Hukum Banci Menjadi Imam shalat

Tanya: Ada pertanyaan yang belum saya dapatkan penjelasannya, “Seorang banci boleh jadi imam jika seluruh ma’mumnya perempuan.” Pertanyaannya: Bolehkah seorang banci menjadi imam shalat berjamaah? Kemudian jika jawaban boleh, kondisi bagaimanakah yang membolehkannya? Jazakumullahu khairan.

Dari: Ummu Aisyah

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, perlu kita seragamkan istilah ‘banci’.

Banci menurut istilah para ulama adalah orang yang tidak diketahui, apakah dia lelaki ataukah perempuan. Dia memiliki dua alat kelamin, alat kelamin lelaki dan alat kelamin perempuan, dan keduanya berfungsi.

Dalam as-Syarh al-Mumthi’ dinyatakan,

ﻭﺍﻟﺨُﻨﺜﻰ ﻫﻮ: ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳُﻌْﻠَﻢُ ﺃَﺫﻛﺮٌ ﻫﻮ ﺃﻡ‎ ‎ﺃﻧﺜﻰ؟ ﻓﻴﺸﻤَﻞُ ﻣَﻦ ﻟﻪ ﺫَﻛَﺮٌ ﻭﻓَﺮْﺝٌ ﻳﺒﻮﻝ‎ ‎ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺟﻤﻴﻌﺎً

Banci (al-Khuntsa) adalah orang yang tidak diketahui apakah dia lelaki ataukah perempuan. Mereka adalah orang yang memiliki dzakar (kelamin lelaki) dan farji (kelamin wanita), dia kencing dari kedua saluran itu bersamaan. (as-Syarh al-Mumthi’, 4/223)

Jika sampai baligh sama sekali tidak bisa ditentukan mana alat kelamin yang dominan, ulama fiqh menyebutnya ‘al-Khuntsa al-Musykil’ (banci gak jelas).

Dari pengertian di atas, banci dalam syariat kembali kepada kelainan ciri fisik, bukan semata mental. Sehingga lelaki yang bermental gay, bukan termasuk kategori banci dalam kajian fiqh.

Kedua, hukum banci jadi imam.

Ulama sepakat, posisi banci dalam shalat jamaah, berada diantara lelaki dan wanita. Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

ﻻ ﺧﻼﻑ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻓﻲ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺍﺟﺘﻤﻊ‎ ‎ﺭﺟﺎﻝ، ﻭﺻﺒﻴﺎﻥ، ﻭﺧﻨﺎﺛﻰ، ﻭﻧﺴﺎﺀ، ﻓﻲ‎ ‎ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ، ﺗﻘﺪﻡ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ، ﺛﻢ‎ ‎ﺍﻟﺼﺒﻴﺎﻥ، ﺛﻢ ﺍﻟﺨﻨﺎﺛﻰ، ﺛﻢ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ

Tidak ada perselisihan diantara ulama bahwa apabila ada berbagai macam makmum, mulai dari lelaki, anak-anak, banci, dan wanita dalam shalat jamaah, maka lelaki dewasa di depan, kemudian anak-anak, kemudian banci, kemudian wanita. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 20/25)

Banci di posisikan antara lelaki dan wanita, karena banci berpeluang untuk menjelma menjadi kedua jenis itu. Dia bisa menjadi lelaki dan bisa menjadi wanita. Sehingga jenis kelaminnya ada dua kemungkinan, bisa lelaki, bisa wanita.

Mengingat lelaki dewasa tidak boleh diimami wanita, jumhur ulama berpendapat,

1. Banci tidak boleh mengimami lelaki, karena ada kemungkinan dia wanita.

2. Banci tidak boleh menjadi imam sesama banci, karena ada kemungkinan si imam wanita sementara si makmum lelaki.

3. Banci boleh mengimami wanita. Karena wanita boleh menjadi imam wanita.

Dalam kitabnya al-Muhadzab, as-Saerozi –ulama Syafiiyah– mengatakan,

ﻭﻻ ﺗﺠﻮﺯ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺨﻨﺜﻰ‎ ‎ﺍﻟْﻤُﺸْﻜِﻞِ ﻟِﺠَﻮَﺍﺯِ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻣﺮﺃﺓ, ﻭﻻ‎ ‎ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺨﻨﺜﻰ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺨﻨﺜﻰ ﻟِﺠَﻮَﺍﺯِ ﺃَﻥْ‏‎ ‎ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟْﻤَﺄْﻣُﻮﻡُ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻭَﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﺍﻣﺮﺃﺓ

Seorang lelaki tidak boleh shalat di belakang banci yang belum jelas, karena memungkinkan dia wanita. Banci tidak boleh shalat di belakang banci, karena bisa jadi makmumnya lelaki sementara imamnya wanita. (al-Muhadzab, 1/97)

Bahkan dalam madzhab Syafiiyah, makmum lelaki yang shalat di belakang banci karena tidak tahu, maka jika dia tahu, dia wajib mengulangi shalatnya.

An-Nawawi mengatakan,

ﻭﺍﻥ ﺻﻠﻲ ﺭﺟﻞ ﺧﻠﻒ ﺧﻨﺜﻰ ﺃﻭ ﺧﻨﺜﻰ‎ ‎ﺧﻠﻒ ﺧﻨﺜﻲ ﻭﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﺍﻧﻪ ﺧﻨﺜﻰ ﺛﻢ ﻋﻠﻢ‎ ‎ﻟﺰﻣﻪ ﺍﻻﻋﺎﺩﺓ

Jika ada lelaki yang shalat di belakang banci, atau banci shalat di belakang banci, karena tidak tahu bahwa dia banci, kemudian dia tahu, maka dia wajib mengulangi shalat. (al-Majmu’, 4/255)

Ketiga, banci kelainan mental.

Melengkapi pembahasan di atas, banci karena kelainan mental. Sejatinya dia hanya memiliki satu kelamin, lelaki. Dia lahir dan besar sebagai lelaki. Namun dia memiliki kecenderungan meniru gaya wanita. Bolehkah manusia semacam ini jadi imam?

Banci jenis ini ada dua macam,

– Jenis pertama, banci yang dibuat-buat. Dia lelaki yang normal fisik dan mental, memiliki kecenderugan tertarik kepada lawan jenis (wanita). Namun dia sengaja meniru gaya wanita, bisa karena komunitas, atau karena tuntutan ngamen. Banci jenis ini tergolong orang fasik. Dia melakukan dosa besar, karena tasyabbuh (meniru) wanita.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

ﻟَﻌَﻦَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ‏‎ ‎ﺍﻟْﻤُﺘَﺸَﺒِّﻬِﻴﻦَ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ ﺑِﺎﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ‏‎ ‎ﻭَﺍﻟْﻤُﺘَﺸَﺒِّﻬَﺎﺕِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﺑِﺎﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki yang meniru-niru kebiasaan wanita dan para wanita yang meniru-niru kebiasaan lelaki.” (HR. Bukhari 5885)

Sengaja meniru kebiasaan wanita, dan bahkan bangga dengan perbuatannya, menjadikan dirinya orang fasik.

Tentang hukum, apakah dia boleh jadi imam, dijelaskan dalam Ensiklopedi Fiqh,

ﺃﻣﺎ ﺍﻟﻤﺘﺨﻠﻖ ﺑﺨﻠﻖ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺣﺮﻛﺔ ﻭﻫﻴﺌﺔ،‏‎ ‎ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻳﺘﺸﺒﻪ ﺑﻬﻦ ﻓﻲ ﺗﻠﻴﻴﻦ ﺍﻟﻜﻼﻡ‎ ‎ﻭﺗﻜﺴﺮ ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﻋﻤﺪﺍ، ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﻋﺎﺩﺓ‎ ‎ﻗﺒﻴﺤﺔ ﻭﻣﻌﺼﻴﺔ ﻭﻳﻌﺘﺒﺮ ﻓﺎﻋﻠﻬﺎ ﺁﺛﻤﺎ‎ ‎ﻭﻓﺎﺳﻘﺎ. ﻭﺍﻟﻔﺎﺳﻖ ﺗﻜﺮﻩ ﺇﻣﺎﻣﺘﻪ ﻋﻨﺪ‎ ‎ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ، ﻭﻫﻮ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻋﻨﺪ‎ ‎ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ. ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ، ﻭﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻓﻲ‎ ‎ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺃﺧﺮﻯ، ﺑﺒﻄﻼﻥ ﺇﻣﺎﻣﺔ ﺍﻟﻔﺎﺳﻖ

Lelaki yang meniru gaya wanita, meniru gerakannya, meniru gemulai suaranya, dan sengaja berlenggak-lenggok, merupakan perbuatan tercela dan kemaksiatan. Pelakunya tergolong orang fasik. Sementara orang fasik, makruh menjadi imam menurut Hanafiyah, Syafiiyah, dan salah satu riwayat dalam Malikiyah. Sementara Hambali dan salah satu riwayat dalam madzhab Malikiyah, berpendapat bahwa statusnya jadi imam itu batal. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 11/63)

– Jenis kedua, banci karena kelainan mental.

Dia fisiknya lelaki, tapi mentalnya ‘kecipratan’ karakter wanita, dan itu di luar kesengajaannya. Bicaranya gemulai, gayanya seperti wanita. Statusnya sama dengan lelaki, dan sah jadi imam.

Dinyatakan dalam Ensiklopedi Fiqh,

ﺍﻟﻤﺨﻨﺚ ﺑﺎﻟﺨﻠﻘﺔ، ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ‎ ‎ﻛﻼﻣﻪ ﻟﻴﻦ ﻭﻓﻲ ﺃﻋﻀﺎﺋﻪ ﺗﻜﺴﺮ ﺧﻠﻘﺔ،‏‎ ‎ﻭﻟﻢ ﻳﺸﺘﻬﺮ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻷﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﺮﺩﻳﺌﺔ ﻻ‎ ‎ﻳﻌﺘﺒﺮ ﻓﺎﺳﻘﺎ، ﻭﻻ ﻳﺪﺧﻠﻪ ﺍﻟﺬﻡ ﻭﺍﻟﻠﻌﻨﺔ‎ ‎ﺍﻟﻮﺍﺭﺩﺓ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ، ﻓﺘﺼﺢ ﺇﻣﺎﻣﺘﻪ،‏‎ ‎ﻟﻜﻨﻪ ﻳﺆﻣﺮ ﺑﺘﻜﻠﻒ ﺗﺮﻛﻪ ﻭﺍﻹﺩﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ‎ ‎ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﺘﺪﺭﻳﺞ، ﻓﺈﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﻛﻪ‎ ‎ﻓﻠﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻮﻡ

Banci karena kelainan karakter, yaitu lelaki yang suaranya gemulai, dan gayanya seperti wanita sejak kecil, sementara dia tidak dikenal suka melakukan perbuatan buruk, maka dia tidak dihitung orang fasik. Tidak mendapatkan celaan dan laknat, seperti yang disebutkan dalam hadits. Sah jadi imam, namun dia diperintahkan untuk meninggalkan tradisi gaya kewanitaannya, dan berusaha mengobati dirinya secara bertahap. Jika dia tidak mampu, dia tidak dicela. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 11/62)

Demikian. Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi nur Bait (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/jika-banci-jadi-imam-shalat/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 30/06/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: