Mengapa Perayaan Hari Besar Selain Idul Adha dan Idul Fitri Termasuk Bid’ah?

Sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,

ﻗَﺪِﻡَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -‏‎ ‎ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔَ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺎﻥِ ﻳَﻠْﻌَﺒُﻮﻥَ ﻓِﻴﻬِﻤَﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ‏‎ ‎ﻣَﺎ ﻫَﺬَﺍﻥِ ﺍﻟْﻴَﻮْﻣَﺎﻥِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﻠْﻌَﺐُ ﻓِﻴﻬِﻤَﺎ‎ ‎ﻓِﻰ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ‎ ‎ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗَﺪْ ﺃَﺑْﺪَﻟَﻜُﻢْ ﺑِﻬِﻤَﺎ‎ ‎ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻷَﺿْﺤَﻰ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ

“Ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mendatangi kota Madinah, para sahabat memiliki dua hari raya yang padanya mereka bersenang-senang. Maka beliau bersabda: Dua hari apa ini? Mereka menjawab: Dua hari yang sudah biasa kami bersenang-senang padanya di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu idul adha dan idul fitri.” (HR. Abu Daud, Shahih Abi Daud: 1039)

Beberapa Pelajaran:

1. Hari raya, yaitu hari yang selalu dirayakan berulang-ulang, dalam Islam telah ditentukan oleh syari’at, tidak boleh ditambah dan dikurangi, bahkan semua tradisi hari raya sebelum Islam tidak boleh dilestarikan.

2. Barangsiapa menambah-nambah atau mengada-adakan hari raya atau hari peringatan selain yang ditentukan oleh syari’at maka ia telah melampaui batas dalam agama.

3. Hari-hari peringatan yang selalu dirayakan berulang-ulang seperti perayaan maulid, muharram, isra’ mi’raj, ulang tahun, hari kemerdekaan dan lain-lain termasuk menambah-nambah dalam syari’at karena syari’at telah menentukan hari raya khusus yaitu idul fitri dan idul adha, maka tidak boleh ditambah apa pun selainnya.

4. Mengada-adakan hari-hari raya lain atau hari peringatan juga termasuk bentuk tasyabbuh (ikut-ikutan) kepada orang-orang kafir.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﻟِﻜُﻞِّ ﻗَﻮْﻡٍ ﻋِﻴﺪًﺍ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﻋِﻴﺪُﻧَﺎ

“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha)

5. Keteladanan para sahabat dalam mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, karena setelah larangan tersebut para sahabat tidak memiliki hari perayaan dan peringatan lagi selain idul adha dan idul fitri.

Para sahabat tidak pernah merayakan maulid padahal mereka yang paling cinta terhadap Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, karena mereka memahami arti cinta yang sebenarnya adalah meneladani beliau.

Para sahabat tidak pernah merayakan tahun baru Islam, padahal mereka orang yang paling cinta terhadap Islam dan paling kuat dan besar perjuangan mereka untuk Islam, karena mereka lebih memahami arti mencintai Islam daripada kita.

ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ‎ ‎ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Sumber: http://sofyanruray.info/mengapa-perayaan-hari-besar-selain-idul-adha-dan-idul-fitri-termasuk-bidah/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 06/05/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: