Apa Itu At-Tathayyur?

Pengertian Ath-Tathayyur

“At-Tathayyur” secara bahasa, adalah mashdar dari (kata) – ‎تَطَيَّرَ – (Tathayyara)- asal mulanya diambil dari kata – ‎الطَّيْرُ – (Ath-Thairu) (yang berarti burung), karena bangsa Arab (sebelum datangnya Islam [1]) menentukan nasib sial dan nasib baik dengan menggunakan burung-burung, melalui cara yang telah mereka ketahui, yaitu dengan melepaskan seekor burung, kemudian dilihat apakah burung tersebut terbang ke kanan, ke kiri, ataukah terbang ke arah yang mendekati (kanan atau kiri). Jika (burung tersebut) terbang ke arah kanan dia pun berangkat (maju), (dan jika) terbang ke arah kiri, maka dia pun mundur (menahan diri untuk berangkat).

Adapun (“At-Tathayyur”) dalam istilah (syari’at) adalah merasa bernasib sial disebabkan karena sesuatu yang dilihat atau didengar, atau karena sesuatu yang diketahui (selain dari yang dilihat atau didengar). [2]

Beberapa Contohnya

Berikut ini beberapa contoh “At-Tathayyur” berdasarkan beberapa sebabnya:

1. Karena sesuatu yang dilihat [3]
Misal: Seseorang melihat seekor burung, kemudian dia merasa dirinya akan mendapatkan kesialan karena (menurut anggapannya) burung tersebut membawa sial.

2. Karena sesuatu yang didengar
Misal: Seseorang telah berniat (melakukan) sebuah urusan, lalu dia mendengar seseorang mengatakan kepada orang lain (selain dirinya): “Hai si Rugi” atau “Wahai Orang Gagal” [4], kemudian dia merasa akan bernasib sial (mendapatkan kerugian atau kegagalan karena omongan orang tadi).

3. Karena sesuatu yang diketahui
Misal: Merasa sial dengan beberapa hari tertentu, bulan-bulan tertentu, atau tahun-tahun tertentu.

Contoh yang (ketiga) ini adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat dan tidak bisa didengar. [5]

Bahaya At-Tathayyur

“At-Tathayyur” dapat meniadakan “At-Tauhid” dari dua sisi:

1. Pelaku “At-Tathayyur” telah menghilangkan tawakkalnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta bersandar kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu-satunya tempat bergantung. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ikhlas ayat ke-2 (yang artinya):

“Allah adalah Rabb yang bergantung kepadanya segala sesuatu.” (Al-Ikhlas: 2)

Dan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيــــهِ

“Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah (hanya) kepada-Nya.” (Hud: 123)

2. Pelaku “At-Tathayyur” sesungguhnya bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakekatnya, bahkan hal itu hanya sebuah dugaan dan khayalannya saja (yang tidak layak untuk dijadikan tempat bergantung).

Karena antara sesuatu yang dijadikan tathayyur dengan kejadian yang menimpanya tidak memiliki hubungan apa-apa (terkhusus hubungan sebab akibat). Bagaimana bisa belok kanannya burung menjadi penentu nasib baiknya seseorang, Hal ini jelas dapat merusak Tauhid seseorang, karena dapat memalingkan tawakkal kita kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ketika umat Islam di tuntut untuk beribadah dan beristi’anah (meminta pertolongan) hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (Al-Fatihah: 4)

Dan kita pun dituntut untuk bertawakkal hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, sebagaimana disebutkan pada surat Hud ayat ke-123 di atas.

Sehingga Tawakkal adalah sebuah ibadah yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [6]

Perbuatan “At-Tathayyur” atau “Ath-Thiyarah” [7] haram untuk dilakukan, karena termasuk perbuatan syirik, sehingga dapat menghilangkan Tauhid seorang Muslim. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

الطِّيَارَةُ شِرْكٌ ـ الطِّيَارَةُ‏‎ ‎شِرْكٌ ) ثلاثا )

“Ath-Thiyarah adalah kesyirikan, ath-thiyarah adalah kesyirikan (3 kali).” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan selain mereka) [8]

Cara Menghilangkan At-Tathayyur

Sebagaimana dijelaskan oleh Shahabat yang mulia ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dalam kelanjutan riwayat hadits di atas, bahwa “At-Tathayyur” atau “Ath-Thiyarah” dapat dihilangkan dengan “Tawakkal” kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja. Bergantung hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam rangka mendapatkan manfaat atau menolak mudharat, serta mengiringinya dengan usaha.

Sehingga apapun yang menimpa kita baik berupa kesenangan, kesedihan, musibah, dan yang lainnya, kita yakini bahwa itu semua merupakan kehendak-Nya yang penuh dengan keadilan dan hikmah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada kita (umat Islam) sebuah do’a:

اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ‏‎ ‎خَيْرُكَ وَ لاَ طَيْرَ إِلاَّ‏‎ ‎طَيْرُكَ وَ لاَ إِلهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tidaklah kebaikan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidaklah kesialan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (HR. Ahmad) [9]

Dengan mengetahui perkara tersebut, kita berharap bisa lebih berhati-hati dalam menyikapi suatu keyakinan-keyakinan yang tidak bersumber dari Al-Qur ’an maupun Al-Hadits,

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjauhkan kita dari perbuatan dan keyakinan syirik. Amiin

Wallahu A ’lamu bish-shawab.

Penulis: Abu Muhammad Abdul Hadi

Catatan Kaki:

[1] Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa di jaman ini masih ada orang yang memiliki keyakinan tersebut.

[2] Diringkas dari kitab “Al-Qaulul Mufid”, Bab: “Ma Ja-a fit-Tathayyur”, hal. 348, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.

[3] Sesuatu yang dilihat itu bisa berupa binatang, seperti: burung, cicak, ular, dan lain sebagainya, atau selain binatang seperti: bintang, komet, pohon dan lain sebagainya.

[4] Atau istilah lain yang menunjukkan kerugian dan kegagalan, seperti: “Wahai si Bangkrut”, dan lain sebagainya.

[5] Lihat catatan kaki no. 2.

[6] Lihat catatan kaki no. 2.

[7] “Ath-Thiyarah” adalah isim mashdar dari “At-Tathayyur”, maknanya sama.

[8] HR. Abu Dawud no.3910 , At-Tirmidzi no.1614, Ibnu Majah no.3538, Ahmad no.3687, 4194 , Ibnu Hibban no.6122 , Al-Hakim no.43 (1/64) dan yang lainnya. Al-Maktabah Asy-Syamilah 1.

[9] HR. Ahmad no.7045 , Al-Maktabah Asy-Syamilah 1.

Daftar Pustaka:
– Al-Qaulul Mufid, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah
– Al-Maktabah Asy Syamilah 1 dan 2

Sumber: http://buletinassalaf.wordpress.com/2009/02/20/benarkah-bulan-shafar-bulan-sial/

About these ads

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 08/02/2011, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. ijin ngopi, bukan untuk komersil kok, cuma buat pembelajaran, tp ana cantumkan dari blog antum

  2. gan izin ngopi gan. Thax ilmunya. :)

  3. Bismillaah,,,
    afwan akhi, teks arabnya terbalik dan bertukar tempat. Mgkn bisa diedit kembali. Baarokallaahufiikum.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.284 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: