺮ: ﺃﻥ ﻳﺨﺎﻑ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ‎ ‎ﺍﻟﻠﻪ – ﻋﺰ ﻭﺟﻞ – ﻓﻲ ﺇﻳﺼﺎﻝ ﺍﻷﺫﻯ ﺇﻟﻴﻪ‎ ‎ﺑﺪﻭﻥ ﺳﺒﺐ. ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺨﺘﺺ ﺍﻟﻠﻪ –‏‎ ‎ﻋﺰ ﻭﺟﻞ – ﺑﻪ، ﺍﻟﻠﻪ – ﻋﺰ ﻭﺟﻞ – ﻳُﻘَﺪِّﺭْ‏‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻣﺮﺽ ﺑﺪﻭﻥ ﺳﺒﺐ ﻳﻌﻠﻤﻪ،‏‎ ‎ﻳُﻘَﺪِّﺭْ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺑﺪﻭﻥ ﺳﺒﺐ ﺑﺪﻭﻥ ﻣﺎ ﻳﻌﻠﻢ

Khouf siri adalah seseorang takut kepada selain Allah –azza wa jalla– karena anggapan, yang ditakuti bisa memberikan gangguan kepadanya tanpa sebab. Takut semacam inilah yang hanya khusus untuk Allah. Allah bisa menakdirkan sakit bagi hamba tanpa ada sebab apapun yang dia ketahui. Dia mampu mentakdirkan kematian bagi hamba tanpa sebab apapun yang dia tahu.

ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻟﻪ ﺳﺒﺐ ﻇﺎﻫﺮ ﺃﻭ‎ ‎ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺳﺒﺐ؛ ﻟﻜﻨﻪ ﻳﺨﺸﻰ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ‎ ‎ﺍﻟﺠﻨﻲ ﻳﺘﺴﺒﺐ ﻓﻴﻪ ﻓﻴﻤﺎ، ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺳﺒﺐ‎ ‎ﻃﺒﻴﻌﻲ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﻓﻲ‎ ‎ﺍﻷﻣﺎﻛﻦ ﺍﻟﻤﻬﺠﻮﺭﺓ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻼﻡ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ‎ ‎ﺫﻟﻚ ﻳﺨﺎﻑ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﺃﻭ ﺍﻟﺠﻦ ﻫﺬﻩ‎ ‎ﺃﺳﺒﺎﺏ.

Namun jika ketakutan itu karena sebab yang kita ketahui, lalu dia takut ada jin yang menjadi sebab bahaya, dan ini bagian dari tabiat, misalnya takut masuk ke tempat-tempat tidak berpenghuni atau melewati tempat yang gelap, dia takut dengan hantu atau jin, semua ini termasuk sebab.

ﻟﻜﻦ ﺧﻮﻑ ﺍﻟﺴﺮ ﺃﻥ ﻳﺨﺎﻑ ﺃﻥ ﻳﻨﺎﻟﻪ‎ ‎ﺍﻟﻮﻟﻲ ﺃﻭ ﺃﻥ ﻳﻨﺎﻟﻪ ﺍﻟﺠﻨﻲ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ‎ ‎ﺑﻐﻴﺮ ﺳﺒﺐ؛ ﻳﻌﻨﻲ ﺃﻥ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﺃﻥَّ ﻋﻨﺪﻩ ﻗﻮﺓ‎ ‎ﻭﺗَﺼَﺮُّﻑْ ﺣﻴﺚ ﻳﺆﺫﻳﻪ ﺑﺪﻭﻥ ﺳﺒﺐ

Namun yang dimaksud khauf siri misalnya, dia takut akan ditangkap wali atau ditangkap jin tanpa sebab. Maksudnya, dia meyakini bahwa jin itu memiliki kekuatan dan kemampuan yang bisa mengancamnnya tanpa sebab.

ﻭﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺨﻮﻑ -ﺍﻟﺨﻮﻑ ﺍﻟﻄﺒﻴﻌﻲ-‏‎ ‎ﻟﻴﺲ ﺧﻮﻑ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻧﺎﺗﺞ ﻋﻦ ﺿﻌﻒ‎ ‎ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ، ﻭﻟﻴﺲ ﺧﻮﻑ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻦ‎ ‎ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺨﺎﻑ ﻣﻦ ﺇﻳﺬﺍﺋﻬﻢ ﻭﺍﻋﺘﺪﺍﺋﻬﻢ ﻓﻲ‎ ‎ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ، ﻓﻬﺬﺍ ﻗﺪ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻮﻑ‎ ‎ﺍﻟﻄﺒﻴﻌﻲ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺨﺸﺎﻩ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻭﻻ ﻳﺪﺧﻞ‎ ‎ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻮﻑ‎ ‎ﺍﻟﺸﺮﻛﻲ

Jika rasa takut itu –takut tabiat– bukan takut keyakinan, namun takut karena pengaruh sifat lemah manusia, bukan takut karena keyakinan terhadap jin, namun takut terhadap gangguan mereka, misalnya di rumah angker, maka rasa takut semacam ini termasuk takut tabiat, dan tidak termasuk takut yang haram, tidak pula takut yang statusnya kesyirikan. (Ittihaf as-Sail, Syarh Aqidah Thahawiyah, volume 43)

Keterangan lain tentang batasan khouf, disampaikan Syaikh Sulaiman bin Abdillah,

ﻭﻣﻌﻨﻰ ﺧﻮﻑ ﺍﻟﺴﺮ ﻫﻮ ﺃﻥ ﻳﺨﺎﻑ ﺍﻟﻌﺒﺪ‎ ‎ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻥ ﻳﺼﻴﺒﻪ ﻣﻜﺮﻭﻩ‎ ‎ﺑﻤﺸﻴﺌﺘﻪ ﻭ ﻗﺪﺭﺗﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺒﺎﺷﺮﻩ ﻓﻬﺬﺍ‎ ‎ﺷﺮﻙ ﺃﻛﺒﺮ ﻷﻧﻪ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﻟﻠﻨﻔﻊ ﻭﺍﻟﻀﺮ ﻓﻲ‎ ‎ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺄﻳﺎﻱ ﻓﺎﺭﻫﺒﻮﻥ

Makna khouf siri adalah seorang hamba takut kepada selain Allah dia akan menimpakan keburukan dengan kehendaknya dan kemampuannya, tanpa harus bertemu langsung dengannya. Semacam ini syirik besar, karena dia meyakini ada selain Allah yang bisa memberi manfaat dan madharat secara tidak langsung. Allah berfirman (yang artinya), “Takutlah kalian hanya kepada-Ku.” (Taisir al-Aziz al-Hamid, Syarh Kitab Tauhid, 1/24)

Dari beberapa keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa rasa takut bisa bernilai ibadah (khouf siri) jika memenuhi beberapa kriteria berikut,

1. Disertai perasaan mengagungkan kepada yang ditakuti (at-Ta’dzim)

2. Merasa hina dan rendah kepada yang ditakuti (al-Khudhu’ wa at-Tadzallul)

3. Meyakini bahwa yang ditakuti bisa memberi manfaat dan madharat secara tidak langsung dan tanpa sebab.

Takut Kepada Jin dan Hantu

Bagian ini yang menjadi rancu, apakah takut kepada jin termasuk khouf siri ataukah sebatas takut karena tabiat. Kita tidak bisa memberikan penilaian secara umum. Karena tidak semua bentuk takut kepada jin termasuk khouf siri. Ada bentuk takut kepada jin yang termasuk takut tabiat.

Pertama, takut kepada jin disertai pengagungan dan merendahkan diri di hadapan mereka, ini termasuk takut kesyirikan. Ciri khas takut semacam ini, ketika ada orang yang hendak melewati tempat sunyi atau dianggap angker, dia akan tetap mendatangi tempat itu, sambil mohon pamit dan minta izin.

Contoh kasus yang sering kita jumpai di masyarakat, ada orang yang ketika hendak melewati kuburan, atau jalan yang hawanya angker, dia minta izin untuk lewat. ‘Mbah, nyuwun sewu, mau lewat.’

Kebiasaan semacam ini termasuk tradisi orang musyrikin jahiliyah. Allah berfirman, menceritakan salah satu komentar jin tentang manusia,

ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺲِ ﻳَﻌُﻮﺫُﻭﻥَ‏‎ ‎ﺑِﺮِﺟَﺎﻝٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠِﻦِّ ﻓَﺰَﺍﺩُﻭﻫُﻢْ ﺭَﻫَﻘًﺎ

“Ada beberapa orang di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa.” (QS. al-Jin: 6)

Ibnu Katsir menjelaskan,

ﻛﻨﺎ ﻧﺮﻯ ﺃﻥ ﻟﻨﺎ ﻓﻀﻼ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻧﺲ؛ ﻷﻧﻬﻢ‎ ‎ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻮﺫﻭﻥ ﺑﻨﺎ، ﺇﻱ: ﺇﺫﺍ ﻧﺰﻟﻮﺍ ﻭﺍﺩﻳﺎ ﺃﻭ‎ ‎ﻣﻜﺎﻧﺎ ﻣﻮﺣﺸﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺮﺍﺭﻱ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻛﻤﺎ‎ ‎ﻛﺎﻥ ﻋﺎﺩﺓ ﺍﻟﻌﺮﺏ ﻓﻲ ﺟﺎﻫﻠﻴﺘﻬﺎ. ﻳﻌﻮﺫﻭﻥ‎ ‎ﺑﻌﻈﻴﻢ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺎﻥ، ﺃﻥ‎ ‎ﻳﺼﻴﺒﻬﻢ ﺑﺸﻲﺀ ﻳﺴﻮﺅﻫﻢ…،

Kami para jin merasa lebih mulia dibandingkan manusia, karena mereka meminta perlindungan kepada kami. Yaitu ketika mereka melewati lembah atau tempat asing di darat maupun lainnya. Dan ini kebiasaan masyarakat arab jahiliyah. Mereka memohon perlindungan terhadap raja jin yang diyakini menguasai tempat itu, agar mereka dilindungi dari segala hal yang membahayakannya.

ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺃﺕ ﺍﻟﺠﻦ ﺃﻥ ﺍﻹﻧﺲ ﻳﻌﻮﺫﻭﻥ ﺑﻬﻢ‎ ‎ﻣﻦ ﺧﻮﻓﻬﻢ ﻣﻨﻬﻢ، } ﻓَﺰَﺍﺩُﻭﻫُﻢْ ﺭَﻫَﻘًﺎ {‏‎ ‎ﺃﻱ: ﺧﻮﻓﺎ ﻭﺇﺭﻫﺎﺑﺎ ﻭﺫﻋﺮﺍ، ﺣﺘﻰ ﺗﺒﻘﻮﺍ‎ ‎ﺃﺷﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﻣﺨﺎﻓﺔ ﻭﺃﻛﺜﺮ ﺗﻌﻮﺫﺍ ﺑﻬﻢ

Ketika jin menyaksikan manusia meminta perlindungan kepadanya, karena rasa takut mereka kepada jin, maka manusia itu menambah bagi jin itu rasa sombong, dengan ketakutan mereka dan kerendahan mereka. Sehingga manusia menjadi sangat takut kepada jin dan sering memohon perlindungan kepada jin. (Tafsir Ibn Katsir, 8/239)

Kedua, takut tabiat. Takut kepada hantu yang berpenampilan jelek, termasuk takut tabi’i.

Diantara cirinya, orang akan menjauhi tempat yang dia takuti. Dia tidak semakin mendekat apalagi memohon izin. Namun dia akan menghindar dan menjauhi tempat itu. Dia takut dengan wajah jelek hantu, atau takut dibuat kaget atau takut dicekik, diganggu, dst.

Termasuk orang yang tidak berani melewati kuburan sendirian, karena khawatir akan muncul wajah menakutkan, dan menyeramkan. insyaa Allah takut semacam ini tidak sampai derajat kesyrikan.

Jangan Lupa Baca Doa

Sebagai ganti agar manusia tidak berlindung kepada jin ketika merasa takut dengan gangguan makhluk halus, terutama pada saat melewati tempat yang menakutkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membekali doa,

ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺘَّﺎﻣَّﺎﺕِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻣَﺎ‎ ‎ﺧَﻠَﻖَ

Aku berlindung dengan Kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala yang Dia ciptakan.

Dari Khoulah bintu Hakim Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﻧَﺰَﻝَ ﻣَﻨْﺰِﻟًﺎ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ‏‎ ‎ﺍﻟﺘَّﺎﻣَّﺎﺕِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻖَ ﻟَﻢْ ﻳَﻀُﺮَّﻩُ ﺷَﻲْﺀٌ‏‎ ‎ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮْﺗَﺤِﻞَ ﻣِﻦْ ﻣَﻨْﺰِﻟِﻪِ ﺫَﻟِﻚَ

“Barangsiapa yang singgah di suatu tempat, kemudian membaca: A’udzu bi Kalimaatillaahit Taammaati Min Syarri Maa Kholaq maka tidak akan ada yang membahayakannya sampai dia berpindah dari tempat itu.” (HR. Muslim 7053, Turmudzi 3758 dan yang lainnnya)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/takut-hantu-bukan-syirik/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 09/04/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: