Hukum Tidak Jum’atan karena Ketiduran

Tanya: Assalamualaikum… Pak Ustadz, saya mau tanya. Bisakah shalat jumat diganti dengan shalat dzuhur? Misalnya karena ketiduran. Trims…!

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, meninggalkan shalat jumat tanpa udzur termasuk dosa besar. Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻟَﻴَﻨْﺘَﻬِﻴَﻦَّ ﺃَﻗْﻮَﺍﻡٌ ﻋَﻦْ ﻭَﺩْﻋِﻬِﻢُ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺎﺕِ، ﺃَﻭْ‏‎ ‎ﻟَﻴَﺨْﺘِﻤَﻦَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ، ﺛُﻢَّ ﻟَﻴَﻜُﻮﻧُﻦَّ‏‎ ‎ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻠِﻴﻦَ

”Hendaknya orang yang suka meninggalkan jumatan itu menghentikan kebiasaan buruknya, atau Allah akan mengunci mati hatinya, kemudian dia menjadi orang ghafilin (orang lalai).” (HR. Muslim 865)

Juga disebutkan dalam hadits dari Abul Ja’d ad-Dhamri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺛَﻠَﺎﺙَ ﺟُﻤَﻊٍ ﺗَﻬَﺎﻭُﻧًﺎ ﺑِﻬَﺎ ﻃَﺒَﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪُ‏‎ ‎ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻠْﺒِﻪِ

”Siapa yang meninggalkan 3 kali jumatan karena meremehkan, maka Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Ahmad 15498, Nasai 1369, Abu Daud 1052, dan dinilai hasan Syuaib al-Arnauth)

Karena itu, kami ingatkan, agar setiap muslim berusaha memberi perhatian terhadap setiap kewajiban syariat yang Allah berikan kepadanya.

Anda bisa bayangkan ketika anda memikul kewajiban dari atasan atau bos anda. Kita sangat yakin, anda akan berusaha perhatian. Karena itu menyangkut keberlanjutan karir anda di tempat kerja.

Seharusnya semangat semacam ini juga diberikan untuk kewajiban yang Allah berikan, karena ini menyangkut keselamatan kehidupan kita di kehidupan akhirat yang tanpa batas.

Ketika atasan anda memberikan tugas, jam 12.00 pas harus sampai di kantor, karena ada rapat. Anda akan persiapan. Andai anda ngantuk, anda akan berpesan kepada keluarga, agar dibangunkan sebelum jam 12.00. Dan kita sangat yakin, anda tidak akan nekad tidur setelah jam 11.00, tanpa ditemani alarm atau berpesan kepada orang lain untuk membangunkannya.

Kira-kira seperti itulah yang seharusnya kita lakukan ketika ngantuk sebelum jumatan. Namun sayangnya, umumnya kita memberikan standar yang berbeda. Untuk tugas dari atasan, kita serius mengerjakannya. Untuk tugas dari syariat, disikapi sebaliknya.

Kedua, jika ada orang yang tidur sebelum jumatan, sementara dia tidak mengambil sebab apapun agar bisa bangun sebelum jumatan, kemudian dia tidak bangun, maka dia tergolong orang yang meremehkan kewajiban syariat.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

ﻓﻌﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﺍﺣﺘﺎﺝ ﻟﻠﻨﻮﻡ ﻗﺒﻞ‎ ‎ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻭﺧﺎﻑ‎ ‎ﻓﻮﺍﺗﻬﺎ، ﺃﻥ ﻳﺘﺨﺬ ﻣﻦ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﻣﺎ ﻳﻌﻴﻨﻪ‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺍﻻﻧﺘﺒﺎﻩ ﻟﻠﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﻭﻗﺘﻬﺎ، ﻛﺄﻥ ﻳﻌﻬﺪ‎ ‎ﺇﻟﻰ ﻣﻦ ﻳﺜﻖ ﺑﻪ، ﺃﻭ ﻳﺠﻌﻞ ﻋﻨﺪ ﺭﺃﺳﻪ‎ ‎ﺳﺎﻋﺔ ﺗﻨﺒﻬﻪ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻔﺮﻃﺎً ﻭﻻ‎ ‎ﻣﺘﺴﺎﻫﻼً.

Wajib bagi setiap muslim yang ingin tidur sebelum jumatan atau tidur sebelum shalat 5 waktu lainnya, dan dia khawatir bisa meninggalkan shalat, agar dia mengambil sebab yang bisa membantunya untuk bangun melaksanakan shalat pada waktunya. Misalnya dengan berpesan kepada orang yang bisa dipercaya untuk membangunkannya atau dia pasang alarm di dekat kepalanya yang bisa membangunkannya, sehingga dia tidak tergolong orang yang meremehkan kewajiban. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 1579)

Ketiga, jika orang sangat ngantuk sebelum jumatan, kemudian dia berusaha mengambil sebab agar bisa bangun sebelum jumatan, namun ternyata dia tetap tidak bisa bangun, maka dia tidak dinilai bersalah.

Dalam lanjutan Fatwa dari Syabakah Islamiyah,

ﺛﻢ ﺇﺫﺍ ﻏﻠﺒﻪ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﻣﻊ ﺍﺗﺨﺎﺫ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ‎ ‎ﺍﻟﻜﺎﻓﻴﺔ ﻭﺍﻻﺣﺘﻴﺎﻃﺎﺕ ﺍﻟﻼﺯﻣﺔ ﻓﻼ ﺇﺛﻢ‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ ﺇﺫﻥ، ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ:‏‎ ‎‏” ﺇﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺗﻔﺮﻳﻂ” ﺃﺧﺮﺟﻪ‎ ‎ﻣﺴﻠﻢ

Kemudian, jika dia benar-benar tidak bisa bangun, padahal sudah berusaha mengambil sebab yang memadai agar dia bisa bangun, dan dia juga sudah hati-hati, maka tidak dihukumi dosa. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡِ ﺗَﻔْﺮِﻳﻂٌ

“Orang yang ketiduran tidak dianggap meremehkan.” (HR. Muslim)

(Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 1579)

Keempat, bagi orang yang tidak jumatan karena udzur, dia wajib ganti dengan shalat dzuhur 4 rakaat, dengan tata cara sama persis sebagaimana orang shalat dzuhur. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

ﻣَﻦْ ﺃَﺩْﺭَﻙَ ﺭَﻛْﻌَﺔً ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻓَﻠْﻴُﺼَﻞِّ‏‎ ‎ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺃُﺧْﺮَﻯ , ﻭَﻣَﻦْ ﻓَﺎﺗَﺘْﻪُ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺘَﺎﻥِ ﻓَﻠْﻴُﺼَﻞِّ‏‎ ‎ﺃَﺭْﺑَﻌًﺎ

Siapa yang mendapatkan satu rakaat bersama imam, hendaknya dia nambahi satu rakaat lagi. Dan siapa yang ketinggalan kedua rakaat jumatan, hendaknya dia shalat 4 rakaat. (Al-Mudawanah, 1/229)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/ketiduran-hingga-tidak-jumatan/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 28/06/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: