Benarkah Dilarang Mengumpat Setan?

Tanya: Saya pernah dengar, katanya kita dilarang mengumpat setan. Apa benar?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada dasarnya, yang disyariatkan bagi seorang mukmin adalah memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan, dan bukan melaknat setan. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal itu, diantaranya,

Firman Allah,

ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﻳَﻨﺰَﻏَﻨَّﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻧَﺰْﻍٌ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ‏‎ ‎ﺑِﺎﻟﻠّﻪِ ﺇِﻧَّﻪُ ﺳَﻤِﻴﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ

Jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Fushilat: 36)

Allah juga berfirman, memerintahkan kita untuk berdoa,

ﻭَﻗُﻞ ﺭَّﺏِّ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻫَﻤَﺰَﺍﺕِ‏‎ ‎ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ* ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﺭَﺏِّ ﺃَﻥ ﻳَﺤْﻀُﺮُﻭﻥِ

Katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku (QS. al-Mukminun: 97–98)

Karena itulah, ketika ada yang menggaggu dalam shalat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan agar kita memohon perlindungan dari setan, dan bukan mengumpat setan.

Dari Utsman bin Abil ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu kekhusyuan shalatku, hingga aku lupa terhadap apa yang aku baca.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺫَﺍﻙَ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻪُ ﺧِﻨْﺰِﺏٌ ﻓَﺈِﺫَﺍ‎ ‎ﺃَﺣْﺴَﺴْﺘَﻪُ ﻓَﺘَﻌَﻮَّﺫْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﺍﺗْﻔِﻞْ ﻋَﻠَﻰ‎ ‎ﻳَﺴَﺎﺭِﻙَ ﺛَﻼَﺛًﺎ

Itu setan namanya Khinzib. Jika kamu merasa diganggu, mintalah perlindungan kepada Allah darinya, dan meludah ringan ke kiri 3 kali.

Kata Utsman, “Aku pun lakukan saran itu, lalu Allah menghilangkan gangguannya dariku.” (HR. Muslim 5868)

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang hukum mencela setan. Jawaban beliau,

ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻟﻢ ﻳﺆﻣﺮ ﺑﻠﻌﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ، ﻭﺇﻧﻤﺎ‎ ‎ﺃﻣﺮ ﺑﺎﻻﺳﺘﻌﺎﺫﺓ ﻣﻨﻪ؛ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ:‏‎ ‎ﻭﺇﻣﺎ ﻳﻨﺰﻏﻨﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻧﺰﻍ ﻓﺎﺳﺘﻌﺬ‎ ‎ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺇﻧﻪ ﺳﻤﻴﻊ ﻋﻠﻴﻢ

Manusia tidak diperintahkan untuk mencela setan. Namun mereka diperintahkan untuk memohon perlindungan dari setan. Sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), “Jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 3/125)

Kemudian, di sana terdapat larangan khusus mencela setan ketika terjadi kecelakaan.

Salah seorang sahabat pernah membonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ontanya terjatuh. Sahabat ini langsung mengatakan, “Ta’isa as-Syaithan (celaka setan).” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

ﻻَ ﺗَﻘُﻞْ ﺗَﻌِﺲَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﺇِﺫَﺍ ﻗُﻠْﺖَ‏‎ ‎ﺫَﻟِﻚَ ﺗَﻌَﺎﻇَﻢَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻣِﺜْﻞَ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖِ‏‎ ‎ﻭَﻳَﻘُﻮﻝَ ﺑِﻘُﻮَّﺗِﻰ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻗُﻞْ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ‏‎ ‎ﺇِﺫَﺍ ﻗُﻠْﺖَ ﺫَﻟِﻚَ ﺗَﺼَﺎﻏَﺮَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻣِﺜْﻞَ‏‎ ‎ﺍﻟﺬُّﺑَﺎﺏِ

Jangan kamu mengucapkan ‘celaka setan’. Karena ketika kamu mengucapkan kalimat itu, maka setan akan membesar, hingga dia seperti seukuran rumah. Setan akan membanggakan dirinya, ‘Dia jatuh karena kekuatanku.’ Namun ucapkanlah, ‘Bismillah…’ karena jika kamu mengucapkan kalimat ini, setan akan mengecil, hingga seperti lalat. (HR. Ahmad 21133, Abu Daud 4984, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

At-Thahawi menjelaskan hadits ini,

ﻧﻬﺎﻩ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ‎ ‎ﻷﻧﻪ ﺑﺬﻟﻚ ﻣﻮﻗﻊ ﻟﻠﺸﻴﻄﺎﻥ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻔﻌﻞ‎ ‎ﻛﺎﻥ ﻣﻨﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻨﻪ، ﺇﻧﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎‏، ﻭﺃﻣﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻣﻜﺎﻥ ﺫﻟﻚ: ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ -‏‎ ‎ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻣﻨﻪ‎ ‎ﻋﻨﺪﻩ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻓﻌﻞ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal itu, karena ucapan itu akan membuat setan bangga, dia menyangka kecelakaan itu disebabkan diri setan, padahal sejatinya bukan darinya. Namun datang dari Allah. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menggantinya dengan ucapan ‘Bismillah..’ sehingga setan tidak mengganggap bahwa kecelakaan itu darinya dan dia memiliki peran dengannya. (Musykil al-Atsar, 1/346)

Dalil Bolehnya Melaknat Setan

Berdasarkan keterangan di atas, yang seharusnya kita jadikan tradisi dan kebiasaan adalah berdoa kepada Allah, memohon perlindungan dari kejahatan setan, dan lebih sering membaca basmalah ketika terjadi kecelakaan.

Hanya saja, terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya mencela setan. Diantaranya, firman Allah ketika mengusir Iblis dari surga,

ﻓَﺎﺧْﺮُﺝْ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﺭَﺟِﻴﻢٌ* ﻭَﺇِﻥَّ ﻋَﻠَﻴْﻚَ‏‎ ‎ﺍﻟﻠَّﻌْﻨَﺔَ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ

Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat. (QS. al-Hijr: 34–35)

Kemudian dalam hadits dari Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu,

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami shalat, tiba-tiba kami mendengar beliau mengatakan,

ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻨْﻚَ

‘Aku berlindung kepada Allah darimu.’

Lalu beliau mengucapkan,

ﺃَﻟْﻌَﻨُﻚَ ﺑِﻠَﻌْﻨَﺔِ ﺍﻟﻠَّﻪِ

“Aku melaknatmu dengan laknat Allah.” Beliau ucapkan 3 kali.

Seusai shalat, para sahabat merasa heran dan bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jawab beliau,

ﺇِﻥَّ ﻋَﺪُﻭَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﺑْﻠِﻴﺲَ ﺟَﺎﺀَ ﺑِﺸِﻬَﺎﺏٍ ﻣِﻦْ ﻧَﺎﺭٍ‏‎ ‎ﻟِﻴَﺠْﻌَﻠَﻪُ ﻓِﻰ ﻭَﺟْﻬِﻰ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ‏‎ ‎ﻣِﻨْﻚَ. ﺛَﻼَﺙَ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ ﺛُﻢَّ ﻗُﻠْﺖُ ﺃَﻟْﻌَﻨُﻚَ ﺑِﻠَﻌْﻨَﺔِ‏‎ ‎ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺘَّﺎﻣَّﺔِ

Sesungguhnya Iblis, si musuh Allah, datang dengan membawa api yang mau dilemparkan ke wajahku. Lalu aku mengucapkan, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu.’ Sebanyak tiga kali. Kemudian aku ucapkan lagi, “Aku melaknatmu dengan laknat Allah yang sempurna.” (HR. Muslim 1239 dan Nasai 1223)

Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung melaknat Iblis ketika dia ingin membakar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, hadits-hadits ini dijadikan dalil bolehnya melaknat setan untuk selain kasus kecelakaan, dan jangan lupa agar diiringi dengan membaca ta’awudz. Dalam Fatwa Lajnah Daimah dinyatakan, setelah menyebutkan dalil bolehnya melaknat setan,

ﻭﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﻠﻌﻦ‎ ‎ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺗﻌﺮﺽ ﻟﻪ ﻟﻴﻀﺮﻩ ﺃﻭ‎ ‎ﺟﺎﻫﺪﻩ ﻭﻭﺳﻮﺱ ﻟﻪ ﻟﻴﻔﺘﻨﻪ ﻋﻦ ﻃﺎﻋﺔ‎ ‎ﺍﻟﻠﻪ، ﻟﻜﻦ ﻻ ﻳﺘﺮﻙ ﺍﻟﺘﻌﻮﺫ ﻣﻨﻪ ﺑﺎﻟﻠﻪ،‏‎ ‎ﻭﺍﻹﻛﺜﺎﺭ ﻣﻦ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻗﻮﻝ: ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻷﺫﻛﺎﺭ ﻭﺍﻷﺩﻋﻴﺔ‎ ‎ﺍﻟﻤﺸﺮﻭﻋﺔ، ﻟﻴﺘﺤﺼﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ‎ ‎ﺷﺮﻩ، ﻭﻋﻤﻼً ﺑﺎﻵﻳﺎﺕ ﻭﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﺔ،‏‎ ‎ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻌﻦ‎ ‎ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺩﻳﺪﻧﻪ ﺑﺪﻭﻥ ﺳﺒﺐ، ﺍﻗﺘﺪﺍﺀ‎ ‎ﺑﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Oleh karna itu, seseorang boleh melaknat setan, terutama ketika dia datang untuk menggodanya dan membisikkan was-was kepadanya, agar dia meninggalkan ketaatan kepada Allah. Hanya saja, dia tidak meninggalkan ta’awudz, memohon perlindungan kepada Allah, banyak berdzikir kepada Allah, dan mengucapkan: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, atau dzikir dan doa lainnya. Agar seorang muslim mendapat perlindungan Allah dari kejahatan setan, dan sekaligus menerapkan ayat dan hadits-hadits yang mengajarkan ta’awudz. Selayaknya seseorang tidak menjadikan kalimat laknat untuk setan sebagai kebiasaannya tanpa sebab. Dalam rangka meniru sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Fatwa Lajnah Daimah, no. 19753)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/tidak-boleh-mengumpat-setan/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 17/07/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: