Apakah Khawarij Kafir?

Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini yang secara umum terbagi menjadi dua pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat tentang kekafirannya berdasarkan dhahir hadits:

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻣُﻮﺳَﻰ ﺑْﻦُ ﺇِﺳْﻤَﺎﻋِﻴﻞَ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ‏‎ ‎ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪِ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺍﻟﺸَّﻴْﺒَﺎﻧِﻲُّ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻳُﺴَﻴْﺮُ ﺑْﻦُ‏‎ ‎ﻋَﻤْﺮٍﻭ، ﻗَﺎﻝَ، ﻗُﻠْﺖُ ﻟِﺴَﻬْﻞِ ﺑْﻦِ ﺣُﻨَﻴْﻒٍ: ﻫَﻞْ‏‎ ‎ﺳَﻤِﻌْﺖَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ‏‎ ‎ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺨَﻮَﺍﺭِﺝِ ﺷَﻴْﺌًﺎ؟، ﻗَﺎﻝَ: ﺳَﻤِﻌْﺘُﻪُ‏‎ ‎ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻭَﺃَﻫْﻮَﻯ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻗِﺒَﻞَ ﺍﻟْﻌِﺮَﺍﻕِ” :‏‎ ‎ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻣِﻨْﻪُ ﻗَﻮْﻡٌ ﻳَﻘْﺮَﺀُﻭﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻟَﺎ‎ ‎ﻳُﺠَﺎﻭِﺯُ ﺗَﺮَﺍﻗِﻴَﻬُﻢْ، ﻳَﻤْﺮُﻗُﻮﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ‏‎ ‎ﻣُﺮُﻭﻕَ ﺍﻟﺴَّﻬْﻢِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﻣِﻴَّﺔِ ”

Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Waahid: Telah menceritakan kepada kami Asy-Syaibaaniy: Telah menceritakan kepada kami Yusair bin ‘Amru, ia berkata: Aku berkata kepada Sahl bin Hunaif: “Apakah engkau pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda sesuatu tentang Khawarij?” Ia menjawab: “Aku pernah mendengar beliau bersabda sambil mengarahkan tangannya ke ‘Iraaq: ‘Akan keluar darinya satu kaum yang membaca Al-Qur’aan namun tidak melebihi/melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya’.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6934)

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﻔَّﺎﻥُ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺳُﻠَﻴْﻤَﺎﻥُ ﺑْﻦُ‏‎ ‎ﺍﻟْﻤُﻐِﻴﺮَﺓِ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺣُﻤَﻴْﺪٌ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ‏‎ ‎ﺑْﻦُ ﺍﻟﺼَّﺎﻣِﺖِ، ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺫَﺭٍّ، ﻗَﺎﻝَ: ﻗَﺎﻝَ‏‎ ‎ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ” : ﺇِﻥَّ‏‎ ‎ﺑَﻌْﺪِﻱ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﻳَﻘْﺮَﺀُﻭﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ‏‎ ‎ﻟَﺎ ﻳُﺠَﺎﻭِﺯُ ﺣَﻠَﺎﻗِﻴﻤَﻬُﻢْ ﻳَﺨْﺮُﺟُﻮﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ‏‎ ‎ﻛَﻤَﺎ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﺍﻟﺴَّﻬْﻢُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﻣِﻴَّﺔِ، ﺛُﻢَّ ﻟَﺎ‎ ‎ﻳَﻌُﻮﺩُﻭﻥَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ، ﺷَﺮُّ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖِ ﻭَﺍﻟْﺨَﻠِﻴﻘَﺔِ ”

Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan: Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Al-Mughiirah: Telah menceritakan kepada kami Humaid: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ash-Shaamit, dari Abu Dzarr, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya sepeninggalku nanti ada satu kaum dari kalangan umatku yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya, yang kemudian ia tidak kembali padanya (agama). Seburuk-buruk makhluk dan ciptaan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad, 5/31; shahih)

Inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah dalam beberapa fatwanya, di antaranya adalah jawaban beliau ketika ditanya hukum tidak menshalatkan ahli bid’ah:

ﺇﺫﺍ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺘﻨﻔﻴﺮ‎ ‎ﻣﻦ ﻋﻤﻠﻬﻢ ﻓﻬﻮ ﻣﻨﺎﺳﺐ؛ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ‎ ‎ﺑﺪﻋﺘﻬﻢ ﻻ ﺗﻮﺟﺐ ﺍﻟﺘﻜﻔﻴﺮ، ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ‎ ‎ﺑﺪﻋﺘﻬﻢ ﻣﻜﻔﺮﺓ ﻛﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﺨﻮﺍﺭﺝ‎ ‎ﻭﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ ﻓﻼ ﻳﺼﻠﻰ ﻋﻠﻴﻬﻢ

“Apabila ahli ilmu meninggalkannya dalam rangka menjauhkan dari perbuatan (bid’ah) mereka, maka ini sesuai, jika bid’ah mereka tidak mengkonsekuensikan pengkafiran. Namun jika bid’ah mereka termasuk bid’ah yang mengkafirkan pelakunya seperti bid’ahnya Khawaarij, Mu’tazilah, dan Jahmiyyah, maka tidak boleh menshalati mereka.” (Majmuu’ Al-Fataawaa wal-Maqaalaat, 13/165)

Beberapa ulama sebelum Ibnu Baaz yang juga mengkafirkan kelompok Khawaarij adalah Al-Bukhaariy, Al-Qaadliy ‘Iyaadl, Ibnul-‘Arabiy, As-Subkiy, dan yang lainnya.

Ulama lain berpendapat kelompok Khawaarij tidak dikafirkan. Inilah pendapat jumhur ulama. Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

ﻭَﺫَﻫَﺐَ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺃَﻫْﻞ ﺍﻟْﺄُﺻُﻮﻝ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞ‎ ‎ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﺨَﻮَﺍﺭِﺝ ﻓُﺴَّﺎﻕ ﻭَﺃَﻥَّ‏‎ ‎ﺣُﻜْﻢ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡ ﻳَﺠْﺮِﻱ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻟِﺘَﻠَﻔُّﻈِﻬِﻢْ‏‎ ‎ﺑِﺎﻟﺸَّﻬَﺎﺩَﺗَﻴْﻦِ ﻭَﻣُﻮَﺍﻇَﺒَﺘِﻬِﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺭْﻛَﺎﻥ‎ ‎ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡ ، ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻓُﺴِّﻘُﻮﺍ ﺑِﺘَﻜْﻔِﻴﺮِﻫِﻢْ‏‎ ‎ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻣُﺴْﺘَﻨِﺪِﻳﻦَ ﺇِﻟَﻰ ﺗَﺄْﻭِﻳﻞ ﻓَﺎﺳِﺪ‎ ‎ﻭَﺟَﺮَّﻫُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﺇِﻟَﻰ ﺍِﺳْﺘِﺒَﺎﺣَﺔ ﺩِﻣَﺎﺀ‎ ‎ﻣُﺨَﺎﻟِﻔِﻴﻬِﻢْ ﻭَﺃَﻣْﻮَﺍﻟﻬﻢْ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﺎﺩَﺓ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ‏‎ ‎ﺑِﺎﻟْﻜُﻔْﺮِ ﻭَﺍﻟﺸِّﺮْﻙ

“Kebanyakan ahli ushul dari kalangan Ahlus-Sunnah berpendapat bahwasannya Khawaarij itu adalah fasiq dan hukum Islam (muslim) berlaku pada mereka karena dua kalimat syahadat yang mereka ucapkan dan rukun-rukun Islam yang mereka lakukan. Mereka difasikkan hanyalah karena pengkafiran mereka terhadap kaum muslimin dengan bersandar pada ta’wil fasid (rusak); sehingga menyebabkan mereka menghalalkan darah dan harta orang-orang yang menyelisihi mereka, serta mempersaksikannya dengan kekufuran dan
kesyirikan.” (Fathul-Baariy, 12/300)

Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata:

ﺍﻟْﺨَﻮَﺍﺭِﺝُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻜَﻔِّﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟﺬَّﻧْﺐِ ،‏‎ ‎ﻭَﻳُﻜَﻔِّﺮُﻭﻥَ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ ﻭَﻋَﻠِﻴًّﺎ ﻭَﻃَﻠْﺤَﺔَ‏‎ ‎ﻭَﺍﻟﺰُّﺑَﻴْﺮَ ، ﻭَﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻣِﻦْ‏‎ ‎ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ ،ﻭَﻳَﺴْﺘَﺤِﻠُّﻮﻥَ ﺩِﻣَﺎﺀَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ،‏‎ ‎ﻭَﺃَﻣْﻮَﺍﻟَﻬُﻢْ ، ﺇﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﺧَﺮَﺟَﻤَﻌَﻬُﻢْ ، ﻓَﻈَﺎﻫِﺮُ‏‎ ‎ﻗَﻮْﻝِ ﺍﻟْﻔُﻘَﻬَﺎﺀِ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻨَﺎ ﺍﻟْﻤُﺘَﺄَﺧِّﺮِﻳﻦَ‏‎ ‎ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﺑُﻐَﺎﺓٌ ، ﺣُﻜْﻤُﻬُﻢْ ﺣُﻜْﻤُﻬُﻢْ. ﻭَﻫَﺬَﺍ‎ ‎ﻗَﻮْﻝُ ﺃَﺑِﻲ ﺣَﻨِﻴﻔَﺔَ ، ﻭَﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ ، ﻭَﺟُﻤْﻬُﻮﺭِ‏‎ ‎ﺍﻟْﻔُﻘَﻬَﺎﺀِ ،ﻭَﻛَﺜِﻴﺮٍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ

“Khawaarij yang mengkafirkan dengan sebab dosa besar, mengkafirkan ‘Utsmaan, ‘Aliy, Thalhah, Az-Zubair, dan banyak orang dari kalangan shahabat, serta menghalalkan darah dan harta kaum muslimin kecuali orang yang keluar bersama mereka; maka yang dhahir pendapat para fuqahaa’ dan shahabat-shahabat kami belakangan menyatakan mereka itu bughat (pembangkang). Hukum mereka (Khawaarij) adalah hukum bughat (tidak kafir). Ini adalah pendapat Abu Haniifah, Asy-Syaafi’iy, jumhur fuqahaa’, dan banyak ulama dari kalangan ahli hadits.” (Al-Mughniy, 8/106)

Asy-Syaikh Shaalih bin ‘Abdil-‘Aziiz Aalusy-Syaikh hafidhahullah pernah ditanya: ‘Apakah Khawaarij itu kafir?’, maka beliau menjawab:

ﻟﻴﺴﻮﺍ ﺑﻜﻔﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ، ﺑﻞ ﻛﻤﺎ‎ ‎ﻗﺎﻝ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ: ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮ‎ ‎ﻓﺮﻭﺍ” ﻭﻗﻮﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ‎ ‎ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ: )ﻳﻤﺮﻗﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻛﻤﺎ‎ ‎ﻳﻤﺮﻕ ﺍﻟﺴﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﻣﻴﺔ ( ﻻ ﻳﻌﻨﻰ ﺑﻪ‎ ‎ﺃﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﻌﻨﻰ ﺑﻪ ﺃﻛﺜﺮ‎ ‎ﺍﻟﺪﻳﻦ

“Mereka bukanlah kafir menurut pendapat yang benar. Akan tetapi sebagaimana perkataan ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu: ‘Mereka lari dari kekafiran’. Adapun sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ‘Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya’; bukanlah yang dimaksudkan dengannya (keluar dari) pokok agama, namun yang dimaksudkan dengannya adalah (keluar dari) kebanyakan perkara agama.” (Al-Ajwibah Al-Ushuuliyyah ‘alal-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah – Free Program from islamspirit)

Apa yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Shaalih Alusy-Syaikh tentang atsar ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu adalah sebagaimana berikut:

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ، ﺛَﻨَﺎ ﻣُﻔَﻀَّﻞُ ﺑْﻦُ‏‎ ‎ﻣُﻬَﻠْﻬِﻞٍ، ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸَّﻴْﺒَﺎﻧِﻲِّ، ﻋَﻦْ ﻗَﻴْﺲِ ﺑْﻦِ‏‎ ‎ﻣُﺴْﻠِﻢٍ، ﻋَﻦْ ﻃَﺎﺭِﻕِ ﺑْﻦِ ﺷِﻬَﺎﺏٍ، ﻗَﺎﻝَ:‏‎ ‎ﻛُﻨْﺖُ ﻋِﻨْﺪَ ﻋَﻠِﻲٍّ، ﻓَﺴُﺌِﻞَ ﻋَﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﻬْﺮِ‏‎ ‎ﺃَﻫُﻢْ ﻣُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ؟ ﻗَﺎﻝَ” : ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙِ‏‎ ‎ﻓَﺮُّﻭﺍ “، ﻗِﻴﻞَ: ﻓَﻤُﻨَﺎﻓِﻘُﻮﻥَ ﻫُﻢْ؟ ﻗَﺎﻝَ” :‏‎ ‎ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﻟَﺎ ﻳَﺬْﻛُﺮُﻭﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ “،‏‎ ‎ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻪُ: ﻓَﻤَﺎ ﻫُﻢْ؟ ﻗَﺎﻝَ” : ﻗَﻮْﻡٌ ﺑَﻐَﻮْﺍ‎ ‎ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ”

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Aadam: Telah menceritakan kepada kami Mufadldlal bin Muhalhil, dari Asy-Syaibaaniy, dari Qais bin Muslim, dari Thaariq bin Syihaab, ia berkata: Aku pernah berada di sisi ‘Aliy, dan ditanyakan kepadanya tentang orang-orang Nahrawaan (Khawaarij), apakah mereka itu orang-orang musyrik? ‘Aliy menjawab: “Mereka lari dari kesyirikan.”

Dikatakan: “Apakah mereka termasuk orang-orang munafik?” Ia berkata: “Sesungguhnya orang-orang menuafik tidaklah berdzikir kepada Allah kecuali sedikit saja.”

Dikatakan kepadanya: “Lalu termasuk apakah mereka ini?” Ia menjawab: “Orang yang bertindak aniaya terhadap kami.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 15/332; shahih)

Yang raajih dalam permasalahan ini –wallaahu a’lam- adalah pendapat jumhur ulama karena itulah yang disepakati para shahabat. Selain atsar ‘Aliy di atas, yang menunjukkan para shahabat tidak mengkafirkan Khawaarij adalah bahwasannya mereka tetap shalat di belakang mereka (Khawaarij) sebagaimana yang dilakukan Ibnu ‘Umar dan yang lainnya radliyallaahu ‘anhum yang bermakmum di belakang Najdah Al-Haruuriy. (Minhaajus-Sunnah, 5/247). Adapun nash keluarnya Khaawarij dari Islam dapat dita’wilkan sebagaimana penjelasan Asy-Syaikh Shaalih Alusy-Syaikh hafidhahullah di atas. Wallaahu a’lam.

Semoga ada manfaatnya.

[abul-jauzaa’ – ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor]

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.in/2012/03/apakah-khawaarij-kafir.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 08/08/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: