Hukum Takbiran di Selain Hari Raya

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Takbir, kalimat ’Allahu akbar’ termasuk dzikir umum yang disyariatkan untuk sering diucapkan dan sering dibaca. Sebagaimana dzikir lainnya, seperti tasbih, tahmid, atau tahlil.

Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺃَﺣَﺐُّ ﺍﻟْﻜَﻠَﺎﻡِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﺭْﺑَﻊٌ: ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ،‏‎ ‎ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ، ﻭَﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ، ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ. ﻟَﺎ‎ ‎ﻳَﻀُﺮُّﻙَ ﺑِﺄَﻳِّﻬِﻦَّ ﺑَﺪَﺃْﺕَ

Kalimat yang paling Allah cintai ada 4: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu akbar. Kamu mulai dengan kalimat manapun, tidak jadi masalah. (HR. Muslim 2137)

Artinya, kita disyariatkan merutinkan dan sering mengucapkan kalimat-kalimat di atas, dengan urutan pengucapan yang bebas. Kita bisa mengucapkan Subhanallah dulu, atau Alhamdulillah dulu, atau Allahu akbar dulu, dst.

Karena alasan inilah, sebagian ulama, diantaranya Syaikh Saud al-Ghunaifisan ketika ditanya, bolehkah sering melantunkan takbiran di luar id. Jawab beliau,

ﻫﺬﺍ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺣﺎﻝ ﺟﺎﺋﺰ ﺗﺸﻐﻴﻠﻪ. ﻫﺬﺍ‎ ‎ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺗﻜﺒﻴﺮﺍﺕ ﻋﺎﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻭﻓﻲ‎ ‎ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺷﻴﺊ ﻧﺄﺧﺬ ﺗﻜﺒﻴﺮﺍﺕ‎ ‎ﺑﺎﻟﻌﻴﺪ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ. ﻟﻮ ﻗﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ‎ ‎ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻛﺒﻴﺮﺍ‎ ‎ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻫﺬﺍ ﺗﻘﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻴﺪ‎ ‎ﻭﻏﻴﺮ ﺍﻟﻌﻴﺪ. ﻟﻜﻨﻬﺎ ﺟﺎﺀ ﻧﺼﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻓﻼ‎ ‎ﻣﺎﻧﻊ ﺃﻥ ﺗﺬﻛﺮ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ‎ ‎ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻋﻠﻢ

Memperbanyak membaca takbir secara umum boleh. Karena bentuk memperbanyak takbir secara umum, baik ketika id maupun di luar id, tidak masalah jika menggunakan takbiran id.

Misalnya seseorang melantunkan: Allahu akbar.. Allahu akbar.. Laa ilaaha illallah, wa Allahu akbar. Allahu akbar kabira wal hamdulillahi katsira.. takbir ini boleh di baca ketika id dan di luar id. Meskipun dalil tentang takbiran ini dalam id, tidak masalah jika dibaca di luar id. Allahu a’lam.

Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=oahy0LNTKdg

Yang beliau maksudkan adalah takbir dalam arti umum. Seseorang dianjurkan merutinkannya dan boleh dengan lafadz takbir apapun.

Kemudian, untuk kegiatan takbiran di hari Idul Fitri, takbiran dihentikan setelah selesai shalat Idul Fitri. Imam Ibnu Qudamah menukil keterangan Abul Khitab,

ﻳﻜﺒﺮ ﻣﻦ ﻏﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻣﻦ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻔﻄﺮ‎ ‎ﺇﻟﻰ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﻼﺓ، ﻓﻲ‎ ‎ﺇﺣﺪﻯ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺘﻴﻦ. ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ.‏‎ ‎ﻭﻓﻲ ﺍﻷﺧﺮﻯ ﺇﻟﻰ ﻓﺮﺍﻍ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻣﻦ‎ ‎ﺍﻟﺼﻼﺓ

Dianjurkan banyak bertakbiran sejak terbenamnya matahari di malam Idul Fitri, hingga imam mulai mengerjakan shalat, menurut salah satu riwayat (dari imam Ahmad). Dan ini merupakan pendapat as-Syafii. Sementara dalam keterangan yang lain, takbir dihentikan hingga selesainya imam mengerjakan shalat id. (al-Mughni, 2/274)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/hukum-takbiran-di-selain-hari-raya/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 01/07/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: