Fatwa Nyeleneh Syi’ah: Membolehkan Wanita Menjadi Pelacur

Kebobrokan agama syahwat Syi’ah kian hari kian nyata terbukti. Kaum muslimin bahkan tanpa susah payah mencari-cari aib mereka karena mereka sendirilah yang terang-terangan menunjukkan kebejatan di hadapan kita semua.

Pelacuran yang dianggap profesi nista oleh seluruh kaum beragama justru ditumbuhsuburkan oleh sekte sesat ini dengan kedok pernikahan mut’ah. Mereka malah menyemangati gadis-gadis mereka untuk terjun ke dunia prostitusi dengan iming-iming pahala. Inilah buktinya,

Ajudan Ayatullah al-’Amili membacakan surat tertulis:

Pertanyaan:

Nama saya Muna Abdul Ridha, pertanyaanku adalah: Dapatkah saya memberi tarif harga pada setiap bagian tubuh saya untuk dimut’ah oleh laki-laki?

Jawab Ayatullah al-’Amili:

Tidak diragukan wahai saudariku yang mulia, ini adalah hak anda, dan nikah mut’ah adalah rantaian ijab dan qabul. Sebagaimana seorang laki-laki menyewa rumah atau mobil atau himar-nya maka anda juga demikian, kamu mempunyai hak untuk menyewakan bagian tubuh kamu, semua tubuh kamu atau sebagian tubuh kamu, dengan demikian laki-laki bisa bersenang-senang dengan kamu dari bagian tubuh yang kamu sewakan.

Ayatullah al-Udzhma Sayyid as-Sistani -qabbahallaahu wajhahu- ditanya:

Pertanyaan:

Apakah boleh nikah mut’ah dijadikan sebagai profesi oleh para wanita dan gadis dengan batas-batas yang layak sebagai penunjang kehidupan dan pekerjaan mereka melalui nikah mut’ah???

Jawab:

Boleh.

Mereka juga membolehkan seorang laki-laki berzina dengan pelacur.

Ayatullah al-Udzhma al-Imam ar-Rohani -qabbahallaahu wajhahu- ditanya:

Pertanyaan:

Suatu hari saya pergi ke night club, kemudian ada seorang pelacur meminta kepada saya uang sebesar 100 USD, dan saya pun memberikannya. Kemudian ia berkata kepada saya: “Saya mut’ahkan tubuh saya seluruhnya sebagai balasan atas uang ini. Namun hanya untuk sehari saja.” Apakah hal itu dapat dinilai sebagai nikah mut’ah?

Jawab Ayatullah al Uzhma al Imam ar Rohani:

Dengan nama-Nya yang Mulia,

Jika yang dia katakan itu dengan tujuan untuk menjalin perkawinan, dan engkau kemudian berkata kepadanya setelah dia berkata seperti: “Aku terima akadnya seperti itu”, maka itu berarti telah terjadi perkawinan mut’ah.

Mereka pun menganggap ringan dosa perzinaan.

Pertanyaan:

Nama saya Zainab Abdul Husein, saya menikah dengan teman saya satu universitas dengan pernikahan mut’ah dalam batas waktu satu jam. Lalu kami masuk ke kamar asrama pelajar, tetapi waktu mengambil kami, di tengah-tengah kami melakukan jima’ batas waktu mut’ah sudah selesai, ketika kami selesai memenuhi keinginan kami masih meneruskan hubungan seks, apakah kami dihukumi zina?

Jawab Ayatullah Al-Udzma Al-‘Amili:

Sesungguhnya kebaikan itu dapat menghapus keburukan, menerimanya kamu terhadap mut’ah adalah merupakan kewajiban yang sangat besar, dan meneruskan hubungan seks setelah habis masa waktu yang telah dibatasi walau itu perbuatan buruk namun itu masih kesalahan ringan.

Itulah beberapa fatawa yang dikemukan oleh “Ulama’” Syi’ah. Dari beberapa fatawa di atas, anda bisa menilai dan menimbang ajaran Syi’ah. Apakah ajaran Syi’ah adalah ajaran yang dibawa oleh suri tauladan kita sepanjang zaman, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah ajaran Syi’ah ini memang dibawa oleh orang-orang yang sebenarnya ingin menghancurkan Islam???

Sumber: https://dakwahwaljihad.wordpress.com/2011/02/16/fatawa-ulama-syiah-tentang-nikah-mutah/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 30/07/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: